
Mendengar suara acuh tak acuh habib Khalid saat berbicara tadi langsung membuat Aish terdiam. Katanya habib Khalid, dia memiliki beberapa kesalahan tapi dia merasa bahwa dirinya tidak pernah membuat kesalahan apapun- ah, iya mungkin tentang panggilan itu. Tapi kan itu juga salah habib Khalid yang tiba-tiba pulang membawa seorang wanita asing setelah 1 bulan menghilang tanpa kabar. Parahnya lagi wanita itu dirumorkan sebagai calon istrinya. Jadi Aish pasti langsung marah ketika mendengar berita itu. Logika saja, wanita manapun pasti tidak akan bisa berpikir jernih dan menjaga kecemburuannya dari orang yang dicintai ketika melihat ada wanita lain di sampingnya.
Aish sangat cemburu tapi habib Khalid tidak peka. Eh, kalaupun peka habib Khalid kayaknya tidak memberikan reaksi banyak karena mereka berdua tidak memiliki hubungan apa-apa. Untuk apa dia menjaga perasaan Aish?
"Ah?" Dunia tiba-tiba berputar dan kakinya yang tadinya mengambang entah sejak kapan menyentuh tanah.
Kepalaku sangat pusing dan tidak bisa melihat dengan jelas ada di mana mereka sekarang. Ketika berpijak di atas tanah kakinya tiba-tiba terasa mati rasa dan mulai hilang keseimbangan, limbung ke depan, dia hampir saja jatuh.
"Hati-hati." Suara berat dan dalam itu terdengar begitu dekat di samping telinganya.
Hangat, nafas hangat yang menyentuh cuping telinga Aish bagaikan sengatan listrik yang sangat menakutkan. Gatal dan nyaman pada saat yang sama, reaksi ini membuat kakinya lemah.
Jika habib Khalid tidak buru-buru menahan tubuhnya, maka dia pasti sudah limbung ke depan dan jatuh dengan pose cantik.
__ADS_1
"Terima kasih..." Wajah Aish merona merah seiring dengan perubahan suhu di wajahnya.
Dia sangat malu dan melepaskan tangannya dari pundak sang habib sembari berusaha menstabilkan posisi tubuhnya agar tidak goyah lagi. Dia menundukkan kepalanya menutupi reaksi tubuh yang tidak normal dari pandangan sang habib. Untungnya di sini minum cahaya sehingga sang habib tidak menyadari ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
"Apakah kamu pusing?" Tanya sang habib kepada Aish yang masih tertunduk malu.
Apakah ini hanya perasaan Aish saja? Entah mengapa dia mendengar bila ada suara sang habib tidak sekeras dan setajam beberapa saat yang lalu. Nada suaranya begitu lembut hingga membuat jantung Aish berdebar kencang.
Habib Khalid terkekeh kecil melihat betapa pemalu Aish di depannya. Dia tidak bisa menahan kedua tangannya untuk tidak menjangkau wajah Aish. Menarik jilbab panjang Aish yang kacau karena ulahnya sendiri.
Kedua tangan Aish mengepal kuat menahan rasa gugup di hatinya. Dia membayangkan banyak skenario yang akan terjadi. Mungkin saja sebuah kecupan ringan?
Tapi tidak.... Sang habib hanya memperbaiki jilbabnya yang miring. Oh, sungguh memalukan.
__ADS_1
"Apa yang kak Khalid tertawakan?" Wajah Aish rasanya kian panas saat mendengar tawa kecil sang habib.
Dirinya menduga-duga apakah sang habib telah membaca pikiran di kepalanya dan mengetahui semua pikiran konyol itu?
Membayangkannya saja membuat dia takut karena ini adalah aib yang tersembunyi yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
"Kamu sangat lucu. Aku tidak menyangka jika kamu punya sisi ini di dalam dirimu."
Aish bertanya ragu,"Sisi apa?"
Dengan senyum lebar di wajahnya, sang habib lalu menjawab,"Bodoh."
Aish langsung tidak bisa berkata apa-apa,"...." Ini sangat lucu!
__ADS_1