
Lalu nama yang digunakan sekarang adalah pemberian dari sang habib?
Mungkinkah?
"Aku... Aku sepertinya pernah bermimpi ada seorang anak laki-laki yang pernah berbicara dengan wanita dewasa. Wanita dewasa itu... Tampak samar di dalam ingatanku, tapi aku ingat dia sedang menggendong seorang bayi pada saat itu. Anak laki-laki itu berbicara dengan wanita itu, dia ingin memberikan bayi merah itu sebuah nama-"
Dert...
Panggilan masuk ke dalam ponsel sang habib. Aish segera menutup mulutnya dan berhenti bicara.
"Sebentar." Sang habib lalu berdiri berjalan agak jauh dari Aish untuk mengangkat telepon dari seseorang yang tidak diketahui oleh Aish.
Melihat sang kekasih sedang berbicara dengan orang lain di telepon, Aish tidak bersuara untuk mengganggu. Dia merasa haus. Untungnya ada air minum di dalam kamar yang masih utuh. Mungkin Umi sengaja menyiapkan air minum ini untuk sang habib. Jadi dia mengambilnya.
"Bismillah." Lalu tanpa ragu menyesap air putih di dalam gelas. Setelah puas dia lalu meletakkan sisanya di atas nakas. Kebetulan sang habib menoleh ke belakang dan melihat tindakan Aish, dia tersenyum manis dan membuat Aish tersipu.
2 menit kemudian dia kembali menghampiri Aish dengan senyuman sumringah di wajah tampannya yang tanpa cela.
"Mereka akhirnya sudah datang."
Aish terinfeksi oleh senyuman sang habib, dia tersenyum dan bertanya,"Siapa yang datang, kak?"
Mereka pasti orang penting sehingga membuat sang habib tersenyum sedemikian lebarnya.
"Rahasia. Ini untuk kamu." Katanya bermain-main.
__ADS_1
Kedua bola mata Aish melebar,"Untukku? Apakah wanita asing yang datang bersama kakak ingin bertemu denganku sekarang?"
Karena sang habib pernah mengatakan bahwa wanita itu ada hubungannya dengan dia. Wanita itu ingin bertemu dengannya untuk membicarakan beberapa hal. Aish sudah lama menunggu wanita itu mencarinya sambil menebak-nebak apa yang ingin dibicarakan oleh wanita itu.
"Dia juga termasuk, tapi masih belum datang. Tamu pertama adalah tamu yang sangat spesial buat kamu. Dia sengaja datang ke pondok pesantren untuk mencari kamu. Katanya dia sudah sangat merindukan kamu." Ujar sang habib kepada Aish.
Tangan besarnya menyentuh puncak kepala Aish. Mengelus puncak kepala Aish sembari melayangkan sebuah doa dan harapan kepada penguasa semesta. Dia berharap bahwa hari ini kebahagiaan Aish dilipat gandakan. Dan dia berharap bahwa kekasihnya tidak berkecil hati lagi, sebab dia masih memiliki banyak orang yang sangat mencintai dan menyayanginya. Dan harapan terbesar di dalam hatinya sekarang adalah dia ingin sang kekasih tersenyum secerah mungkin, sebab kebahagiaan akan selalu mengitari hidupnya mulai dari sekarang.
"Siapa?" Aish memikirkan banyak sosok baik di dalam hidupnya.
Mungkinkah itu dari keluarga Mama?
Meskipun mereka tidak terlalu dekat tapi mereka tetap berhubungan baik
Atau, mungkinkah itu..
"Jika kamu ingin tahu maka ikutlah aku. Dia sudah menunggu kamu di ruang tamu." Meraih tangan sang kekasih, habib Khalid tertegun ketika merasakan tangan Aish sudah berkeringat dingin dan basah.
Dahinya mengernyit, bukan karena jijik karena tapi karena sakit hati melihat betapa rapuh hati sang kekasihnya.
Mengeratkan genggaman tangannya, dia lalu berkata kepada Aish,"Ayo pergi."
Cklak
Masih tidak ada siapapun diluar. Orang-orang lebih berisik di luar karena kedatangan tamu pertama, semua orang jadi panik dan terburu-buru. Namun Aish tidak memperhatikan keadaan di luar karena matanya sudah beralih menatap pintu masuk menuju ruang tamu. Di sana seseorang tengah duduk menunggunya. Orang itu sangat merindukan dirinya sampai-sampai datang ke sini.
__ADS_1
Dengan langkah mantap dan pasti, sang habib memimpin jalan. Membawa Aish masuk ke dalam ruang tamu.
Begitu dia masuk ke dalam ruangan itu. Dia tersentak kaget melihat Siapa yang tengah menunggu di dalam.
Deg
Tangisnya langsung pecah dan tanpa menunggu Kakek berbicara, dia segera melepaskan tangan habib Khalid dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan tubuh ringkih Kakek. Hatinya sakit melihat keadaan kakek. Mereka tidak bertemu selama beberapa bulan dan kakek sudah sekurus ini. Padahal Aish ingat dengan betul jika Kakek sangat sehat dan baik saat dia dikirim ke pondok pesantren.
"Kakek..." Panggilnya sembari mengeratkan pelukan mereka.
Sang habib ikut sedih sekaligus bahagia melihat pemandangan. Dia pikir bahwa pasangan Kakek dan cucu membutuhkan waktu untuk berbicara jadi dia langsung pergi setelah memberikan kode kepada Kakek.
Aish menangis terisak di dalam pelukan Kakek. Dia juga sangat merindukan kakek karena di rumah itu, Kakek adalah satu-satunya orang yang mengerti perasaan hatinya. Kakek mencintai dan menyayanginya dengan tulus. Kakek tidak pernah membanding-bandingkan hidupnya dengan Aira. Di saat semua orang di rumah memuji Aira karena prestasinya yang baik, Kakek justru menyemangatinya agar jangan pantang menyerah dan menekankan bahwa nilai bukanlah segalanya. Tidak berlebihan jika Aish menganggap Kakek sebagai orang tuanya. Karena Kakek berhasil memenuhi peran kedua orang tersebut di dalam hidup Aish.
"Nak, berhenti menangis. Kakek akan sedih jika kamu terus menangis." Bisik Kakek lembut.
Kakek memohon agar Aish berhenti menangis, nyatanya dia juga diam-diam menangis tanpa sepengetahuan Aish. Setiap kali air matanya jatuh, Kakek buru-buru mengusapnya agar Aish tidak semakin sedih.
Ketahuilah, bila dia mendengar suara tangisan Aish, hati Kakek semakin sakit dan terkoyak. Dia tidak bisa menahan rangsangan besar ini di dalam tubuh ringkih nya yang kurus.
Hatinya terlalu sakit.
"Habisnya... habisnya Aish sangat merindukan Kakek. Sejak masuk ke pondok pesantren aku ingin menelpon ke rumah untuk menghubungi Kakek, tapi aku takut orang yang mengangkat bukan Kakek. Aku tidak ingin mendengarkan cibiran mereka dan aku juga tidak ingin mendengarkan cemoohan mereka. Aku tak kuat jadi aku menahan diri untuk menelpon Kakek hingga saat ini." Cerita Aish sesenggukan.
Dia sangat ingin berbicara dengan Kakek, tapi dia takut bila orang rumah tidak akan mengizinkan berbicara dengan Kakek. Tidak, dia tidak berburuk sangka kepada orang-orang rumah. Tapi memang begitulah mereka kepadanya. Mereka sangat tidak menyukainya. Daripada membiarkan Aish berbicara dengan Kakek, dia yakin, mereka pasti akan menghabiskan waktu setengah jam untuk mencela dan mencibirnya. Aish memang sudah terbiasa diperlakukan buruk oleh mereka tapi bukan berarti hatinya tahan banting. Karena mereka adalah keluarganya, rasa sakit itu masih tetap akan muncul di dalam hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nak. Kakek mengerti apa yang kamu rasakan. Dan Kakek memahami posisi kamu di sini. Suasana rumah tidak baik semenjak kamu meninggalkan rumah. Mereka mudah tersinggung dan marah sehingga Kakek berharap kamu tidak menelpon ke rumah. Bila kamu menelpon, kamu mungkin menjadi sasaran kemarahan mereka..uhuk...uhuk..." Kakek terbatuk keras dan membuat Aish ketakutan.