
"Aira, ini nenek." Suara tua nenek memanggil dari luar.
Aira mengalihkan perhatiannya dari barang-barang di atas kasur dan bergegas membuka pintu kamar untuk nenek. Di luar, nenek datang bersama bunda dan bibi. Aira dengan senyuman cerah langsung mempersilakan mereka bertiga masuk ke dalam kamar dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Untuk perjalanan besok, dia menyiapkan tiga koper untuk pakaian sehari-harinya selama di sana. Selain itu, dia juga membawa satu koper yang khusus digunakan untuk membawa berbagai macam kebutuhan juga makanan. Tidak lupa beberapa oleh-oleh kota ini untuk beberapa orang di sana, dia telah bekerja keras mengumpulkan semua ini untuk besok.
Tapi semua barang-barangnya belum selesai dikemas jadi malam ini dia akan begadang untuk mengemasnya. Aira sesungguhnya sangat gugup dan antusias untuk perjalanan besok. Dan jika dipikir-pikir malam ini mungkin dia tidak akan bisa tidur dengan baik. Maka begadang untuk mengemas barang-barangnya tidak terlalu membuatnya kewalahan. Dia malah cukup menikmati semuanya.
"Barang-barang nya masih banyak yang belum dikemas. Aira, kami akan membantumu." Bunda duduk di lantai dengan nenek, tangan mereka menjangkau pakaian yang ditumpuk di atas karpet dan mulai melipatnya dengan rapi.
__ADS_1
"Nenek dan bunda tidak perlu repot. Aira bisa sendiri kok menyelesaikan semuanya." Kata Aira mencegah mereka bekerja.
Nenek dan bunda tidak mendengar kecemasannya. Kedua tangan mereka bergerak dengan gesit melipat pakaian. Walaupun mereka tidak mendengar, tapi bibir mereka menyunggingkan senyuman kepuasan. Bangga rasanya melihat permata keluarga ini tidak hanya cerdas tapi juga berbudi luhur.
"Apa yang direpotkan, nenek malah senang membantu mu. Aira, nenek memang sudah tua tapi tangan dan kaki nenek masih kuat. Jadi, jangan remehkan nenekmu ini." Ujar nenek tidak senang dengan wajah berseri-seri.
Dia sangat menyukai cucunya ini.
"Aku tidak meremehkan nenek, aku tahu betapa kuatnya nenek."
__ADS_1
Nenek dan bunda sibuk bekerja, sedangkan bibi duduk di atas kasur tanpa melakukan apa-apa. Tangan dan kakinya menganggur tanpa niat membantu, namun mulutnya berminyak mulai berbicara untuk bergosip. Sejujurnya Aira tidak senang dengan bibi karena dia masih manja di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Aira, jika dia mengganggumu lagi di sana, maka jangan sungkan menelpon ke rumah. Bibi tidak akan membiarkan kamu menderita di sana."
Topik ini diangkat lagi. Semenjak dia berhasil diterima, semua orang di keluarga ini tidak bosan-bosannya mengingatkan agar tetap menjaga diri dan langsung menelpon jika kakaknya mencari masalah lagi kepadanya.
"Bibi, tidak usah khawatir. Kakak pasti sudah berubah di sana jadi mana mungkin dia menyakitiku lagi?" Aira tersenyum tipis, terlihat tidak berdaya.
"Nak, apa yang bibimu katakan benar. Kakakmu adalah orang yang sangat keras kepala dan keras hati, butuh waktu lama untuk membuatnya berubah. Makanya kami tidak yakin dengan dia di sana. Itulah mengapa kami memintamu untuk berhati-hati dan jangan terlalu dekat dengannya jika dia masih membencimu." Sahut nenek sambil menghela nafas panjang.
__ADS_1
Dia bukannya membenci cucu yang lain. Apalagi cucu ini juga lahir dari Ayah yang sama, hatinya tidak sekejam itu. Hanya saja dia sudah melihat seperti apa cucu yang lain itu dan dia sangat mengerti betapa dalam kebenciannya kepada Aira.