
"Aku percaya kepada kalian. Tapi tolong untuk seseorang, siapapun itu. Ketika sedang membicarakan sesuatu, usahakan untuk melihat kondisi atau situasi. Jika apa yang ingin kalian katakan itu dapat melukai hati seseorang ataupun menghancurkan martabat seseorang, maka lebih baik diam saja. Diam jauh lebih bermanfaat daripada mengatakan hal-hal yang belum tentu benar ataupun berguna tapi bisa menimbulkan kekacauan. Masalah ini menurutku sangat serius karena menyangkut nama baik Gisel. Kita semua juga sudah dewasa jadi jangan terlalu kekanak-kanakan. Ini hanya peringatan saja. Lain kali aku mendengar hal yang tidak-tidak tentang sahabatku, aku akan membawa serius masalah ini. Tidak lagi melibatkan pondok pesantren, tapi langsung melibatkan hukum. Ini merupakan langkah yang lebih baik daripada melaporkannya ke pondok pesantren karena sanksinya tidak terlalu berat menurutku." Ancam Aish serius.
Mengungkit masa lalu sama saja mengorek luka di dalam hati Gisel. Bagi Gisel momen itu merupakan masa-masa hidup yang tidak ingin dia ingat kembali. Sejak hari itu dia merasa kotor dan hina, untungnya setelah datang ke sini pola pikirnya mulai berubah. Tapi sama seperti luka yang baru mengering, ketika tersiram air, lukanya akan kembali memburuk. Begitu juga yang dirasakan oleh Gisel. Dengan susah payah menenangkan diri sendiri bahwa selalu ada jalan untuk bertaubat, namun tatkala seseorang mengingatkan, rasa jijik dan kotor yang pernah mengganggu hati kembali membayanginya. Ini merupakan trauma yang tidak mudah disingkirkan. Sudah bagus Gisel mau berjuang, bagaimana kalau dia tiba-tiba menyerah dan putus asa?
"Aku tidak bermaksud apa-apa mengungkit masalah ini kepada kalian. Menurutku kamu harus tahu Jadi aku memberitahumu tentang masalah ini." Mendengar kata hukum disebutkan, Gadis langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Meskipun ancaman ini terdengar kekanak-kanakan, Gadis percaya Aish bisa melakukannya karena Aish berasal dari orang kaya. Dia memiliki banyak uang untuk menyewa kuasa hukum, sedangkan dirinya yang miskin tidak bisa berdaya kalau sudah menyangkut uang.
Dira terkekeh,"Kenapa Aish harus tahu? Apakah kamu tidak senang melihat Gisel dan Aish berteman?" Pertanyaan ini tepat sasaran.
Gadis berkedip, dia sekarang sedang mencoba mempertahankan ketenangannya. Tidak ada yang tahu betapa cemburu dirinya melihat Gisel dekat dengan Aish. Harusnya dia adalah sahabat Aish sekarang. Tapi karena Gisel, dia tersingkirkan.
"Astagfirullah, Dira... Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan. Kita adalah teman kamar, sesama teman, aku mesti lebih menginginkan kedamaian daripada perselisihan di antara kita. Tuduhan mu ini tidak masuk akal." Katanya membuat pembelaan.
"Oh, aku tidak menuduh mu. Baguslah jika kamu tidak berniat seperti itu." Memainkan makanan di atas piringnya, dia kembali berbicara,"Sejujurnya aku sangat tidak menyukai orang yang bermuka dua. Menurutku mereka merupakan seorang pengkhianat yang lebih baik segera dimusnahkan daripada membiarkannya berkembang. Astaga... Kenapa aku ngelantur? Ah, sekedar informasi untuk kalian semua. Kami bertiga bersahabat. Jadi bila terjadi sesuatu diantara sahabatku, maka aku tidak akan diam. Sama seperti yang Aish katakan beberapa saat yang lalu, jika ada seseorang yang terus-menerus menyebarkan rumor ini hingga sampai ke telingaku, aku tidak akan segera menghubungi pengacara keluargaku. Tentu aku tidak ragu membawa masalah ini ke meja hijau dan aku tidak peduli apakah kami dari kamar yang sama ataupun dari sekolah yang sama sebab perbuatannya telah membuat adikku terganggu. Aku serius. Jadi tolong sebarkan kata-kataku ini kepada orang-orang yang tidak punya pekerjaan itu. Aku sangat mengagumi kerja keras mereka."
Menyelesaikan masalah ini tidak terlalu sulit selama ada modal. Bukan berbicara uang tapi dukungan. Dira berasal dari orang kaya. Sejak Kakek dan Neneknya meninggal, dia memiliki hubungan yang baik dengan kuasa hukum keluarga. Kecuali masalah dia ditendang ke pondok pesantren, selebihnya kuasa hukum keluarga sering membantu dirinya memecahkan masalah. Misalnya seperti bolos sekolah, hehehe.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, Dir. Kami... Kami akan menyebarkan masalah ini agar orang-orang itu menutup mulut."
Dira mengangguk puas.
"Tidak perlu, ini masalah sepele. Kalau dibiarkan lama-lama rumornya akan menghilang juga." Setelah sekian lama menunduk, Gisel mengangkat kepalanya dengan senyum manis di bibir.
Tak perlu dikatakan, perlawanan dari kedua sahabatnya telah menghangatkan hatinya.
"Nggak usah. Ini pondok pesantren bukan komplek perumahan yang di mana-mana ada CCTV manusia. Lagi pula maksud kamu berdua baik. Dengan masalah ini, setidaknya orang-orang itu akan berpikir lagi sebelum berbicara yang tidak-tidak." Ucap Dira acuh tak acuh.
Setelah ketegangan kecil itu, mereka kembali melanjutkan acara makan yang sempat tertunda. Dan dari episode kecil ini, teman-teman kamar memberanikan diri bertanya tentang latar belakang keluarga Dira. Mendengar tentang kuasa hukum disebutkan, mereka langsung teringat dengan sinetron-sinetron di TV. Inilah yang membuat mereka tertarik dan menduga bila Dira pasti dari kalangan orang yang sangat kaya.
Dira tidak pelit. Dia menjawab apa adanya pertanyaan semua orang dan menutupi masalah orang tuanya.
Sementara mereka semua asik berbincang-bincang, Gadis tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun. Mulutnya tertutup rapat tapi kedua telinganya berdiri mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Rasa cemburu itu kembali membuat dadanya sesak. Mereka memiliki banyak uang, terlahir dari keluarga kaya raya, dan dimudahkan dalam segala urusan. Tapi mengapa Allah mengirimkannya ke dalam keluarga miskin, hidup di desa, dan kesulitan membeli apapun yang dia inginkan. Kenapa kehidupan mereka sangat kontras?
__ADS_1
Ada yang miskin ada pula yang kaya?
Padahal dia merupakan anak yang bekerja keras dan rajin beribadah, tapi kenapa Allah membiarkannya hidup sesulit ini?
Sedangkan mereka yang terlahir kaya raya, tidak perlu bekerja tapi semuanya sudah disediakan. Mereka bahagia setiap hari tanpa memiliki kecemasan. Sungguh membuat iri.
Tidak adil, tidak adil, tidak adil! Allah tidak adil kepada ku! Kenapa kami diciptakan berbeda? Padahal aku sudah lelah berjuang keras! Aku lelah berhemat, hidup boros seperti mereka siapa yang tidak mau? Tapi kenapa Allah tidak membiarkan aku yang di posisi mereka? Sungguh tidak adil! Batinnya kecewa.
"Assalamualaikum semuanya. Maaf mengganggu waktu makan kalian." Pembicaraan mereka tiba-tiba diinterupsi oleh suara lembut Nasha.
Nasha datang bersama teman kamarnya. Mereka berdua tersenyum ramah kepada semua orang.
"Waalaikumsalam, kak. Kami tidak terganggu kok kak, malah kami senang disapa sama kakak." Seseorang menjawab.
"Syukurlah. Aku ke sini ingin berbicara kepada Aish, Dira dan Gisel. Awalnya setelah selesai makan aku akan datang ke kamar kalian, tapi kebetulan kita bertemu di sini jadi sekalian saja berbicara." Tujuannya ke sini adalah mencari mereka bertiga.
__ADS_1