Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 7.5


__ADS_3

Pada pandangan pertama, Gisel sakit gigi melihat sekelompok orang yang datang berduyun-duyun untuk membantunya. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya juga menghangat. Mereka baru saja saling mengenal, jarang berkomunikasi ataupun bertegur sapa, dan tidak akrab, tapi empati mereka kepadanya begitu besar. Terlepas tulus atau tidaknya, Gisel harus mengakui bahwa dia merasa sangat hangat.


Namun yang membuat sakit kepala adalah setelah masuk ke dalam kamar dan membantunya berbaring di atas ranjang, beberapa orang yang tidak diketahui namanya mengambil inisiatif untuk memijat kaki, tangan, bahkan kepalanya. Mereka juga mengoleskan bagian-bagian lembut di tubuh Gisel dengan minyak kayu putih yang menyegarkan agar Gisel menjadi lebih nyaman.


"Terima kasih. Sebenarnya aku sudah tidak apa-apa. Jadi kalian tidak perlu memijat ku lagi." Kata Gisel tulus dengan ekspresi malu di wajah pucat nya.


Mereka adalah orang-orang yang baik.


"Kita adalah keluarga di sini, jadi tidak perlu berterimakasih." Salah satu gadis membalas dengan senyuman manis di wajah polosnya.


"Benar. Wajahmu sangat pucat, aku tidak tega melepaskan tanganku." Yang lain ikut berbicara.


Gisel geli,"Sungguh tidak apa-apa. Aku ingin segera beristirahat."


Karena Gisel memaksa tidak ingin dipijat lagi, maka mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya meminta Gisel untuk menghabiskan air gula hangat yang telah mereka buat tadi untuk mengisi kembali tenaganya yang terbuang.


Hati Gisel kian melembut. Dia tidak bisa menghentikan bibirnya untuk berterima kasih kepada mereka. Sayang sekali dia sangat miskin. Ketika dikirim ke sini, Paman dan Bibinya hanya memberikan sedikit bekal saja untuk biaya hidup di sini jadi dia tidak boleh boros. Jika dia punya banyak uang seperti Aish dan Dira, mungkin dia akan mengeluarkan beberapa lembar merah untuk diberikan kepada netral yang sudah berbaik hati membantunya.


"Bagaimana keadaan mu, sekarang?" Aish duduk di samping ranjang.


Tangannya menyentuh kening basah Gisel dan memijatnya secara perlahan.


Gisel merasa sangat nyaman karena Aish tidak terlalu menggunakan kekuatan. Di tambah lagi tasbih di pergelangan tangan Aish sangat harum. Wangi bunga mawar yang lembut nan menyegarkan tanpa sadar membuatnya menjadi rileks.


"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menghadapinya setiap bulan." Kata Gisel tidak terlalu memikirkannya.


Melihat wajah pucat Gisel yang kekurangan darah, Aish menggigit bibirnya ragu. Dia menanyakannya tapi dia takut bila itu akan membuat Gisel tersinggung atau merasa rendah.


Seolah mengerti pikiran bimbang apa yang sedang Aish pikirkan, Gisel lalu membuka mulutnya untuk menenangkan Aish.


"Aku tidak hamil, Aish. Aku baik-baik saja." Bisik Gisel lemah.

__ADS_1


Aish tertegun. Perlahan kelopak matanya turun tampak sangat lega.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya." Balas Aish ikut merasa lega.


Pengkhianatan Gisel mungkin pernah menyakitinya tapi itu bukan berarti membuatnya sampai membenci Gisel.


Gisel adalah teman pertamanya sejak sekolah dan Gisel telah mengukir banyak kenangan di dalam hatinya. Jadi setelah pengkhianatan sekali, Aish memang merasa sakit hati. Tapi akan selalu ada maaf dan kesempatan untuk Gisel jika mau berubah. Aish tidak akan pernah menutup hatinya sekalipun dia tidak mau. Hatinya tidak bisa buta terhadap perubahan di sekitarnya.


"Gis," Dira baru saja kembali dari kantin asrama.


Dia membeli beberapa botol minyak kayu putih untuk berjaga-jaga bila kejadian ini terulang lagi atau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di masa depan.


"Jujur deh, kamu dapat sarung ini darimana? Perasaan pas aku tinggal kamu enggak pegang apa-apa." Dira masih kepo dari mana sarung kolor ijo ini berasal.


Dan dia tidak percaya jika sarung ini milik Gisel karena seingatnya Gisel tidak membawa apa-apa ke kamar mandi. Dira juga semakin tidak percaya kalau sarung ini miliknya karena, hell, selera Gisel dalam memilih pakaian tidak akan begitu norak.


Bayangkan saja, ini hijau terang?!


"Ini.." Gisel membuka matanya melihat sarung yang sekarang berada di pelukannya.


Hem, wanginya sangat menyegarkan. Ini bukan jenis parfum yang keras karena wanginya sangat ringan tapi nyaman di hidung.


"... seseorang membantuku tadi. Karena melihatku sendirian dia pikir aku kedinginan, makanya dia mengirimkan sarungnya kepadaku." Gisel tidak mau menyebutkan siapa orangnya.


Untuk sekarang dia tidak berani menceritakan perasaannya kepada Aish dan Dira. Bukan karena dia tidak mempercayai kedua temannya. Bukan seperti itu. Dia malah malu mengatakannya kepada Aish dan Dira karena... dirinya terlalu kotor untuk bisa mengharapkan laki-laki sebaik Danis.


"Laki-laki pasti. Kamu tahu orangnya, enggak?" Dira kian kepo.


"Orangnya..." Gisel langsung membayangkan wajah tampan nan dingin Danis di bawah cahaya bulan tadi.


Menggelengkan kepalanya,"Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihatnya dan aku juga tidak mengenalnya." Bohongnya.

__ADS_1


Mendengar jawaban Gisel yang tidak tertolong, Dira semakin curiga kalau Gisel tadi bertemu dengan mahluk gaib.


"Wah gawat, nih. Jangan-jangan kamu ketemu sama hal-hal yang berbau gaib lagi. Kamu bahaya banget, Gis. Habis ini kamu harus rajin baca Al-Qur'an dan perbaiki sholat yah biar dia enggak nyari kamu lagi buat ngambil sarung ini lagi. Kalau kamu takut, buang aja sarungnya ke bak sampah biar dia enggak nyari kamu." Saran Dira sangat tulus.


Ini adalah saran terbaik seorang teman kepada sesama temannya yang sedang menghadapi bahaya.


Gisel tersenyum geli. Dia bertanya-tanya akan seperti apa ekspresi di wajah Danis jika mendengar apa yang Dira katakan tadi?


Akankah dia marah atau tetap kukuh dengan wajah temboknya?


"Konyol." Gisel tidak berani membayangkannya.


Dira memutar bola matanya,"Jangan dianggap enteng-"


"Udah, enggak usah ngomong lagi. Biarin Gisel beristirahat biar besok bisa ikut ujian." Potong Dira menghentikan omong kosong Dira.


Heran sebenarnya. Dulu Dira memiliki kesan seorang gadis yang masuk akal dan sombong. Tepatnya dia jarang membuat lelucon atau omong kosong yang bisa menyakiti pendengaran orang.


Tapi setelah di sini pemahaman Aish terhadapnya langsung terbalik. Mengapa dia tidak melihat sebelumnya jika Dira adalah seorang komedian?!


"Ah, enggak seru." Padahal Dira masih mau gosip.


Aish tidak mendengarkan keluhannya. Dia segera menarik Dira agar kembali ke tempat tidur mereka dan mengambil dengan hati-hati buku yang habib Khalid berikan kepadanya.


Buku ini sangat berharga. Dia tidak ingin membuatnya kotor atau lecet karena ini adalah pemberian habib Khalid. Di dalamnya ada tulisan habib Khalid langsung yang terlihat sangat indah.


Jika melihat tulisan ini, orang-orang tidak akan enggan untuk membaca buku!


"Huh, tulisan habib Thalib sangat indah. Dibandingkan dengan tulisan habib Thalib, entah kenapa aku merasa bila tulisan kita sedikit tidak manusiawi?" Dira bahkan tidak berkedip saat mencela karya tangannya sendiri.


Aish tidak bisa berkata apa-apa,"...." Teman, kamu terlalu jujur, ah!

__ADS_1


__ADS_2