Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 5.10


__ADS_3

Kini perhatian semua orang teralihkan melihat luka dibuku jari ramping milik Aish. Dia menjadi bahan perhatian, untuk sesaat hatinya tidak nyaman. Dia akan menarik tangannya dari Gisel, tapi ketika memikirkan manfaat apa yang akan dia dapatkan nanti, Aish langsung memutar otaknya. Dia langsung memanfaatkan situasi, membesar-besarkan rasa sakit di jarinya.


"Aow, Gisel jangan keras-keras, dong. Tanganku sakit tau." Aish mulai membuat drama.


Tangannya memang perih tapi tidak seperih yang dipikirkan oleh semua orang sebab ini hanya luka kecil yang tidak terlalu berarti banyak.


"Tangan kamu kok bisa luka gitu, Aish?" Dira bodohnya mempercayai sandiwara Aish.


Lagian Aish tidak mengatakan apa-apa kepadanya ataupun Gisel apalagi memberikan kode sebelum bertindak sehingga dia dengan mudahnya percaya.


"Bisalah. Dia nyuruh-nyuruh aku bersihin lumut di tembok yang tinggi-tinggi itu jadi gimana enggak luka coba." Ini Aish serius mengeluh.


Coba saja Khalisa tidak memerintahkannya untuk membersihkan lumut di tembok yang tinggi, tangannya pasti tidak mungkin tergelincir bahkan sampai terluka. Kecil sih, tapi penghinaan terhadap dia rasakan benar-benar menusuk ke dalam hatinya. Aish tidak akan berdamai sampai Khalisa mendapatkan pelajaran atas semua hinaan yang dia rasakan tadi.


"Keterlaluan banget! Kok aku tadi enggak diatur-atur sama Kakak berkacamata." Kata Gisel menyanjung gadis berkacamata yang bertugas mengawasinya.


Faktanya dia hanya dipantau saja dan tidak diperintah untuk melakukan ini-itu seperti yang dialami oleh Aish.


"Jangan menuduh sembarangan. Luka ditangannya bisa jadi karena kecerobohannya sendiri saat membersihkan kamar mandi." Bantah Meri masih membela Khalisa.


Khalisa sendiri terlihat sangat bersalah. Wajahnya langsung menjadi pucat pasi melihat darah di tangan Aish dan matanya pun mulai menimbulkan riak-riak tipis akan menangis. Penampilannya yang tidak berdaya dan malu membuat hati para penonton luluh. Mereka jelas meragukan ketiga orang-orang kota itu karena sedari awal mereka bertiga sudah terkenal karena kemampuan yang hebat dalam menimbulkan masalah. Ini baru beberapa hari saja tapi pondok pesantren sudah diramaikan oleh masalah yang mereka buat.


"Aku..aku minta maaf. Aku tidak tahu jika Adek terluka. Jika adek memberitahuku sebelumnya, maka aku mungkin tidak akan melanjutkan hukuman ini." Kata Khalisa sambil menghapus air mata yang mulai mengalir dari sudut matanya.


"Udah, kak. Kakak tidak perlu merasa bersalah karena itu adalah kecerobohannya sendiri. Lagipula ini hanya luka kecil dan tidak patut dibesar-besarkan." Fani, salah satu pengawas sekaligus sahabat Meri ikut berbicara.


Dia meremehkan luka Aish dan menganggap bila Aish terlalu melebih-lebihkan luka kecil itu.

__ADS_1


"Luka kecil? Coba kamu sendiri yang merasakan, aku ingin lihat apakah kamu masih bisa mengatakan enggak sakit?" Tanya Gisel ikut emosi melihat nada meremehkan Fani.


Dira mendengus kesal,"Humph, mereka bertiga memiliki masalah otak yang sama."


"Astagfirullah, kami adalah kakakmu di sini. Tapi kenapa gaya bicara mu sangat tidak sopan?" Fani bertanya heran dengan nada mempertanyakan.


"Kakak? Mana layak kamu jadi kakak kami? Lihat baik-baik apa yang kami miliki dan apa yang kamu miliki?" Balas Dira tak terima.


Mereka bertiga dari segi manapun jelas lebih baik daripada Fani, gadis yang mengaku-ngaku sebagai kakak mereka di sini.


"Cukup...cukup, jangan bertengkar. Ini salahku...ini salahku." Khalisa tiba-tiba menyalahkan diri sendiri.


Aish pikir ini sangat aneh tapi ketika matanya menangkap kedatangan habib Khalid dan rombongannya, sudut bibirnya langsung membentuk senyuman sinis. Benar saj pikirnya. Gadis ini memang berwajah dua. Dia bisa menampilkan wajah yang baik di depan habib Khalid dan anak-anak pondok, tapi tanpa ragu melepaskan perangainya di depan Aish.


Aish merasa lucu. Tiba-tiba dia ingin sekali tertawa melihat tingkah lucu Khalisa. Dan untuk semua sandiwara manis yang telah Khalisa siapkan, Aish tidak perlu bertanya kemana arah suara semua orang. Aish tiba-tiba tidak mengharapkan dukungan siapapun atau mengharapkan dukungan habib Khalid, sebab seperti mereka, habib Khalid pasti lebih memilih mendengarkan Khalisa.


"Habib Thalib..."


Semua suara-suara langsung menguap entah kemana ketika melihat rombongan laki-laki berdiri beberapa meter dari pintu masuk kamar mandi santriwati.


Mereka menundukkan kepala begitu juga para santriwati. Semua orang menatap tanah tapi beda halnya dengan Aish, Gisel, dan Dira.


"Fiks, kita selalu apes tiap kali ketemu dengan habib Thalib." Bisik Dira yang langsung disetujui oleh mereka berdua.


"Habis ini aku bakal berusaha sekuat mungkin untuk menghindari dia." Bisik Gisel mulai merasakan trauma tersendiri tiap kali bertemu dengan habib Khalid.


Aish berdecih pelan. Dia langsung memalingkan wajahnya tidak mau melihat habib Khalid. Penolakannya sangat jelas dan tertangkap pengawasan dari pemilik mata gelap itu.

__ADS_1


"Apa yang sedang terjadi di sini?" Tanya habib Khalid kepada semua orang tapi matanya malah jatuh pada Aish.


Aish menolak berbicara, tidak hanya Aish, tapi bahkan Dira dan Gisel pun tidak mau mengambil resiko membuka mulut.


Melihat pihak Aish diam, Meri langsung mengambil kesempatan untuk membuat pembelaan. Pasalnya dia curiga bila diamnya pihak Aish adalah pertanda bila mereka berbohong jadi Meri semakin teryakinkan.


"Habib, mereka telah memfitnah kak Khalisa dengan tuduhan yang sangat tercela. Mereka menuduh bila kak Khalisa sengaja mengatur-atur dan memerintah mereka. Bahkan mereka juga menuduh bila kak Khalisa melukai salah satu diantara mereka bertiga. Faktanya itu hanyalah luka kecil yang dibesar-besarkan dan aku yakin bila luka itu karena kecerobohannya sendiri."


Luka?


Habib Khalid tanpa sadar memperhatikan salah satu tangan Aish yang masih memiliki jejak darah, tipis, namun masih bisa dikenali sebagai darah. Aish merasakan seseorang sedang menatapnya. Tak nyaman, dia spontan menarik tangannya ke belakang dan menundukkan kepalanya.


Habib Khalid mengernyit tidak senang, dia menyapu wajah tertunduk Aish yang begitu enggan menatapnya. Biasanya Aish selalu menegakkan punggung dan kepalanya ketika bertemu, akan tetapi kali ini Aish malah tertunduk dalam diam membisu.


"Apakah kamu melihatnya sendiri?" Tanya habib Khalid telah kehilangan senyumannya.


Meri dengan percaya diri menjawab,"Tidak, habib. Karena itulah kami tidak mempercayai perkataan mereka-"


"Kamu." Potong habib Khalid membuat semua orang kebingungan.


"Aku... kenapa?" Tanya Meri tidak mengerti.


"Apakah kamu melihat dengan kedua matamu sendiri bagaimana dia mengawasi juniornya?" Tanya habib Khalid kepada Meri.


Meri tertegun. Tangannya langsung meremat karena gugup sebelum menjawab dengan hati-hati.


"Aku tidak melihatnya habib, tapi aku yakin-"

__ADS_1


"Tidak melihatnya? Lalu kenapa nada bicaramu sangat meyakinkan seolah-olah kamu juga berada di tempat yang sama dengan mereka, melihat dan mendengar dengan indera sendiri bagaimana interaksi mereka?" Habib Khalid masih memotong ucapannya tanpa ampun, membuat Meri kelimpungan dan untuk sejenak tidak bisa mengatakan sepatah katapun pembelaan.


__ADS_2