
Sikap Aish terlalu asal-asalan dan tidak menghormati Khalisa sebagai senior di pondok ini. Padahal menurut Meri baik kata-kata maupun sikap Khalisa saat menghadapi Aish tidak ada yang salah, bahkan Khalisa terkesan menghormati Aish terlepas dari apa yang telah Aish lakukan. Tapi Aish tidak tahu berterima kasih. Dia tidak menaruh Khalisa di matanya, meremehkan Khalisa secara terang-terangan.
Meri menjadi marah. Dia menatap Aish kesal.
"Kak Khalisa berbicara baik-baik tapi kamu malah membalasnya asal-asalan. Apakah pendidikan di luar sana sangat rendah moral?" Tanya Meri jengkel.
Ditanya soal pendidikan di luar, Aish, Gisel, dan Dira langsung tersinggung. Sekolah manapun di dunia ini pasti mengajarkan hal yang baik dan menjauhi hal yang buruk. Kalaupun sikap siswanya tidak baik, berarti itu bukan salah sekolahnya tapi salahkan siswanya yang tidak mau mendengarkan.
"Lah, sibuk banget ngurusin moral orang. Emangnya moral sendiri udah benar, yah?" Tanya Dira sinis.
Gisel langsung menimpali,"Kayaknya enggak deh karena setahu aku moral orang yang baik enggak serendah dia."
Aish sangat senang dengan ucapan kedua temannya. Melihat mereka berbicara, dia juga tidak mau tinggal diam dan ikut berbicara.
"Enggak usah bingung, orang yang memiliki moral yang tinggi dan baik enggak akan semudah itu mempertanyakan moral orang lain apalagi sampai mengecap orang tersebut memiliki moral yang rendah. Percaya atau enggak, mereka yang suka mempertanyakan betapa rendahnya moral orang adalah orang yang memiliki moral paling rendah." Ucap Aish menyindir secara terang-terangan.
Siapapun yang ada di posisi Meri pasti akan sangat marah. Lihat saja mukanya yang telah memerah seperti kepiting rebus, itu sangat merah dengan dua asap imajiner mengepul dari telinganya.
Dia sangat kesal. Kedua tangannya mengepal menahan gejolak emosi. Belum pernah dalam hidup ini dia dipermalukan sedemikian rupa oleh orang lain.
"Kalian-"
"Apa yang kami katakan tadi salah?" Potong Dira pura-pura polos dan berkelakuan baik.
Dia tampak tidak bersalah sama sekali.
Khalisa segera menarik Meri ke belakangnya dengan ekspresi cemberut. Dia sebenarnya kaget karena ketiga anak kota pembuat masalah ini ternyata sangat pandai berbicara.
"Meri tidak bermaksud apa-apa. Dia hanya bertanya dengan santai saja." Kata Khalisa kaku.
Aish tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kami juga tidak bermaksud apa-apa kepadanya. Dan kami hanya berbicara santai saja." Jawab Aish mengembalikan kata-kata Khalisa.
Ekspresi Khalisa dan Meri langsung jelek mendengarnya. Mereka berdua tahu bahwa Aish sedang mempermainkan mereka berdua. Tapi Khalisa terus menahan diri sambil menahan Meri agar mengeluarkan omong kosong lagi.
"Yah, itu...apa sebenarnya hubungan mu dengan habib?" Tanya Khalisa hati-hati.
Khalisa sudah mendengar berbagai macam rumor tentang Aish dan habib Khalid hari ini. Dan dia mengakui bahwa hatinya cemburu terlepas rumor apa itu. Dulu, Khalisa telah berusaha terlihat sangat dekat dengan habib Khalid dan berharap bila ada sedikit rumor tentang mereka berdua. Setidaknya, keberadaan rumor tersebut dapat membantunya menjalin hubungan dengan habib Khalid secara instan.
Dia memang memiliki sedikit rumor tapi semuanya langsung hangus tatkala rumor Aish dan habib Khalid menyebar luas di pondok. Ditambah lagi habib Khalid telah tertangkap beberapa kali berinteraksi dengan Aish di pondok seolah membenarkan rumor tersebut. Khalisa sangat marah dan cemburu, dia tidak mau mempercayai satupun rumor yang beredar dikalangan para santri.
"Hubungan ku dengannya tidak ada hubungannya denganmu. Lagipula mengapa aku harus memberitahu orang luar seperti kamu? Seolah-olah aku sangat suka menjadi bahan gosip di sini." Kata Aish merasa risih.
Khalisa juga malu. Tapi dia tidak berdaya.
Tersenyum canggung,"Aku tahu ini mengganggumu tapi maksudku berbicara seperti ini adalah sebagai pengingat bahwa habib Thalib sebenarnya sudah memiliki tunangan. Habib Thalib sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah. Dia sudah memiliki pasangan jadi sebaiknya kamu jangan mengganggunya lagi." Nasihatnya dengan murah hati.
Khalisa hanya berbicara asal saja. Dan dia justru mengindentifikasi dirinya sebagai tunangan habib Khalid. Toh, ujungnya mereka akan bersama juga jadi tidak ada salahnya mengakui diri sendiri sebagai tunangan habib Khalid saat ini.
"Tunangan?" Gumam Aish berusaha mencerna kata-kata Khalisa.
Habib Khalid telah memiliki tunangan maka apa maksudnya selama ini?
Mendekatinya, bersikap baik padanya, memintanya untuk memanggil dengan intim, dan semua perhatian itu, apakah semua itu hanya servis biasa habib Khalid kepada gadis manapun?
"Enggak mungkin. Habib Thalib tidak memiliki tunangan. Kalau iya, lalu kenapa selama ini kamu berjuang mendekatinya?" Tanya Dira membantah.
Pertanyaan Dira langsung membuat Khalisa tersedak air liurnya sendiri. Dia ingin mengatakan bahwa dia adalah tunangannya! Tapi dia tidak berani. Dia takut habib Khalid semakin marah kepadanya.
"Itu...apa yang kamu bicarakan?" Khalisa merasa tidak nyaman ditatap oleh banyak pasang mata.
Yah, entah sejak kapan orang-orang ini ada di sini? Berdiri tidak jauh untuk menguping sambil berpura-pura mencari sisa panen.
__ADS_1
"Apa yang aku maksud, kamu pasti mengetahuinya. Oh, bukankah itu habib Thalib? Kenapa kita tidak menanyakan kebenaran perihal tunangan itu saja agar semuanya menjadi jelas dan tidak ada yang salah paham?" Kata Dira menantang.
Seketika semua mata langsung tertuju pada arah kedatangan habib Khalid. Entah itu kebetulan atau disengaja, habib Khalid berjalan bersama beberapa orang seolah menuju tempat mereka berbicara saat ini.
Melihat habib Khalid tiba-tiba datang ke sini, Khalisa langsung menjadi panik. Dia ingin menolak tapi sudah terlambat karena habib Khalid sudah ada di depan mereka. Untuk sejenak, dia langsung menyesali apa yang dia ucapkan tadi. Bila waktu bisa diputar kembali, dia ingin sekali menutup mulutnya agar tidak mengatakan apa-apa dan mengundang mudarat untuk dirinya sendiri.
Sekarang lihatlah, apa yang bisa dia katakan bila habib Khalid mempertanyakan ucapannya?
"Tanyakan saja. Toh, kak Khalisa enggak berbohong kok." Kata Meri menantang balik.
Khalisa mengepalkan kedua tangannya gugup. Di dalam hatinya, dia sudah memarahi Meri karena terlalu banyak bicara!
"Baik." Dira langsung menegakkan pinggangnya menyiapkan mental untuk menyapa habib Khalid.
"Habib Thalib, assalamualaikum!" Panggilnya berteriak.
Habib Khalid mengangkat kepalanya melihat ke arah mereka. Tersenyum, dia mengangguk dan berhenti beberapa meter jauh dari mereka. Karena di sini ada banyak perempuan, habib Khalid dan yang lainnya berdiri menyamping dengan kepala tertunduk untuk menjaga pandangan.
"Habib Thalib, apakah aku boleh bertanya?" Tanya Dira hati-hati.
Saat berhadapan dengan habib Khalid, nyalinya langsung menciut. Dia sudah trauma dihukum berkali-kali olehnya dan dia juga tahu bahwa dirinya bagaikan benda mati di hadapan habib Khalid. Karena itulah dia agak takut berbicara dengan habib Khalid.
Habib Khalid mengangguk ringan sebagai persetujuan.
Khalisa ketakutan. Dia buru-buru berbicara.
"Ini pasti salah paham-" Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Gisel langsung memotong-motongnya.
"Habib Thalib, Khalisa tadi mengatakan bila habib sudah memiliki tunangan, apakah yang dia katakan benar, habib?" Tanya Gisel dengan segenap keberanian nya.
Bersambung...
__ADS_1
Harusnya update semalam, tapi NovelToon gangguan dan review lama. Alhasil, up yang masuk malam jadi hari lain😀
Okay, jangan lupa mampir ke Mahram Untuk Azira, yah😀