Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.11


__ADS_3

Aish berjalan secepat yang dia bisa, namun semakin dekat dia dengan habib Khalid maka semakin lambat pula langkah kakinya. Ada perasaan gugup juga cemas di dalam hatinya. Mungkin karena ada Aira di sini dan mungkin juga karena perdebatan tadi dia menduga bahwa habib Khalid mendengar pembicaraan mereka. Kata-katanya agak kasar kepada keluarganya. Terlepas dari kemarahan di dalam hatinya dia tahu bahwa ini salah dan dia juga tahu bahwa habib Khalid tidak menyukai orang yang berbicara kasar, tapi apa yang harus dia lakukan? hatinya sudah terlanjur sakit.


"Ada apa kak Khalid?" Aish bertanya gugup kepada sang habib.


Habib Khalid berdiri menyamping, menoleh sedikit sebelum menarik kembali pandangannya menetap ke depan. Dia lalu berbicara dengan suara yang berat namun penuh akan rasa candu. Setiap kali mendengar suaranya, Aish selalu merasa bahwa telinganya dikelitiki oleh benda yang sangat lembut.


"Besok kamu harus dan kedua temanmu harus menjalani hukuman. Ini memang berat tapi lebih cepat dilaksanakan maka kalian akan selesai lebih cepat. Jadi aku ingin membawa kalian bertiga ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan untuk pekerjaan besok." Ujar habib Khalid menjelaskan kepada Aish.


Aish langsung menghela nafas lega melihat sikap habib kepadanya tidak pernah berubah. Dan dia juga lega nada suara sang habib tidak mengalami perubahan ketika berbicara dengannya tadi. Dia pikir habib Khalid akan keberatan dengan kata-kata kasarnya barusan, tapi ternyata itu hanya kecemasannya saja.


Tapi ini sedikit aneh, kebutuhan apa yang perlu mereka beli untuk pekerjaan besok? bukankah mereka hanya membantu untuk membajak sawah. Setahu Aish orang yang membajak sawah tidak memerlukan peralatan apa-apa kecuali beberapa ekor sapi atau kerbau yang digunakan. Dia mungkin tidak pernah bekerja di sawah sebelumnya tapi dia cukup tahu bahwa membajak sawah tidak memerlukan kebutuhan khusus seperti pertanian lainnya.


Namun siapa yang peduli? selama habib Khalid bersamanya maka apapun akan ia lakukan. Toh, diam di sini juga akan menyiksa hatinya. Berharap saja setelah pulang dari pasar orang-orang menyebalkan ini tidak lagi ada di sini.


"Okay, kak. Aku akan memberitahu kedua temanku-" Badan Aish akan berbalik tapi segera dihentikan oleh habib Khalid.


"Tunggu."


Aish berhenti,"Kenapa kak?"


Tiba-tiba habib Khalid mengeluarkan sebungkus permen dari saku bajunya dan menyodorkannya kepada Aish.


Mata aprikot Aish langsung menatap takjub pada sebungkus kecil permen di tangan sang habib. Aish belum pernah melihat jenis permen ini tapi sekilas dia tahu bahwa permen ini pasti lezat.


"Ambillah."


Sangat senang mendengarnya,"Untukku, kak?"


Habib Khalid mengalihkan pandangannya ke arah Aish, mata hitam itu kembali menatap Aish dengan sentuhan tatapan yang begitu lembut. Ini sangat lembut, Aish tidak tahu bagaimana menggambarkannya Karena setelah melihat mata itu Ais merasa hatinya sangat tenang.


Lagi-lagi perasaan itu lagi, aneh.

__ADS_1


"Aku membawanya dari Madinah, permen ini tidak akan pernah kamu temukan di belahan dunia manapun." Ujar habib Khalid menarik Aish dari pikirannya.


Aish merasa terhibur dengan kata-kata sang habib. Dia pikir sang habib mungkin bercanda karena jika permen ini hanya dijual di Madinah, maka orang-orang yang pergi haji atau umroh pasti akan membawanya pulang ke rumah masing-masing.


"Maka suatu hari saat aku menginjakkan kakiku di tanah suci itu, aku akan membeli permen ini dan memberikannya kepada kakak Khalid." Aish mengambil permen itu dari tangan habib dan menggenggamnya lembut tidak berniat untuk memakannya saat ini.


Habib Khalid tertawa kecil,"Cari saja jika kamu bisa. Bila ketemu, aku akan memberikanmu hadiah yang lebih besar sebagai balasannya tapi bila tidak bertemu, maka justru sebaliknya aku akan memberikanmu sebuah hukuman. Bagaimana?" Tantang habib Khalid kepada Aish.


Aish langsung merasakan firasat buruk, apakah mungkin bila permen ini tidak dijual di Madinah? Tapi mengapa habib tadi mengatakan bahwa permen ini berasal dari Madinah?


"Apakah permen ini tidak dijual di sana?" Tanya Aish ragu-ragu.


Habib Khalid mengernyit,"Mau mundur?"


Aish tersenyum malu,"Tidak! Tidak! Tidak! Bagaimana mungkin aku mundur? Insyaa Allah jika aku ke sana aku akan berusaha mencarinya. Aku berjanji." Tutur Aish berjanji.


Aneh, wajah habib Khalid yang tadinya menegang langsung melembut kembali.


Aish ragu-ragu memakannya. Sebab, ini adalah pemberian dari sang habib dan dia pikir permen ini harus disimpan karena setiap pemberian habib Khalid sangat berharga.


"Makan." Tuntut sang habib.


"Oh, baik kak." Lalu dia buru-buru membuka bungkus permen itu, setelah dibuka dia mendapati benda bulat berwarna coklat susu di dalamnya dan memiliki bau yang sangat harum. Aish tidak tahu bau apa ini namun yang pasti baunya sangat harum.


"Bismillah." Kemudian dia mengirim benda itu masuk ke dalam mulutnya.


Dan, um!


Aish sontak memejamkan matanya merasakan rasa manis, pahit dan asam bercampur di dalam mulutnya. Rasa ini belum pernah dia cicipi sebelumnya dan dia harus mengakui bahwa ini sangat lezat. Aish langsung jatuh cinta dengan rasanya.


"Oh." Aish membuka matanya dengan malu ketika mendengar suara tawa kecil dari sang habib.

__ADS_1


"Kenapa, kak?" Apakah ada yang lucu?


Tidak! tidak! tidak! Aish tidak suka terlihat lucu tapi Aish lebih suka terlihat cantik dan manis di depan sang habib.


"Uhuk." Habib Khalid terbatuk kecil.


Dia mengusap mulutnya sebelum membawa kedua tangannya ke belakang.


"Apakah enak?" Tanyanya.


Aisi mengangguk malu.


"Enak kok, kak."


Habib Khalid tersenyum.


"Rasanya manis, pahit dan asam, kan?"


Aish sekali lagi mengangguk.


Tersenyum lembut, namun ada keseriusan di dalam matanya,"Begitulah hidup. Semuanya tidak selalu terasa manis. Ada kalanya terasa asam, juga ada kalanya terasa pahit. Akan tetapi jika kamu melalui semuanya dengan kepala jernih dan bersabar, maka lama-lama asam dan pahit akan berubah menjadi manis di hatimu. Seperti permen ini, ada tiga rasa, tapi semakin kamu memakannya maka rasa yang tertinggal di lidahmu dominan manis, kan?"


Hidung Aish rasanya sakit. Matanya pun mulai memanas. Dia tahu apa yang ingin habib Khalid bicarakan kepadanya, dan karena itu hatinya sangat tersentuh. Ternyata habib Khalid tidak membencinya juga tidak menghakiminya karena berbicara kasar kepada orang-orang tak masuk akal itu. Dia sangat berterima kasih.


"Kak Khalid..." Panggilnya hangat.


"Pergilah beritahu teman-temanmu, aku akan menunggu kalian di parkiran depan. Assalamualaikum." Kemudian tanpa menunggu jawaban Aish, habib Khalid buru-buru pergi melewati pintu depan pondok pesantren dan berjalan langsung ke parkiran depan.


Wajah Aish rasanya panas. Dia lalu memegang pipinya, menepuk-nepuk ringan pipinya agar segera menyurutkan suhu panas di wajahnya. Rasanya agak memalukan memiliki reaksi ini setiap kali bersama sang habib. Dan dia menduga bila pipinya saat ini pasti sangat merah, em, dia malu.


"Waalaikumussalam." Bisiknya manis.

__ADS_1


__ADS_2