Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 17.6


__ADS_3

"Siapa yang kamu panggil-"


"Cukup!" Suara berat Abah menghentikan perdebatan mereka berdua.


Aish dan Gisel langsung menarik Gisel menjauh dari Khalif agar tidak mengundang perdebatan yang lain lagi. Ada sedikit kekhawatiran karena perdebatan ini, Aish takut bila Abah dan Umi semakin menambah hukuman untuk mereka. Sayang sekali jika upaya mereka lolos dari hukuman akan sia-sia hanya karena ejekan kekanakan dari Khalif. Sesungguhnya, Aish tidak pernah menyalahkan Dira sebab jika Khalif tidak membuat masalah duluan, maka mereka tidak akan pernah terjebak di sini.


"Maaf atas kelancangan Khalif hari ini Abah." Khalif segera menghadap Abah dengan sikap malu dan tunduk yang khusyuk, orang dapat menilai bahwa dia mungkin menyesalinya.


Abah menghela nafas panjang. Mata tuanya menatap Khalif serius.


"Orang tuamu menitipkan kamu kepadaku agar bisa menuntut ilmu. Jadi tolong jangan kecewakan mereka dan belajarlah untuk lebih dewasa kedepannya." Tegur Abah kepada Khalif.


"Khalif berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Janjinya serius.


Khalif menundukkan kepalanya malu tidak berani menatap Abah. Dia menganggukkan kepalanya bersungguh-sungguh mendengarkan teguran Abah. Di dalam hatinya dia sungguh berharap bahwa Abah tidak memandangnya rendah gara-gara perdebatan kecil tadi.


"Cih, dasar buaya." Gerutu Dira ketika melihat perilaku sok patuh Khalif di depan Abah.

__ADS_1


Kemana perginya sikap agresif barusan?


"Udah, Dir. Jangan nambah masalah lagi." Bisik Gisel sambil memegangi lengan kiri Dira.


Dira memutar bola matanya tak puas tapi tidak berbicara lagi. Dia mungkin sadar bahwa masalah ini akan memperparah masalah yang sudah ada.


"Dan untuk-"


Tok


Tok


Tok


Sontak saja, perhatian semua orang langsung tertuju ke arah pintu masuk.


"Cie, pangeran berkuda putih siapa, nih?" Bisik Gisel menggoda dari samping.

__ADS_1


Wajah Aish langsung memanas. Ia menoleh ke belakang, mengintip sang habib secara sembunyi-sembunyi dari sudut matanya.


Rasanya memalukan dilihat oleh sang habib. Aish tidak kuat menjalani sidang ini jika ada habib Khalid yang menonton.


"Apaan sih, jangan ngaco, deh." Balas Aish berbisik namun matanya tanpa sadar mulai memperhatikan sang habib secara terang-terangan.


Gisel menggelengkan kepalanya tidak berdaya melihat tingkah malu-malu sahabatnya ini.


Habib Khalid datang bersama seorang laki-laki dewasa di sampingnya. Laki-laki itu mungkin bukan dari kalangan pondok pesantren karena baik wajah maupun cara berpakaiannya sangat asing di dalam pondok pesantren.


"Abah, aku punya sesuatu untuk Abah dan Umi lihat." Melirik orang di sampingnya dan memberikan kode agar dia menyerahkan laptop yang sedang di bawa kepada Abah.


Laki-laki itu mengangguk ringan, lalu segera menyerahkan laptop itu kepada Abah. Abah tidak mengambilnya karena laptop itu langsung diambil alih oleh orang kepercayaan Abah yang selalu berdiri di samping tempat Abah duduk.


"Apa ini, habib?"


Habib Khalid masih tersenyum,"Ini adalah jawaban yang Abah dan Umi cari. Pagi ini kami berhasil mendapatkannya setelah mencari ke berbagai tempat."

__ADS_1


Tubuh Khalif langsung menegang. Dia melirik habib Khalid dengan waspada. Ada perasaan samar dimana ketakutannya akan terjadi. Sekalipun dia menampiknya dan berkeyakinan bahwa semuanya tidak terdeteksi, tapi bila habib Khalid campur tangan, rasanya akan sangat meragukan.


"Tentang apa ini, habib?" Tanya Khalif dengan suara teredam.


__ADS_2