Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 18.7


__ADS_3

Meskipun mereka cukup iri karena wanita cantik yang mereka dambakan dimiliki oleh orang lain, tapi jujur saja selama orang itu adalah habib Khalid mereka sangat rela.


Pondok pesantren pasti akan sangat maju jika dipimpin oleh habib Khalid. Baru magang saja banyak perubahan yang terjadi di pondok pesantren apalagi jika habib Khalid benar-benar memimpin pondok pesantren mereka.


"Semua orang juga berpikir begitu. Memangnya siapa lagi yang lebih cocok jadi pemimpin di pondok pesantren ini selain habib Thalib?" Celetuk orang di sampingnya.


"Benar, setahuku selama tinggal di pondok pesantren ini cuma habib Thalib yang bisa menegakkan peraturan dan membuat pondok pesantren lebih ketat. Dan yang lebih penting lagi di mana-mana sekarang ada pembangunan di pondok pesantren kita, membuat nama pondok pesantren kita semakin terkenal. Aku bangga banget sama habib Thalib."


Berbicara tentang habib Khalid, topik mereka tiba-tiba bergeser pada sosok gadis cantik yang sering dirumorkan dengan habib Khalid sejak masuk ke dalam pondok pesantren ini.


"Tapi aku denger habib Thalib juga cukup dekat dengan seorang santriwati pindahan dari kota. Kalau tidak salah namanya Aish."


Nama Aish cukup terkenal di pondok pesantren, selain karena masalahnya dengan Khalisa dulu, nama Aish juga santer disebut-sebut setelah banyak rumor kedekatannya dengan sang habib beredar.


"Oh, gadis itu. Aku akui dia wanita yang cantik."


Karena penasaran dengan orang yang dirumorkan dekat bersama habib Khalid, beberapa orang pernah mencari tahu tentang Aish.


"Iya, dia gadis yang cantik. Aku juga pernah melihatnya saat di kantin. Kalau rumor itu benar sebenarnya nggak apa-apa sih dan aku nggak heran ngelihat mereka bisa bersama karena gadis yang bernama Aish itu juga cantik, kok." Laki-laki ini jelas terus terpesona oleh kecantikan Aish pada waktu itu.


"Dia memang gadis yang cukup berani, mungkin karena pendidikannya di kota dulu. Tapi itu tidak masalah selama dia mau berubah dan kita nggak bisa ngomong apa-apa kalau itu memang pilihan habib Thalib."

__ADS_1


Mereka adalah orang-orang yang cukup terbuka dan berpikiran netral. Apapun keputusan sang habib itu adalah haknya dan mereka sebagai penonton atau pengamat dengan bijak menerimanya.


"Oh, ya teman-temannya Aish juga cantik-cantik kok. Mereka berdua juga berasal dari kota dan aku dengar-dengar mereka dulu satu sekolah sebelum pindah ke pondok pesantren. Agak kaget melihat mereka satu sekolah dan pindahnya bareng-bareng ke sini. Kayaknya persahabatan mereka dalam banget." Ciledug yang lain dan langsung digoda oleh teman-teman yang lain.


Kalau sudah membicarakan tentang wanita pembicaraan mereka tidak akan pernah serius. Masalah wanita cukup memalukan untuk mereka bahas sekumpulan laki-laki.


...****...


Ayah dan bunda segera pulang ke hotel di hotel paman dan bibi Melati sudah menunggu kepulangan mereka. Tidak hanya mereka saja, tapi semua orang yang ikut ke sini juga ikut menunggu. Mereka penasaran dengan hasil dari pembicaraan Ayah bersama Aish di pondok pesantren. Bagi mereka yang belum mengeluarkan suara meminjam uang Aish sangat berharap bila bibi Melati tidak bisa mendapatkan uang sehingga mereka memiliki peluang di masa depan.


"Kakak, bagaimana hasilnya?" Tanya bibi Melati excited dengan ekspresi harap-harap cemas di wajahnya.


Bibi Melati sangat gugup sedari tadi menunggu kepulangan kakak dan kakak iparnya. Dia sudah tidak sabar menunggu dan beberapa kali menyentuh ponselnya ingin menghubungi mereka. Tapi suaminya mencegah dan memintanya untuk lebih bersabar lagi.


"Dia menolak." Jawab Ayah singkat tapi sangat jelas.


Ekspresi semua orang langsung lega, kecuali bibi Melati dan suaminya, semua orang tampaknya sangat senang mendengar kabar ini.


Rahang bibi Melati langsung jatuh. Dia mencengkeram tangan suaminya marah bercampur kecewa.


"Kenapa dia menolak? Kakak kan' Ayahnya, Aish harusnya mendengarkan kata kakak, kan?!" Tanya bibi Melati tidak bisa menerimanya.

__ADS_1


Ayah menghela nafas dengan berat dan menatap bibi Melati tajam.


"Dia menolak itu karena uangnya dan bukan uangku, tidakkah ini jelas?" Tanya Ayah kehilangan sabar.


Semua orang juga tahu ini bahwa uang itu adalah uang Aish dan bukan uang Ayah. Tapi mereka hanya bisa mengandalkan wajah Ayah selaku orang tua Aish untuk bisa berbicara dengannya.


"Tapi..tapi dia masih kecil dan belum dewasa. Uang itu seharusnya diamankan oleh kita orang-orang yang sudah tua." Kata bibi melatih lemah.


Ayah menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.


"Apa kalian tahu apa yang dia katakan kepadaku saat mengungkit masalah uang itu? Dia mengatakan dengan tegas bahwa dia tidak akan pernah memberikan uang itu kepada orang-orang rumah ini. Uang itu adalah uangnya, uang yang diberikan oleh almarhum Mamanya. Jadi itu adalah haknya untuk menggunakan uang itu semau yang dia bisa. Kalian atau aku tidak bisa mengintervensinya apapun yang terjadi. Dan satu lagi, dia menekankan bahwa dia benar-benar tidak Sudi memberikan uang itu kepada kalian yang pernah menyakitinya di rumah itu, bahkan aku pun tidak berhak memegangnya. Jadi untuk semua orang lupakan masalah uang ini dan jangan pernah menyebutkannya di depan lagi." Kata Ayah lugas dan membuat malu semua orang.


Wajah bibi Melati dan yang lainnya langsung memerah. Jujur, mereka menyesali apa yang terjadi di masa lalu. Bila mereka tahu jika Aish akan memegang uang sebanyak itu maka mereka akan berlaku sangat lembut kepadanya dan tidak akan membuat masalah lagi kepadanya. Tapi terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Semua yang terjadi di masa lalu tidak bisa diperbaiki lagi kecuali mereka bisa melembutkan hati Aish sekarang.


Hanya saja Aish tidak lagi di rumah itu sehingga mereka tidak bisa dekat dengannya lagi.


"Aku tahu ini, dia sangat sombong setelah memiliki banyak uang." Kata orang-orang di dalam ruangan itu menahan sakit hati di hati mereka karena telah melewatkan sesuatu yang sangat penting.


Ayah diam tidak membuat komentar apa-apa karena dia juga merasakan kekecewaan di dalam hatinya kepada Aish.


Hanya dalam waktu yang sangat singkat Aish memiliki perubahan yang sangat besar. Aish tidak selembut dulu kepadanya lagi.

__ADS_1


"Tunggu saja dia kehilangan semua uang itu, dia pasti akan mencari kita lagi. Pada hari itu terjadi aku ingin memberikan tamparan di wajahnya untuk apa yang dia katakan kepada kita." Dendam bibi Melati berharap hari itu terjadi sesegera datang secepat mungkin.


Semua orang diliputi perasaan asam dan cemburu di hati masing-masing. Mereka menggumamkan kata-kata penuh kebencian kepada Aish dan bersumpah akan membalas Aish satu hari nanti. Mereka lupa bahwa Aish juga bagian dari keluarga mereka, orang yang selalu mereka pandang rendah di rumah dulu.


__ADS_2