
Beberapa hari kemudian hasil ujian akhir akhirnya keluar. Semua orang berbondong-bondong melihat papan nilai di depan kantor staf pondok pesantren. Ada yang berseru senang karena nilainya meningkat, dan ada pula yang berseru sedih karena nilainya menurun. Tak jarang beberapa orang memiliki reaksi yang datar seolah tidak tertarik dengan nilai yang ada di secarik kertas. Dari semua reaksi orang-orang ini, Aish kembali menjadi kekaguman banyak orang. Terutama orang-orang yang tinggal bersamanya di dalam kamar. Mereka semua sungguh tidak menyangka bila Aish mampu masuk 10 besar di dalam kelas dan ikut masuk 100 besar di pondok pesantren. Hei, jangan salah. Meskipun terdengar remeh tapi sesungguhnya ini sangat luar biasa. Sebab kenapa? Karena pelajaran di pondok pesantren sangat sulit dibandingkan pelajaran yang ada di sekolah umum. Di sekolah umum pelajaran yang dipelajari cukup formal seperti matematika, bahasa, sains dan sebagainya. Tapi di pondok pesantren mereka tidak hanya mempelajari pelajaran ini tapi juga mempelajari ilmu-ilmu yang tidak akan didapatkan di sekolah umum. Ada banyak sekali kitab-kitab dengan tulisan Arab gundul dengan berbagai macam bab-bab pengetahuan di dalamnya. Orang yang tidak terbiasa dengan pelajaran di pondok pesantren pasti akan geleng-geleng kepala melihat betapa rumit yang dipelajari oleh anak-anak di pondok pesantren. Inilah dirasakan oleh Aish. Karena kesan pertama orang kepadanya, ditambah lagi dia adalah anak pindahan yang baru beberapa bulan tinggal di pondok pesantren, mereka semua ragu dengan prestasi Aish di sekolah.
Tapi yang mengejutkan adalah Aish berhasil membuktikan bahwa hasil tidak akan pernah menghianati usaha. Man jadda wajada, barang siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan mencapai tujuannya. Dan pepatah ini telah dibuktikan langsung oleh Aish sendiri di bawah mata keheranan teman-teman kamarnya.
"Masya Allah Aish, kamu teh luar biasa. Aku nggak nyangka kamu masuk 10 besar di dalam kelas dan mengalahkan teman-teman yang lain." Ketua kelas berlari menghampiri Aish dan mengucapkan selamat kepadanya.
Ketua kelas bernama Ratna, dia adalah langganan ranking 1 di dalam kelas dan selalu berebutan tempat dengan Siti. Namun khusus tahun ini dia harus merelakan tempatnya kepada Nadira. Benar sekali, Nadira menempati posisi pertama di kelas dan posisi ke 5 seangkatan di pondok pesantren. Kecerdasan Nadira dan prestasinya yang gemilang sekali lagi membuat orang-orang mengaguminya.
"Alhamdulillah, aku juga tidak menyangka bisa masuk 10 besar di dalam kelas. Ini murni karena pertolongan Allah kepadaku. Tapi ngomong-ngomong Ratna, kali ini dirimu digeser oleh Nadira. Apakah kamu marah?" Aish bercanda.
Ratna memutar bola matanya malas.
"Siapa yang mau melawan dia, di mataku dia adalah perpustakaan berjalan, kepalanya dipenuhi oleh banyak ilmu pengetahuan. Aku tidak tahu berapa banyak buku yang telah masuk ke dalam kepalanya karena ujian kemarin hampir diselesaikan dengan penuh oleh Nadira. Kalah dari Nadira bagiku bukan apa-apa. Tapi kalah dari Siti, ugh... aku pasti akan pingsan karena marah!" Ujar Ratna berpura-pura geram.
Kebetulan Siti juga mendengar percakapan mereka berdua.
"Oh, masih ada ujian nasional. Aku tidak akan kalah lagi darimu." Celetuk Siti bercanda.
Ratna tertawa,"Baik, kita lihat saja."
Terlepas dari nilai yang turun atau naik, suasana kamar masih damai seperti sebelumnya. Mereka cukup puas dengan nilai masing-masing.
"Hah, sayang sekali." Desah Ratna ketika mengingat deretan angka yang didapatkan oleh Gadis.
"Tahun ini nilainya turun. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan hingga membuat kinerja belajarnya menurun sampai-sampai tidak masuk 10 besar lagi. Biasanya dia selalu menempati posisi 10 besar setiap tahun. Dan aku dengar-dengar dari ustadzah, awalnya pondok pesantren berencana memberikannya beasiswa pendidikan ke Mesir bersama beberapa santriwati yang telah terpilih, tapi karena dua kasus kemarin, otomatis dia tidak memiliki kualifikasi untuk mendapatkan beasiswa dan terpaksa dikeluarkan dari pondok pesantren. Sayang sekali... Dia adalah anak yang berprestasi. Kalau saja bisa menahan diri, maka mungkin semuanya tidak akan seburuk ini." Ucap Ratna membuat mereka terdiam.
Gadis dulu tidak seperti ini. Dia adalah orang yang polos, baik, dan lembut. Entah sejak kapan dia tiba-tiba berubah menjadi orang lain sampai-sampai menyakiti orang-orang yang tidak bersalah. Setiap kali mengingat Gadis, mereka semua pasti menyayangkan apa yang telah Gadis lakukan.
"Ini sudah jalannya, percuma saja memikirkan dia. Sebanyak apapun kita memikirkannya, yang terjadi tidak akan pernah berubah dan dia juga tidak bisa kembali ke pondok pesantren." Ucap Siti tidak mau terlalu ambil pusing dengan masalah Gadis.
Dia bukannya tidak memiliki hati nurani dan tidak perduli kepada Gadis. Bukan seperti itu. Dia selalu berpikir bahwa apa yang ditaburkan, maka itulah yang dituai. Gadis berada di posisi ini bukan karena dianiaya oleh mereka tapi karena dia yang menganiaya dirinya sendiri.
"Benar, semuanya sudah berlalu. Oh ya ngomong-ngomong pondok pesantren sedang mengadakan bazar di luar. Ustadzah bilang kita bisa belanja sepuasnya hari ini. Jadi sayang kalau dilewatkan sebab hari ini tidak datang sering-sering. Ayo pergi sebelum kita kehabisan bagian." Ratna baru ingat kalau di luar ada bazar.
Jadi sebelum terlambat, dia mengajak teman-temannya segera ke kantin.
"Enggak pergi?"
Teman-teman kamar yang lain sudah mulai bergerak sementara Dira dan Gisel tak bergerak sedikitpun.
"Nanti dulu deh. Kantin pasti rame banget sekarang." Kata Dira malas.
"Lho, kok tumben?" Aish duduk di sampingnya.
Biasanya Dira dan Gisel selalu semangat kalau sudah masuk urusan makanan.
"Lagi enggak mood. Kita ngomongin masalah kamu dulu. Selamat ya Aish atas nilai kamu. Di antara kita bertiga kamu berhasil melampaui orang-orang di pondok pesantren dan mematahkan prasangka bahwa tidak semua anak pindahan di pondok pesantren tidak bisa beradaptasi dengan pelajaran di sini. Aku senang kamu memiliki nilai yang tinggi." Ucap Dira tulus sambil memeluk pundak sahabatnya sayang.
Ketika melihat nilai sahabatnya yang sangat tinggi, biar rasanya ingin bersorak saling bahagianya. Memang bukan dia yang memiliki nilai setinggi itu tapi reaksinya seolah-olah nilai itu adalah miliknya. Bagaimana dia tidak senang dengan kemajuan sahabatnya? Selama ini sahabatnya selalu dipandang sebelah mata karena nilainya yang jelek di sekolah dulu. Bahkan orang tuanya sendiri malu dengan nilai Aish. Tapi di pondok pesantren, semuanya langsung dipatahkan oleh Aish. Dia terbukti mampu dan tidak sebodoh yang orang-orang pikirkan. Malah sebaliknya, Aira, yang selama ini selalu dibangga-banggakan oleh mulut kedua orang tuanya dan teman-teman di sekolah dulu ternyata tidak memiliki nilai yang tinggi. Baik pelajaran umum ataupun pelajaran pondok pesantren, hasilnya sangat buruk. Untunglah dia sudah angkat kaki dari pondok pesantren, jika dia sampai melihat nilainya di papan pengumuman, maka dia pasti akan berteriak histeris ketakutan untuk membuat drama baru lagi.
"Terima kasih. Aku tidak berani terlalu bahagia karena nilai ini untuk sementara. Takutnya gara-gara nilai ini, aku sampai melalaikan ujian nasional ku bulan depan hingga mendapatkan nilai jelek. Aku sangat takut memikirkannya." Inilah alasan kenapa Aish dari tadi bersikap biasa saja dipuji oleh teman-teman kamar.
Dia takut bahwa gara-gara terlalu bahagia dini membuatnya lalai akan ujian bulan depan. Banyak orang yang pernah mengalami masalah seperti ini. Mereka terlalu bahagia karena hasil sementara hingga lupa berjuang untuk perjuangan berikutnya sehingga menghasilkan sesuatu yang tidak mereka harapkan. Aish tidak mau mengikuti jejak ini, sungguh.
"Seperti biasanya, Aish selalu bijak." Ucap Gisel bercanda sembari mengelus puncak kepala sahabatnya.
"Apa sih. Jangan bilang gitu, ah." Aish tak suka.
"Terus gimana sama kalian berdua? Tadi aku lihat di papan pengumuman nilai kalian-" Sebelum Aish menyelesaikan perkataannya, Dira dan Gisel kompak memotong.
"Tidak sebaik milik kamu."
"Tidak seburuk itu." Kata mereka kompak.
Dira dan Gisel saling pandang, mulut mereka berkedut tertahan menahan tawa yang akan meledak dibibir masing-masing.
__ADS_1
"Aku belum berbicara!" Aish gemas.
Dirama memutar bola matanya malas. Apa yang perlu dibicarakan coba dari nilai mereka berdua?
"Nggak ada yang istimewa dari nilai kami. Di urutan kelas aku peringkat ke 29, benar-benar tidak seburuk itu, kan?" Ujar Dira mengumumkan nilainya dengan kerendahan hati.
Di samping Aish, Gisel menganggukkan kepalanya mengerti. Benar-benar tidak istimewa pikirnya.
"Iya, aku di kelas peringkat ke 32. Nilai kami benar-benar tidak tinggi, tapi sebagai siswa pindahan yang telah berjuang mati-matian memahami pelajaran di sini, nilai ini sebenarnya tidak buruk karena aku dan Dira berhasil mengalahkan kurang lebih 10 orang di dalam kelas." Ada rasa bangga dalam pencapaiannya di sini.
Setidaknya mereka telah melangkahi 10 kepala di dalam kelas, jadi nilai yang mereka dapatkan bisa dibilang cukup bagus. Soalnya 10 orang yang mereka langkahi bukan siswa pindahan melainkan siswa lama yang telah belajar lama di pondok pesantren, maka sebagai seorang siswa pindahan yang berhasil mengalahkan siswa lokal di tempat mereka berdua sesungguhnya sangat bangga dengan hasil yang mereka berdua dapatkan. Memang tidak setinggi ataupun sebagus milik Aish yang berhasil masuk 10 besar di dalam kelas dan 100 besar di pondok pesantren, tapi seenggaknya mereka berdua tidak berjalan di tempat.
"Mengalahkan 10 kepala di kelas, kalian sebenarnya sangat tangguh. Semakin tangguh lagi kalau kalian mau belajar keras seperti aku." Kata Aish menyayangkan.
Dira dan Gisel tidak belajar terlalu keras seperti dirinya. Mereka berdua terkesan ogah-ogahan. Hei. Dengan upaya sedikit saja mereka berhasil menempati posisi ini, bagaimana kalau mereka berjuang sedikit keras, tempat yang mereka panjat pasti lebih tinggi.
"Tidak apa-apa Aish, aku sungguh tidak keberatan dengan posisi ku sekarang." Gisel melambaikan tangannya menolak mentah-mentah belajar.
"Iya, aku sangat bersyukur dengan apa yang aku dapatkan sekarang." Begitu pula Dira.
Ketika mata mereka menangkap tulisan Arab gundul dengan berbagai macam pelajaran yang mengiritasi mata dan kepala, wajah mereka sontak berpaling menatap ke arah lain. Mereka berdua tidak sanggup menekuti pelajaran yang ada di depan pondok pesantren.
"Kalian ini.." Aish menggelengkan kepalanya tidak berdaya.
"Ah, aku sudah sangat lapar." Gisel mengalihkan topik pembicaraan.
Dira langsung bekerja sama.
"Iya, kenapa kita tidak menyusul teman-teman ke kantin? Aku denger bazar hari ini sangat lengkap dan menggoda mulut. Ayo pergi sebelum kita kehabisan stok." Mengingat makanan langsung membuat mulut Dira ngiler.
"Tadi katanya nggak mood?" Ais mengingatkan dengan murah hati.
"Iya tadinya aku enggak mood, tapi sekarang mood ku langsung balik setelah merasakan perut ku keroncongan. Ayo pergi, kita enggak boleh ketinggalan."
*****
"Aish!"
Ketika melihat sosok suaminya, pipi Aish seketika terasa panas. Dia sangat malu dipanggil langsung oleh habib Khalid tepat di depan mata banyak orang.
"Iya, kak."
Di bawah pengawasan mata cemburu beberapa santriwati, Aish berjalan cepat menghampiri suaminya. Karena habib Khalid, mereka secara alami menghentikan langkah untuk melihat pertunjukan. Pasalnya mereka sangat penasaran ingin melihat interaksi pasangan ini. Sebab ada sulur benang ketidak relaan yang masih menggantung di dalam hati mereka. Katakan saja bahwa mereka masih belum bisa melepaskan sang habib dari bayangan hati.
Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu karena kesibukan habib Khalid. Dia pikir mungkin butuh waktu lama untuk bertemu kembali karena habib Khalid pernah mengatakan bahwa dia akan sibuk mengurus sesuatu selama beberapa hari ini jadi mereka mungkin tidak akan terlalu sering bertemu seperti sebelumnya. Awalnya Aish menyesalkan semua keputusan ini, karena dia sungguh tidak bisa berpisah lama dengan suaminya. Tapi habib Khalid memberinya pengertian bahwa dia melakukan ini untuk pernikahan mereka bulan depan, untuk kebahagiaan mereka yang sudah ada di depan mata. Barulah Aish melepaskan kekecewaannya.
"Mau pergi ke mana?" Habib Khalid langsung meraih tangan Aish dan menggenggamnya lembut.
Kelembutan sang habib kepada Aish lagi-lagi mengundang kecemburuan di dalam hati para santriwati.
"Aku sama Gisel dan Dira mau pergi ke kantin. Kak Khalid tau kan di sana lagi ada bazar sekarang?" Jawab Aish dengan kepala tertunduk malu.
Aish sangat pemalu karena menjadi tontonan banyak orang. Sikap Aish saat ini membuat sang habib merasa gemas sekaligus tak senang karena dia tak bisa melihat wajah cantik Aish yang kini tengah mengembangkan rona terang.
"Tahu, punya uang buat belanja ke sana?" Tanya sang habib sembari mengeluarkan dompetnya.
Aish buru-buru menganggukkan kepalanya.
"Aku punya cukup uang, kak. Kakak nggak perlu kasih aku uang lagi."
"Ini adalah tanggung jawab aku untuk kamu, selain itu aku ingin kamu mentraktir teman-teman kamu yang lain. Anggap saja sebagai hadiah untuk nilai ujian akhir mu yang memuaskan. Aku puas dengan kemajuan cepat yang kamu lakukan di pondok pesantren. Tapi lain kali, jangan belajar keras. Memaksakan diri memiliki dampak yang buruk untuk tubuh kamu, paham?" Peringatkan sang habib kepada istrinya.
Dia sangat kecewa setelah satu bulan Aish tampak sangat kurus. Lemak yang sudah jauh-jauh dikumpulkan segera menguap entah kemana hanya dalam satu bulan. Bisa dibayangkan betapa keras Aish memaksa dirinya untuk belajar.
"Paham, kak. Kemarin benar-benar di luar dugaan. Em, sebenarnya aku sangat merindukan kakak saat itu tapi tak bisa memuaskannya karena kakak sedang dalam perjalanan bisnis. Maka dari itu aku menggunakan belajar sebagai wadah untuk melampiaskan rasa rindu yang tak bisa ku luapkan. Dan seperti yang kakak lihat, hasilnya tidak terlalu buruk." Kata Aish dengan suara melemah.
__ADS_1
Pipinya terasa sangat panas sekarang. Rasanya memalukan harus mengakui bahwa dia pernah berada di titik yang sangat menjengkelkan. Rindu sungguh sangat rindu, namun tak bisa meluapkan kerinduan yang telah mengamuk di dalam dada. Dari pengalaman di bulan itu dia akhirnya mengerti bagaimana perasaan istri bang Toyib ketika ditinggal pergi hingga melewati beberapa kali lebaran tanpa kabar. Jika Aish yang ditinggal pergi hingga beberapa kali lebaran tanpa kabar oleh sang habib, mungkin dia bukan lagi merasa rindu tapi marah!
Ugh, sangat menjengkelkan menahan rindu.
"Maafkan aku. Kejadian itu tidak akan pernah terulang lagi. Dan aku juga sudah berbicara kepada Umi tentang masalah itu. Dia meminta maaf kepadamu. Karena keegoisannya yang masih memikirkan Nadira, membuat dia mengabaikan amanah yang ku berikan kepadanya. Aku sungguh tidak suka dengan perilakunya. Dia adalah seorang Ibu untuk kamu dan anak-anak ini di pondok pesantren. Harusnya dia mau berbelas kasih menjadikan kamu sebagai putrinya. Meskipun bukan putri kandung, tapi setidaknya dia tidak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal untuk kamu. Aku mengerti bahwa dia adalah seorang Ibu untuk Nadira, namun bukankah itu sudah menjadi tugasnya untuk kamu dan anak-anak yang lain? Aku kecewa. Lalu bagaimana dengan kamu, maukah kamu memaafkannya?" Sang habib mengeluh tentang Umi kepada istrinya.
Membuat Aish kewalahan dan salah tingkah pada saat yang bersamaan. Ugh, entah kenapa dia merasa jika bada suaminya agak terdengar manja?
Mungkinkah ini hanya perasaannya saja?
"Kamu tidak mau memaafkannya?" Tanya sang habib lagi.
Aish buru-buru menggelengkan kepalanya panik. Mana mungkin dia tidak memaafkan kesalahan Umi. Terlepas rasa menjengkel yang dia rasakan pada bulan itu, Umi selalu memperlakukannya dengan baik. Dan yang lebih penting lagi, Nadira membantunya menghafal Al-Qur'an. Lupakan soal kesalahan yang dilakukan oleh Umi, perhatian dan kebaikan Nadira sudah lebih dari cukup memaafkan kesalahan Umi kepadanya . Selain itu Umi juga sudah banyak membantunya menyelesaikan masalah di pondok pesantren, maka bagaimana mungkin dia tidak berdamai dengan Umi hanya untuk masalah sekecil itu?
"Aku... Aku sudah lama memaafkan, Umi, kak. Dia adalah orang yang baik dan sering membantuku memecahkan masalah di pondok pesantren. Selain itu Nadira juga membantuku menghafal Al-Qur'an ketika kak Khalid tidak ada di pondok pesantren. Sikapnya yang lembut dan ramah membuatku sangat nyaman, jadi mana mungkin aku masih marah kepada Umi? Dia dan Nadira adalah orang-orang yang sangat baik. Aku juga mengerti alasan kenapa dia melakukan itu. Karena dia adalah seorang Ibu untuk Nadira, alasan ini sudah cukup untukku memaafkannya." Ucap Aish tidak mau ambil pusing.
Dia bersungguh-sungguh dengan apa yang dia katakan barusan.
Mendengar apa yang dikatakan Aish di tambah dengan nada seriusnya, sang habib langsung tersenyum lebar berbanding terbalik dengan keluhannya tadi.
"Benar saja, kamu sudah berubah banyak Aish. Aku lega akhirnya kamu bisa melewati masalah ini dengan tampang sepele. Hem, menyepelekan urusan dunia. Bukan hanya dari masalah ini saja, tapi kamu juga berhasil membuatku kagum dari masalah-masalah yang lain. Contohnya seperti masalah yang kemarin. Aku lega saat mengetahui bila kamu memaafkan mereka, memaafkan orang-orang di dalam keluarga Ayah yang selama ini telah menyakiti kamu. Aku sangat bangga dengan perubahan kamu." Ucap sang habib tulus.
Aish tertegun. Dari mana sang habib tahu bahwa dirinya telah memaafkan keluarga Ayah?
Pasalnya dia tidak pernah berbicara kepada siapapun bahwa hatinya mulai berdamai dengan keluarga Ayah. Faktanya malah dia telah menutupi semua ini jauh di dalam hati. Pikirnya hanya Allah yang tahu bahwa dia tidak lagi menganggap serius masa lalu. Bahwa masa lalu tak kan pernah bisa menyakiti atau membuatnya menangis seperti dulu lagi. Sekarang dia sudah sekuat ini.
"Semua orang pasti akan berubah..." Bisik Aish malu.
Pujian dari sang habib membuat hatinya dipenuhi oleh madu. Serasa mengambang ke atas awan, entah sudah berapa awan yang dia lewati Aish tidak sempat menghitungnya. Baik hati dan tubuhnya serasa dimanjakan oleh usapan lembut dari kelembutan sang habib.
"Namun tidak semua orang berhasil melalui fase ini dan aku senang kamu berhasil melewatinya Aish." Sang habib masih memuji.
Ugh, rasanya Aish ingin berteriak sekeras mungkin. Setelah itu dia ingin berlari kencang sembari memberikan pengumuman kepada anak-anak di pondok pesantren bahwa habib Khalid sangat bangga kepadanya. Bahwa habib Khalid terus menerus memujinya!
Tapi...tapi dia hanya ber-angan-angan saja. Mana berani dirinya melakukan tindakan konyol itu di pondok pesantren, apalagi di sini ada suaminya, urat malunya belum putus.
"Em... semuanya karena kak Khalid dan orang-orang di sekitarku...." Perubahan yang dialami tidak terlepas dari perhatian sang habib dan orang-orang yang di sekitarnya.
Dan yang lebih penting, perubahan ini terjadi karena ridho dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dia kirimkan orang-orang baik ini ke dalam hidupnya hingga membuat dirinya berada di titik ini. Titik yang belum pernah dirasakan dalam hidupnya.
"Baiklah, ambil uangnya dan temui teman-teman kamu. Setelah selesai belanja di bazar, langsung kembali ke asrama dan jangan keluar lagi. Mengerti?"
Aish mengangguk dengan enggan. Kali ini dia tidak menolak uang dari suaminya. Dia mengambil uang itu dan memegangnya erat-erat.
"Tak mau salam?" Saat dia akan berbalik, langkahnya tiba-tiba ditahan oleh sang Habib.
Aish melihat tangan yang terulur di depan. Barulah dia ingat bahwa mereka sudah halal dan sudah semestinya dia mencium tangan suaminya sebagai salam.
"Salam, kak. Assalamualaikum." Dengan pipi merona dia meraih tangan suaminya dan mencium tangan itu penuh kasih. Mulai sekarang, kunci surganya beralih ke tangan suaminya. Ridho suaminya adalah ridho Allah subhanahu wa ta'ala. Bila suaminya ridho dia mendapatkan kunci surga itu, maka Allah pun ridho kepadanya.
"Waalaikumussalam. Jaga dirimu baik-baik." Sang habib mengangkat tangan yang satu untuk mengelus rambut puncak kepala istrinya.
Alhasil karena tindakannya ini, para santriwati yang telah diam-diam menonton interaksi mereka merasa kagum sekaligus cemburu. Beberapa orang bahkan sampai mengelus dada karena perhatian sang habib kepada Aish telah membuat hati mereka diporak-porandakan oleh rasa sakit sekaligus cemburu.
"Em." Setelah berpamitan kepada suaminya, dia bergegas menghampiri Dira dan Gisel yang telah lama menunggu. Hampir saja mengira jika Aish lupa dengan keberadaan mereka berdua. Pasalnya ketika berbicara dengan sang habib, sahabat mereka itu tidak pernah menoleh ke belakang ataupun sekedar melambaikan tangan kepada mereka. Jadi wajar saja mereka berpikir seperti itu.
"Cie yang baru ketemu sama suaminya." Goda Dira kepada Aish.
Aish mendengus. Rona merah di wajahnya kembali menghiasi pipinya. Ugh, ini sangat memalukan pikirnya.
"Kenapa, iri ya? Kalau iri cepetan nikah, gih. Biar enggak jomblo terus." Gua balik Aish kepadanya.
"Nggak iri kok. Nikah bagi yang siap aja secara mental dan finansial biar rumah tangganya enggak amburadul. Pokoknya yang paling utama itu pasangan suami istri harus saling mencintai, menerima kelemahan kelebihan masing-masing dengan berlapang dada agar generasi yang mereka lahirkan hidup dalam kebahagiaan dan tidak tersiksa dalam penderitaan . Sejujurnya kekurangan ekonomi masih bisa ditanggung oleh anak-anak tapi ceritanya akan berbeda bila orang tua memiliki masalah atau bahkan sampai memutuskan berpisah. Luka itu tak akan bisa ditanggung dengan mudah oleh seorang anak, sedewasa apa pun anak itu, jauh di dalam hati mereka masih lah anak kecil yang mengharapkan cinta dari kedua orang tuanya. Dan jujur saja, pengalaman yang kudapatkan dari kedua orang tuaku mengajarkanku bahwa pernikahan itu adalah urusan yang sangat serius sebab melibatkan banyak kehidupan. Bila pernikahan itu dijadikan sebagai ajang keterpaksaan atau sekedar bisnis, maka hasil akhirnya pun akan mengecewakan. Anak-anak akan menjadi korban dari keegoisan orang tua. Inilah yang kurasakan dari pernikahan kedua orang tua ku. Sebanyak apapun mereka memberikanku uang, rumah mewah, fasilitas mumpuni, semua itu tidak akan bisa melegakan kekosongan di dalam hatiku. Maka dari itu aku selalu menekankan kepada diriku bahwa aku tidak boleh mengikuti langkah kedua orang tua bila suatu hari aku menikah. Aish," Dira mengambil tangan Aish dan memegangnya. Sambil berjalan dia lanjut berbicara.
"Jujur saja aku ingin seperti kalian berdua. Kalian terlihat sangat tulus saling mencintai, dan habib Thalib pun memperlakukan kamu dengan lembut dan penuh perhatian. Setiap kali aku melihat kalian berdua, aku selalu berpikir bahwa pernikahan kalian pasti diwarnai dengan keharmonisan. Anak-anak yang lahir dari kalian berdua akan memiliki hidup yang sangat luar biasa bahagia. Sebab aku sangat percaya kepada habib Thalib jika dia mampu menjadikan kamu sebagai istri dan Ibu yang baik di dalam rumah tangga kalian. Aish, mungkin pikiran ini dimiliki oleh banyak wanita di luar sana bahwa sebagai seorang wanita kita ingin dihargai dan dicintai, dijadikan ratu oleh orang yang kita cintai. Karena bila seorang suami memperlakukan kita sebagai ratu, maka rumah tangga akan berdiri kokoh dan tak mudah digoyahkan. Aku percaya bahwa semuanya tergantung pada laki-laki yang menjadi imam dalam suatu rumah tangga. Oleh karena itu aku berharap bila suatu hari nanti Allah berikan aku kesempatan untuk menikah, aku ingin menikah dengan laki-laki sebaik habib Thalib dan setegas habib Thalib. Agar aku tidak meninggalkan penyesalan di sisa usiaku selanjutnya."
__ADS_1
Aish tersenyum lembut, dia mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya dan dia memahami apa yang diinginkan oleh sahabatnya. Perasaan ini... Katakan saja dirasakan oleh orang-orang yang tidak hidup bahagia dalam keluarganya. Hanya mereka yang pernah mengalami penderitaan di dalam sebuah keluarga dan terabaikan dalam kasih sayang orang tua lah yang bisa memahami semua ini. Benar, anak broken home adalah korban yang seringkali mengharapkan sebuah kehangatan untuk mengisi kekosongan yang mereka rasakan setelah ditinggalkan orang tua.
"Semoga Allah mengabulkan apa yang kamu inginkan, dan aku berdoa yang terbaik untuk kehidupan kamu serta Gisel selanjutnya." Bisik Aish tulus.