
Aish terkejut. Dia spontan mengangkat kepalanya menatap wajah tampan habib Khalid yang terhalang lapisan kaca jendela di depannya. Seperti dirinya, habib Khalid balas menatapnya- oh, tidak, atau lebih tepatnya habib Khalid selalu seperti ini sejak berdiri di sini. Matanya tak pernah beralih dari wajah tertunduk malu Aish.
Melihat mata tajamnya yang seterang bintang, Aish tak kuasa menahannya. Ia dengan jujur menundukkan kepalanya menghindari mata gelap nan tajam itu. Aneh pikirnya. Hanya melihat saja membuat hatinya begitu gentar dan melunak. Membuat hatinya bertanya-tanya apakah apa yang dia rasakan saat ini juga dirasakan oleh para gadis di sini?
Mungkin iya, namun, hatinya bertanya-tanya lagi apakah para gadis di sini juga ditatap sedemikian dalam oleh habib Khalid?
Ah, bolehkah Aish menilai bila tatapan habib Khalid barusan agak dalam?
"Untuk apa?" Aish meraih tali ketenangannya yang sempat goyah.
Dihadapan orang yang dia sukai, hati maupun tubuhnya kadang mengambil tindakan yang sangat sinkron, yaitu sebuah ketidakberdayaan.
Habib Khalid tersenyum lembut melihat penghindaran Aish.
"Untuk masalah kemarin, aku minta maaf." Ujarnya menjawab kebingungan Aish.
Aish sekali lagi tertegun. Jika dipikir dengan hati-hati orang yang bersalah di sana adalah dia, Dira, dan Gisel yang ngotot ingin masuk ke dalam asrama. Tapi tetap saja, tak seharusnya mereka dipermalukan di depan banyak orang. Bila ingin menegur, ada baiknya menegur di tempat yang agak jauh atau sepi dari keramaian.
Bukan justru menegurnya di tempat umum sebab itu sama saja mempermalukannya.
Dia memang bukan ahli agama tapi masih mengetahui ada sedasar ini.
"Bukan masalah. Lagipula semua itu sudah berlalu." Hatinya menghangat tanpa sadar.
Semua keluh kesahnya terhadap masalah kemarin tanpa sadar tersapu oleh permintaan maaf habib Khalid.
"Aku tidak tahu, tapi terima kasih karena telah memaafkan ku." Katanya membuat Aish semakin tersanjung.
__ADS_1
Dia salah tingkah. Sejenak, dia tidak tahu harus meletakkan tangan dan kakinya dimana karena semua pikirannya telah dipenuhi oleh kata-kata hangat habib Khalid.
Melihat wajah tertunduk Aish yang diam membisu, senyuman habib Khalid tanpa sadar mengendur. Dia menundukkan kepalanya menatap gelapnya tanah di pijakan kakinya. Kemudian dia menoleh ke belakang untuk melihat kemana arah teman patrolinya pergi.
"Tidurlah mumpung ada kesempatan. Sebentar lagi kalian akan dibangunkan untuk melaksanakan sholat tahajud dan tidak ada lagi waktu untuk tidur sampai siang hari." Habib Khalid mundur beberapa langkah ke belakang dan bersiap akan pergi.
Aish langsung mengangkat wajah merahnya menatap wajah datar habib Khalid-, untuk sesaat dia terkejut karena belum pernah dirinya melihat wajah habib Khalid yang begitu serius.
Ragu,"Apakah... apakah aku bisa tidak pergi sholat tahajud? Soalnya aku belum... tidur." Katanya bertanya.
Bisa dibayangkan bagaimana gak nyamannya dia nanti saat sholat karena hanya tidur satu jam saja hari ini.
Habib Khalid anehnya tersenyum, begitu manis pikir Aish. Dan Aish pikir jawabannya pun tak kalah manisnya dari wajah tampannya. Untuk alasan ini dia mulai mengembangkan sebuah harapan.
"Maaf, kamu tidak bisa. Salahkan dirimu yang tidak tidur dan begadang semalaman." Katanya kejam.
Aish cemberut, tangannya gatal ingin memukul jendela. Tapi teringat akan teman-teman kamarnya yang telah lama terlelap, dia akhirnya menghela nafas panjang mengurung kan niatnya.
Namun hatinya segera merasa rumit. Habib Khalid adalah orang yang sangat sulit untuk Aish pahami. Terkadang Aish merasa bila laki-laki tampan itu memperlakukannya dengan berbeda, jauh berbeda dari para gadis di sini. Tapi ketika mengingat hukuman yang akan dia jalankan besok, hatinya segera menepis pemikiran itu. Tapi... mengapa-
"Jangan pikirkan lagi Aish! Ayo tidur agar kamu bisa menjalankan hukuman dengan baik besok!" Katanya mencela dirinya sendiri, mengusir pikiran gilanya.
Dia kemudian membaringkan dirinya di atas kasur tanpa berniat menarik gorden jendelanya.
Namun sulit dipungkiri bila hatinya sangat hangat malam ini. Senang rasanya dapat berbicara dengan orang yang disukai.
"Aneh-hoam..." Dia tiba-tiba merasa mengantuk setelah berbicara dengan habib Khalid.
__ADS_1
Perlahan sinar matanya mulai meredup seiring dengan kelopak matanya yang semakin berat. Berat, sinar bulan mulai menarik diri dari pandangannya hingga matanya tiba-tiba menjadi gelap. Dia akhirnya jatuh tertidur setelah begadang dan sempat berbicara dengan habib Khalid.
Pukul 3.30 dini hari, alunan lembut suara seseorang sedang membaca Al-Qur'an mulai bergema di dalam pondok pesantren. Satu demi satu para hamba yang sempat tertidur lelap dibawah tekanan rasa lelah akhirnya terbangun dengan semangat baru. Meskipun masih diliputi rasa kantuk, mereka semua tetap meninggalkan tempat tidur yang hangat dan lembut.
"Gisel, Dira. Ayo bangun." Panggil Gadis membangunkan mereka berdua.
Dia adalah orang pertama yang bangun diantara mereka berempat.
"Hem..." Gisel menolak bangun.
"Ayo bangun. Kita harus pergi ke masjid. Jika kalian tidak segera bangun, kak Nasha akan datang dengan seember air untuk menyiram kalian." Kata Gadis mengancam.
Tapi ini bukan ancaman kaleng-kaleng karena kebiasaan di pondok pesantren ini memang begitu. Jika ada santri ataupun santriwati yang malas bangun, maka staf kedisiplinan asrama akan turun tangan menyiram mereka semua dengan air. Tidak perduli apakah santri ataupun santriwati basah, kasurnya basah, selimutnya basah, para staf tidak akan berhenti sampai mereka meninggalkan tempat tidur.
Tapi hukuman ini jarang dilakukan karena semua santri ataupun santriwati memiliki kedisiplinan yang tinggi. Kecuali saat menerima gelombang santri ataupun santriwati baru, karena belum terbiasa, mereka sering kena hukuman. Tapi kalau sudah kena hukuman sekali, mereka biasanya akan kapok dan berusaha bangun sedini mungkin.
"Anjir, apa-apa dihukum dikit. Kalian semua enggak stres apa tinggal di sini?" Dira yang masih tenggelam dalam rasa kantuk langsung bangun dari tidurnya ketika mendengar ocehan Gadis.
Gadis tersenyum tipis,"Kalau kalian sudah terbiasa bangun pagi, semuanya akan baik-baik saja." Jawabnya tidak enak.
Dira memutar matanya. Lalu beralih melihat Aish yang masih tenggelam dalam dunia mimpi. Melihat tidur Aish yang lelap dan tidak bergerak banyak, Dira langsung menghela nafas panjang. Berpikir dalam hati bahwa saat tidur pun Aish memiliki pesona tersendiri.
"Aish, ayo bangun." Dira menggoyangkan badan Aish.
Aish tidak menggubris karena terlalu mengantuk.
"Aish..." Panggil Dira seraya memeluk Aish, matanya berat dan kembali jatuh tertidur.
__ADS_1
Melihat Dira tidur kembali, Gisel juga langsung merebahkan dirinya di atas kasur berniat kembali memasuki alam mimpi.