
Habib Khalid melihat belanjaan yang ada di tangan Aish dan langsung mengerti, tersenyum geli, tangan habib Khalid terulur ke depan untuk mengambil belanjaan yang ada di tangan Aish. Dia mengambil barang-barang itu tanpa permisi atau mengucapkan sepatah katapun.
"Habib...jangan..." Aish ingin menariknya tapi habib Khalid memegang kain kresek dengan kokoh.
"Tanganmu masih sakit." Kata habib Khalid.
Aish bingung,"Tanganku sungguh tidak apa-"
"Ayo ke toko pakaian. Kita harus bergerak cepat sebelum para staf dapur umum kehilangan sabar." Kata habib Khalid tanpa melihat ekspresi kosong mereka.
Kecuali Aish, mereka semua memiliki pandangan aneh kepada habib Khalid karena tangan yang menampung banyak barang bukan cuma Aish, tapi mereka semua! Lalu kenapa habib Khalid hanya berfokus mengambil barang Aish?
Ck...ck... pasti ada apa-apa nih. Batin Dira menebak.
Gisel menyenggol lengan Aish iseng,"Hem."
Aish malu. Wajahnya sangat panas. Dia diam-diam menarik tangannya yang yang sudah diperban dan meremat nya lembut, selembut desiran hangat yang bergejolak di dalam hatinya.
Karena habib Khalid ada di sini proses berbelanja jauh lebih cepat dan lancar dari sebelumnya. Mereka tidak membuat masalah dan langsung memilih pakaian setelah sampai di toko baju. Memang seperti yang dikatakan habib Khalid bila kualitas kain di sini jauh lebih baik dan tidak mahal sehingga mereka cukup puas.
"Kamu enggak pilih baju?" Tanya Aish ke Siti.
Siti menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin membeli baju." Jawabnya.
Dia tidak membawa uang karena langsung diseret pergi sama Aish dan kalaupun membawa uang, dia tidak akan membelanjakannya karena uangnya hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari.
"Oh." Aish tidak mengatakan apa-apa lagi.
Sebelum pergi dia sempat menilai bentuk tubuh Siti secara kasar.
Setengah jam kemudian mereka akhirnya membayar semua tagihan ke pelayan toko. Mereka membeli banyak hal dan merupakan pelanggan besar yang sangat langka di toko. Hanya dengan kekuatan mereka bertiga saja hampir seperempat stok toko menghilang dan menghasilkan banyak uang karena tidak ada tawaran.
Melihat ini para pelayan toko tidak bisa tidak tersenyum sepanjang berbicara dengan mereka. Sampai-sampai Gisel dan Dira merasa kram sendiri dengan antusias orang-orang toko.
Barang belanjaan mereka sangat banyak dan harus menggunakan jasa pembawa barang karena mereka berlima tidak mampu membawa semuanya.
__ADS_1
"Ck, anak jaman sekarang sangat boros." Toko sebelah menatap iri pada toko yang baru saja ditinggalkan Aish.
...****...
"Terima kasih, habib, untuk hari ini..." Aish meremat tangannya gugup.
Dihadapan habib Khalid kemampuan berbicaranya menjadi rendah. Dia tiba-tiba kesulitan mengucapakan kata-kata.
Habib Khalid tersenyum sembari menurunkan semua barang-barang belanjaan Aish dan teman-temannya dari bagasi mobil.
"Sama-sama. Besok kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk memanggilku 'kak Khalid'."
"Ah?" Aish mengangkat kepalanya kaget.
Dug
Dug
Dug
Dadanya mulai membuat keributan lagi. Aneh dan hangat, semua perasaan yang belum pernah dia bayangkan dan rasakan mulai membanjiri hatinya.
Aish linglung.
"Itu...aku takut memanggil mu terlalu akrab..." Kata Aish tanpa sadar.
Habib Khalid perlahan menegakkan punggungnya, kepalanya menunduk menatap lurus wajah menawan Aish yang perlahan memerah di bawah pengawasan mata gelapnya. Aish adalah gadis yang menawan dan cantik. Tidak hanya wajahnya yang mempesona namun juga senyumnya yang manis memiliki daya tarik tersendiri. Dan dengan karakternya yang tidak ramah, Aish memiliki pesona yang sungguh tidak mudah untuk ditolak...
Sungguh tidak mudah.
Suaranya begitu rendah,"Aku lebih suka kamu memanggilku 'kak Khalid'." Katanya menekankan.
Setelah berbicara, habib Khalid langsung mengalihkan perhatiannya ke mobil lagi, menutup pintu bagasi dan memanggil ketiga lainnya untuk segera mengangkut barang mereka.
"Tidak mudah memasuki asrama putri jadi aku tidak bisa membantumu membawa barang-barang ini."
Aish langsung tersadar dari lamunannya. Dia mengangkat kepalanya dan menatap habib Khalid dengan hati-hati. Ragu, namun dia mencoba mengangkat suaranya untuk memastikan kebenarannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa....kak Khalid. Aku bisa meminta bantuan dari teman-teman kamar yang lain." Katanya dengan suara kecil namun masih bisa di dengar oleh habib Khalid.
Habib Khalid menoleh ke Aish, menundukkan kepalanya hingga Aish bisa melihat dengan jelas betapa indah garis senyuman lembut yang tergurat di wajah tampan tanpa cela nya.
"Oh, senang akhirnya kamu bisa akrab dengan yang lain." Mengalihkan perhatiannya kembali ke mobil, suara rendah itu kembali mengalun lembut di bawah perantara udara siang yang jenuh,"Dan aku senang kamu tinggal bersamaku di sana."
Aish tertegun. Mata aprikot nya terbuka lebar menatap tak percaya pada sosok laki-laki tampan yang telah membuat hatinya terombang ambing selama beberapa waktu ini. Apa maksudnya berbicara seperti itu?
Aish bingung dan kembali melambungkan sebuah harapan. Kata-kata terakhir habib Khalid tidak romantis tapi mengapa Aish selalu merasa bila rumah hangat dan damai yang selama ini ia mimpi-mimpi kan adalah habib Khalid?
Mungkinkah posisi habib Khalid dihatinya sudah setinggi itu?
Perasaannya tumbuh baru-baru ini, belum setengah tahun, belum setahun, belum 10 tahun, tapi mengapa habib Khalid memberikannya sebuah perasaan hangat.... sehangat rumah yang selama ini dia mimpikan. Rumah yang menerima apa adanya diri ini, menerima kekurangannya, kebodohannya, kecerobohannya, ketidaktahuannya, dan rumah yang akan selalu mendekapnya erat... apakah ini nyata?
"Aku-"
"Habib, aku sudah memanggil teman-teman kamar untuk membantu. Mereka sudah ada di sini."
Suara Siti langsung menginterupsi ucapan Aish. Dia baru saja memanggil teman-teman kamar untuk datang membantu membawa barang-barang kembali ke kamar.
"Baik, kalian bisa mengurus sisanya karena aku harus kembali ke kantor untuk mengurus sesuatu. Assalamualaikum."
Setelah mengucapkan salam perpisahan, habib Khalid lalu pergi meninggalkan mereka di parkiran. Membiarkan Aish dan anak-anak yang lain untuk mengurus barang-barang yang menumpuk di tanah.
"Aish, kamu tadi ngomong apa sama habib Thalib?" Dira yang kepo segera mendekati Aish begitu habib Khalid menghilang dari pandangan mereka.
Aish tersenyum malu. Dia menundukkan kepalanya pura-pura mengambil barang-barang agar mereka tidak melihat wajahnya yang merah.
"Bukan apa-apa." Katanya mengelak.
Gisel dan Dira saling pandang tidak setuju.
Mereka tahu ada sesuatu yang salah dengan habib Khalid tapi mereka tidak berani mendekat. Takutnya habib Khalid memberikan vonis hukuman yang lain gara-gara menguping pembicaraan.
"Jangan banyak bergosip lagi. Lebih baik bawa barang-barang ini ke asrama biar kita bisa segera beristirahat." Kata Aish menghindar.
Dia mengangkut barang dengan panik dan langsung memimpin jalan tanpa niat menoleh ke belakang apalagi berhenti di bawah panggilan Dira dan Gisel.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa komentarnya yah biar tambah semangat huhu😀