Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 16.5


__ADS_3

Setelah barangnya dimasukkan kembali ke dalam kantong plastik, dia lalu kembali berdiri sambil memegang kantong plastik nya seerat mungkin agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.


"Papa!" Sina berlari memeluk pinggang laki-laki jangkung itu dengan senyuman manis di wajah imutnya.


"Bagaimana putriku bisa ada bersamamu?" Tanya laki-laki jangkung itu tanpa memandangi Gisel.


Gisel tiba-tiba menjadi gugup. Apalagi saat mendengar suaranya yang familiar, hatinya langsung menegang dan gelisah. Entahlah, pesona laki-laki ini sangat mempengaruhi dirinya. Tapi Gisel berusaha mengusir pikiran gila ini dari kepalanya sebab dia tidak gila menginginkan suami orang lain.


"Ah...itu..dia tersesat di kantin rumah sakit. Karena tidak bisa menghubungi Mamanya, jadi aku memutuskan untuk menemaninya berkeliling mencari Mamanya barusan. Tapi karena Sina kelelahan, kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sini sebentar."


Sina melihat Papanya sayang dan ikut berbicara tanpa diminta.


"Kakak membelikan Sina kue yang cantik, Pa. Kakak adalah orang yang sangat baik. Sina suka bermain dengannya." Ujar Sina kecil berceloteh dengan mulut yang manis.


Orang-orang sangat mudah di luluhkan oleh mulut manis ini.


Papa mencubit hidung putrinya gemas dengan senyuman lembut di bibirnya.


"Terima kasih sudah membantu putriku. Aku akan mengganti uang yang dipakai putriku tadi untuk menyusahkan mu."


Laki-laki jangkung itu mengambil dompet dari sakunya tapi segera dihentikan oleh Gisel.


"Eh, enggak usah. Aku enggak keberatan kok dengan uang sekecil itu. Lagipula aku juga ingin berterima kasih karena kakak sudah membantuku mencari jalan keluar atas kebingunganku selama ini. Nasihat kakak semalam sangat baik." Bisik Gisel malu-malu.


Gisel bersyukur dipertemukan dengan orang yang sangat baik dan luas ilmunya seperti laki-laki ini. Dan setelah mendapatkan penjelasan dari laki-laki ini, dia akhirnya mengerti arah langkahnya di masa depan. Dan dia sangat bersyukur bahwa nasihat yang telah diberikan laki-laki jangkung ini semalam membantunya untuk maju, tidak merasa putus asa lagi atas semua dosa yang pernah dia lakukan dalam hidup ini.


"Nasihat?" Laki-laki itu menundukkan kepalanya dengan tatapan kebingungan.


Gisel langsung menjadi gugup ketika melihatnya. Mungkinkah laki-laki jangkung ini bukan dia?


Tidak mungkin. Tidak mungkin. Jelas-jelas suara dan postur tubuhnya sangat mirip. Di tambah lagi ada Sina malam itu sehingga Gisel sangat yakin jika orang itu adalah laki-laki jangkung ini.


"Jadi malam itu adalah kamu." Mata almond nya berkedip ringan melirik ke arah Gisel.


Entah apa yang dia pikirkan Gisel tak mampu menebaknya. Tapi yang pasti tatapan ini jelas membuatnya sangat gugup tanpa alasan.


Aneh, rasanya sangat memalukan. Dia memalingkan wajahnya menghindari tatapan laki-laki jangkung itu. Rasanya sangat aneh. Tubuhnya tiba-tiba terasa panas dingin saat ditatap oleh laki-laki jangkung itu.

__ADS_1


Dia tidak menatap lama, tapi efeknya sangat kuat di dalam dirinya.


"Yah, terima kasih sudah membantuku." Gisel meremat kuat tangannya.


Betapa memalukannya. Kenapa dia seperti ini di depan laki-laki yang sudah berkeluarga?


Betapa menjijikkan dirinya sekarang.


"Sina, Nak, Mama akhirnya menemukan kamu."


Gisel sontak menoleh ke samping. Di lorong kanan, seorang wanita tertutup berjalan cepat menghampiri mereka. Dari suara wanita itu tadi, Gisel mengetahui bila wanita ini adalah istri dari laki-laki jangkung itu.


Gisel mundur beberapa langkah jauhnya untuk menjaga jarak. Entahlah, ada perasaan yang tidak nyaman di dalam hatinya. Apakah dia kecewa?


Sangat lucu.


"Mama..." Sina memanggil manja wanita itu.


Wanita itu terlihat sangat cemas. Dia buru-buru merentangkan tangannya untuk mengambil Sina dari laki-laki jangkung itu, tapi sebelum dia bisa menyentuh Sina, laki-laki jangkung itu melambaikan tangannya untuk menghentikan langkah wanita itu.


"Biarkan aku yang memegangnya." Cegah laki-laki jangkung itu langsung membuat ekspresi wanita itu cemberut.


"Sina sudah kembali ke orang tuanya jadi aku harus segera pergi menemui teman-teman ku. Sina, kakak pergi, yah. Assalamualaikum." Gisel melambaikan tangannya kepada Sina dan dibalas dengan senyuman manis dari wajah imut Sina.


"Sampai juga lagi, kakak."


Laki-laki jangkung itu berbisik kepada putrinya,"Balas salam, Nak."


Wajah imut Sina langsung berubah menjadi serius dan menjawab salam Gisel dengan suara kekanak-kanakan.


Gisel hampir saja tertawa melihat tindakan lucunya. Tersenyum lembut, dia mengangguk ringan kepada pasangan suami-istri itu dan langsung pergi menuju bangsal tempat Aish sedang dirawat.


Setelah Gisel menghilang dari pandangan semua orang, laki-laki jangkung itu langsung membawa Sina berjalan dengannya tanpa menunggu wanita itu berbicara.


Wanita itu sangat marah. Dia menghentakkan kakinya marah mengikuti kemana laki-laki jangkung itu pergi.


"Mas, mas Walid tunggu! Mas, aku belum ngomong sama kamu!" Wanita itu terus memanggil tanpa memperhatikan ekspresi terganggu dari orang-orang yang hilir mudik di lorong rumah sakit.

__ADS_1


Walid menghentikan langkahnya. Mata almond nya menatap dingin ke arah wanita itu tanpa ada setetes pun kehangatan di dalamnya. Wanita itu tanpa sadar mundur satu langkah ke belakang menjaga jarak darinya.


"Apa yang perlu dibicarakan lagi, Ana? Kamu menelantarkan Sina di rumah sakit sehingga dia tersesat entah kemana. Sedangkan kamu?! Kamu asik berbicara dengan orang tanpa menyadari Sina menghilang. Apakah kamu tidak takut terjadi sesuatu dengan Sina, hah? Apa kamu tidak takut Sina kenapa-napa?" Cerca Walid dingin tanpa memperhatikan wajah cemberut Ana.


Ana merasa dianiaya.


"Aku enggak tahu mas kalau Sina pergi. Lagian ini kan rumah sakit, tempatnya sangat luas dan besar jadi aku tidak mampu mencarinya sendirian makanya aku telpon kamu tadi. Kalau aku enggak cemas dan takut, aku mana mungkin nelpon kamu, mas!"


"Kejadian ini tidak terjadi sekali dua kali, aku bahkan ragu apakah kamu melakukannya dengan sengaja."


Walid sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ana. Karena menurutnya Ana adalah wanita yang penuh dengan intrik kotor dan memalukan. Walid sudah berpengalaman dengan wanita ini.


Ana menatap Walid tak percaya. Wajahnya sangat merah antara malu dan marah. Hatinya sakit melihat betapa dingin Walid kepadanya.


"Mas, Sina adalah anakku, anak kita! Mana mungkin aku melakukan kejahatan keji ini kepada anak kita!"


Ana menekankan kata-kata terakhir dengan tidak puas dan memperjelas posisi Sina di antara mereka berdua. Namun Walid sama sekali tidak tersentuh oleh kata-katanya.


"Ana, berhenti melibatkan aku dalam hidupmu. Kita sudah bercerai." Peringat Walid dingin.


Ana membuka mulutnya panik. Satu-satunya kelemahan yang sangat ingin dia hilangkan dalam muka bumi ini adalah perceraiannya dengan Walid. Dia sama sekali tidak ingin bercerai dengan Walid, tapi mantan suaminya tidak pernah mendengar suara hatinya dan tetap bersikukuh menceraikannya.


Ana sakit hati dan tidak rela karena masih mencintai mantan suaminya ini. Jadi dia berusaha sekeras mungkin menarik perhatian mantan suaminya agar mereka bisa bersama lagi.


"Mas, Sina masih ada di sini. Kamu kok tega ungkit-ungkit masalah itu di depan anak?" Dia selalu menggunakan Sina sebagai tameng setiap kali Walid tidak puas dengannya.


Walid berkata acuh tak acuh,"Sudah 4 tahun berlalu setelah perceraian, aku tunggu takut dia mendengarnya. Lagipula Sina harus tumbuh sambil memahami lingkungan sekitarnya agar dia tidak buta sama seperti seseorang." Setelah mengatakan itu Walid langsung pergi tanpa memberikan wajah sedikitpun kepada Ana.


"Pa?" Panggil putrinya lembut.


Walid menundukkan kepalanya menyentuh puncak kepala putrinya,"Enggak apa-apa, Nak. Kita akan pulang. Kapan-kapan Papa akan mengajak kamu menemui kakak itu, okay?"


Sina langsung bersemangat,"Okay, Pa!"


Sedangkan putrinya yang masih belum mengerti dunia sangat bingung melihat orang tuanya bertengkar lagi. Namun karena sudah biasa dididik agar lebih banyak diam dalam situasi ini oleh Walid, mulut kecilnya dengan patuh tidak mengatakan apapun.


"Mas Walid, kamu sangat kejam!" Ucap Ana sedih dengan tinju terkepal.

__ADS_1


Dia melihat kepergian Walid tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun. Berjanji di dalam hatinya jika cepat atau lambat, mereka akan kembali bersama.


__ADS_2