Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 26.2


__ADS_3

"Abah, Umi, hari ini kalian telah mengecewakan ku. Kami sekeluarga membutuhkan keberanian yang sangat besar untuk berpisah dari putri tercinta kami, Aira. Kami sangat berharap dia mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berguna untuk dunia serta akhirat. Tak bisa ditampik bahwa ada rasa sakit yang kami rasakan ketika melepaskan Aira datang ke pondok pesantren yang mendapatkan banyak pujian dari mulut ke mulut. Kami sangat kesakitan tapi demi masa depannya, kami rela melepaskan Aira. Namun kami sama sekali tidak menyangka hanya dalam waktu kurang dari beberapa bulan, pondok pesantren membuat kami kecewa. Betapa terkejutnya kami sebagai orang tua ketika mendengar bahwa putri terkasih kami dinodai oleh seorang laki-laki yang santer dihormati dan diidolakan banyak orang. Apalagi dia adalah keturunan dari orang yang sangat mulia lagi dicintai oleh Allah subhanahu wa ta'ala. Tak percaya itulah yang kami rasakan, namun ketika melihat tangisan kesakitan putri kami, mau tak mau kami mempercayainya. Abah dan Umi, selaku pengurus pondok pesantren Abu Hurairah tempat di mana kami menitipkan putri kami terkasih dengan harapan yang sangat besar, kami sungguh berharap bahwa kalian dapat memberikan keadilan yang seadil-adilnya untuk putri kami. Bila dia terus-menerus seperti ini, hidup tanpa pertanggungjawaban dari orang yang menodainya, maka akan seperti apa kehidupan putri kami di masa depan nanti. Dengan noda di dalam hidupnya, apakah dia masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang yang mencintai dan menerima apa adanya masa lalu pahit yang telah dialami? Sungguh kami tak bisa bertaruh. Kami tak yakin putri kami dapat mendapatkan laki-laki yang baik karena dia memiliki masa lalu yang suram dan noda di dalam hidup. Oleh sebab itu, kami menginginkan keadilan untuk putri kami tercinta. Tolong minta habib Thalib untuk segera menghalalkan putri kami dengan cara yang benar dan sesuai dengan syariat agama. Kami sangat mengerti bahwa cinta tak bisa dibendung, namun bukan begini caranya. Jika dia mengambil jalan yang salah seperti apa yang terjadi kepada putri kami, hidup putri kami akan hancur dan nama baiknya tercoreng. Jadi sebelum semua itu benar-benar di luar batas, sebaiknya habib Thalib segera menghalalkan putri kami. Untuk pernikahan ini kami tidak meminta banyak karena kami ridho atas dia menjadi suami putri kami, kami hanya berharap bahwa dia memberikan pernikahan yang layak kepada Aira sehingga nama baiknya bisa diperbaiki dan martabatnya tidak jatuh di hadapan masyarakat luas." Mungkin karena terlalu emosi dan sakit hati, Ayah langsung mencurahkan semua isi hatinya di hadapan banyak orang dan menuntut keadilan.


Dengan lantang dan berani dia meminta habib Khalid agar segera menikahi Aira bagaimanapun caranya. Dia tidak menuntut hal-hal sulit, selama habib Khalid memberikan pernikahan yang layak untuk Aira dan mengembalikan nama baik Aira di hadapan masyarakat luas, dia dan keluarga yang lain sudah puas. Lagi pula sedari awal mereka juga setuju melihat habib Khalid menikah dengan Aira.


Tak puas dengan apa yang Ayah bicarakan, Bunda langsung angkat suara. Dengan berurai air mata dia menarik Aira ke depan, menunjukkan kepada semua orang betapa hancur putrinya setelah apa yang dilakukan oleh sang habib. Dia sangat marah, marah semarah-marahnya hingga tak bisa menahan diri untuk tidak menangis di depan banyak orang.


"Lihatlah keadaan putriku, lihatlah betapa terguncangnya putriku setelah apa yang dilakukan habib Thalib lakukan kepadanya-" Bunda langsung tersedak ketika mendengar teriakkan beringas orang-orang di luar maupun di dalam.


"Huhh..."


"Dasar munafik! Keluarga munafik!"


"Fitnah adalah kejahatan yang keji! Kalian semua mengatakan fitnah!"


"Wanita tak tahu malu! Dasar ular!"

__ADS_1


Reaksi semua orang sangat keras dan menakutkan. Bunda sampai ketakutan mendengar teriakkan mereka. Dia memiliki ilusi seolah-olah mereka semua kapan saja bisa menyerangnya.


Bingung,"Wajarnya kan mereka semua mendukung Aira, tapi kenapa mereka malah memarahi kita?" Heran Umi sambil menatap sekeliling.


Para santri dan santriwati yang berteriak tidak takut sama sekali dengan tetapan kesal bibi. Bukannya takut, mereka justru semakin berteriak kencang untuk menumpahkan kemarahan mereka kepada keluarga Aira. Beberapa orang yang tahu persis kejadian yang terjadi sampai geleng-geleng kepala dibuatnya ketika mendengar pembelaan dari Ayah dan Bunda. Mereka sama sekali tidak mengerti mengapa baik Ayah dan Bunda mencoba menutupi kesalahan Aira, memperlakukannya sebagai korban, sungguh memuakkan.


"Bibi, jangan dengarkan mereka. Habib Thalib adalah idola mereka semua, jelas mereka cemburu kepadaku karena di antara semua wanita di pondok pesantren, habib Thalib malah jatuh cinta kepadaku." Aira mendengus, tapi di depan semua orang dia berusaha mempertahankan wajah menyedihkannya.


Dia sangat kesal mendengar teriakan orang-orang fanatik ini. Ingin sekali dia balas berteriak, tapi karena suasananya sedang tidak tepat, dia terpaksa menelan kemarahan di dalam dadanya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi adalah staf pondok pesantren sama sekali tidak menghentikan mereka semua. Seakan-akan mereka juga mendukung apa yang orang-orang itu teriakan. Aira sangat marah.


Bunda menenangkan dirinya,"Okay, aku akan berbicara lagi." Mengambil nafas panjang, dia kembali berbicara.


"Putriku sangat dirugikan di dalam masalah ini. Tidak ada jalan keluar selain menikahi putriku dan memberikan pernikahan yang layak agar nama baiknya tidak rusak. Sejujurnya sebagai orang tua aku tidak mau melihat putriku menikah dengan laki-laki yang telah berbuat bejat kepadanya. Daripada melihatnya menikah dengan laki-laki itu, Aku lebih senang menjebloskan laki-laki itu ke dalam penjara agar dia mendapatkan hukuman atas perbuatan bajajnya. Tapi saat aku tahu bahwa orang itu adalah habib Thalib, seorang laki-laki yang mengerti agama dan bahkan berasal dari keluarga yang memiliki agama yang dalam, aku langsung merasa dilema. Seorang laki-laki dengan latar belakang yang sangat luar biasa rasanya tak mungkin melakukan kejahatan bejad kepada seorang wanita, kalau bukan itu berasal dari keinginan cinta di dalam hati. Inilah yang ku pikirkan. Karena habib Thalib menyentuh putriku, maka mungkin habib Thalib menyukai putriku dan tidak bisa menahan godaan di hati, maka terjadilah kejadian itu. Habib Thalib," Bunda memanggil sang habib sembari menarik pundak putrinya agar menghadap sang habib.


Habib Khalid terlihat sangat santai di ujung sana. Dia tidak panik ataupun tegang, berbanding terbalik dengan setiap tuduhan yang keluarga Aira layangkan. Harusnya habib Khalid panik ataupun menyesal karena kejahatan diungkapkan, tapi mengapa dia terlibat santai-santai saja seakan bukan dia lah pelaku dari kejahatan ini. Ayah, Bunda dan bibi mau tak mau merasa heran ketika melihat reaksi santai sang habib.

__ADS_1


Habib Khalid dipanggil oleh Bunda, namun dia tidak menoleh ataupun melihat ke arah Aira. Tubuhnya berdiri lurus menatap Abah dan Umi yang sama tenangnya dengan dia.


Aira meremat bajunya gelisah. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang salah di sini.


Kenapa habib Thalib tidak memiliki reaksi yang seharusnya? Batin Aira gelisah.


Malu dengan sikap acuh tak acuh sang habib kepadanya, namun Bunda tetap melanjutkan perkataannya.


"Sekali lagi habib Thalib, tolong katakan yang sejujurnya kepada semua orang apa yang kamu rasakan kepada putriku agar semuanya bisa jelas." Tuntut Bunda kepada sang habib.


Di yakin seyakin yakinnya bawa sang habib memiliki perasaan yang dalam kepada Aira, kalau tidak, kenapa dia bisa nekat melakukan itu kepada Aira?


Habib Khalid tersenyum sopan, menoleh ke arah Ayah dan Bunda tanpa peduli memperhatikan Aira yang menatapnya dengan tatapan mendamba, dia lalu menjawab,"Aku merasa sungguh sangat muak."


Ah?

__ADS_1


__ADS_2