
"Waalaikumussalam. Silahkan masuk." Seorang wanita memanggil Aish untuk masuk ke dalam.
Jika Aish tidak salah ingat wanita ini sebelumnya bekerja di kantor pelayanan pondok pesantren.
"Aisha Rumaisha?" Wanita itu memanggil nama Aish untuk memastikan namanya.
Aish mengangguk dengan sopan.
Wanita itu lantas tersenyum.
"Orang itu sudah menunggu mu di tempat parkir pondok. Jadi kamu bisa datang ke sana untuk menemuinya." Kata wanita itu lagi.
Aish bingung.
"Maaf Bu, apa aku boleh tahu siapa yang mencari ku?" Tanya Aish dengan nada yang sopan kepada wanita itu.
"Kamu akan tahu saat melihatnya nanti. Pergilah, dia sudah lama menunggu mu di tempat parkir." Wanita itu menolak untuk menjawab.
Aish tersenyum malu. Ia menganggukkan kepalanya sopan sebelum keluar dari kantor dan berjalan menuju halaman depan pondok pesantren.
Setelah Aish menghilang dari pandangan orang-orang di dalam kantor, wanita itu tiba-tiba dihampiri oleh rekan kerjanya. Wanita muda yang baru magang satu tahun ini.
"Mbak Dian, siapa yang mencari gadis itu dan kenapa pondok mengizinkan orang itu membawa gadis itu keluar?" Tanya wanita itu kepada ustazah Dian, wanita yang baru saja berbicara dengan Aish.
Ustazah Dian tersenyum penuh makna tanpa niat mengatakan apapun.
"Aku juga tidak tahu." Jawabnya mengelak.
Sama seperti wanita ini, dia pun bingung mengapa orang itu sampai mencari dan membawa Aish keluar dari pondok pesantren. Sebenarnya apa hubungan orang itu dengan gadis ini?
****
Aish berdiri di depan sebuah mobil Van hitam dengan ragu. Mobil ini agaknya cukup familiar untuk Aish karena dia samar-samar mengingat jika mobil ini pernah digunakan oleh habib Khalid sebelumnya saat mereka pergi ke pasar bersama.
"Kenapa bengong saja? Ayo masuk." Habib Khalid menurunkan kaca mobil dan menyuruh Aish untuk segera masuk ke dalam.
__ADS_1
Aish langsung tercengang melihat wajah tampan habib Khalid tiba-tiba muncul dari balik jendela mobil. Rasanya bagaikan mimpi melihat habib Khalid lagi setelah seharian tidak pernah melihatnya kemarin.
"Kak.. Khalid?" Panggil Aish takjub tak bergerak di tempat.
Habib Khalid tersenyum geli melihat wajah konyol Aish.
"Ini adalah hukuman yang ku janjikan kepadamu hari itu. Kamu tidak bisa membuat alasan untuk menolak." Kata habib Khalid mengingatkan Aish dengan murah hati tentang hukuman yang dijanjikan saat di rumah Umi beberapa waktu lalu.
Aish langsung teringat. Dia sempat takut sebelumnya. Pasalnya habib Khalid terkenal killer di pondok pesantren kalau menyangkut hukuman dan Aish sendiri pernah merasakan betapa berat hukuman yang habib Khalid berikan kepadanya.
Hukuman habib Khalid tidak pernah main-main!
Pertama, turun ke lumpur untuk memetik kangkung dan kali keduanya, dia dipaksa untuk membersihkan kamar mandi hingga berujung tragedi pertengkaran dengan Khalisa.
"Masuk." Suara habib Khalid mendesak.
Aish terbangun dari lamunannya sendiri. Dia tersenyum malu, merasakan suhu wajahnya mulai memanas.
"Baik, kak."
Aish lalu masuk ke dalam mobil duduk di kursi depan. Duduk di samping habib Khalid, wangi pepohonan khas milik habib Khalid langsung menyerbu indera penciuman Aish. Wanginya sangat segar dan menenangkan. Aish tanpa sadar menutup matanya merasakan sensasi damai yang mulai merasuki hatinya.
Aish spontan membuka matanya, merasakan debaran jantung dihatinya yang mulai menggila.
"Tidurku sangat nyenyak semalam..." Aish mengangkat kepalanya mengamati wajah tampan sang habib.
Tidak ada perubahan di wajah sang habib. Dia masih menggunakan ekspresi yang sama, hangat dan murah senyum seperti biasanya. Meskipun kecewa tidak dapat menemukan sesuatu yang diinginkan, namun Aish sangat bersyukur karena habib Khalid tidak lagi bersikap dingin kepadanya seperti kemarin.
"Kak Khalid mau kemana?" Tanya Aish setelah terdiam sejenak.
Habib Khalid melihatnya sangat gugup di samping. Mungkin pertemuan ini membuat Aish terkejut dan tidak siap. Jujur habib Khalid tidak berniat memberikan penghiburan apapun. Biasakan saja pikirnya.
"Temani aku ke kota untuk menyelesaikan suatu urusan." Jawab habib Khalid tidak berniat menjelaskan lebih jauh lagi.
Aish mengangguk malu. Dia melihat mobil habib Khalid dengan rasa ingin tahu yang tidak bisa disembunyikan dalam sorot matanya. Sangat bersih dan dipenuhi wangi sang habib tanpa ada jejak wanita sedikitpun.
__ADS_1
"Kak Khalid, bukankah ini tidak benar?" Aish berbicara ragu-ragu.
Dia memikirkannya dengan hati-hati. Soal semua pertemuannya dengan sang habib terlalu banyak kebetulan. Sejujurnya Aish sangat senang, memangnya siapa yang tidak berbunga bertemu dengan laki-laki yang di cintai?
Aish bahagia tapi rasanya akan sangat tidak adil bila harus menyebabkan masalah untuk sang habib. Dia takut nama baik habib Khalid di pondok pesantren tercoreng gara-gara dia.
"Apanya yang tidak benar?" Habib Khalid menoleh menatapnya.
Ditatap oleh sang habib, hati Aish kembali membuat keributan di dalam dadanya.
Bagaimana bisa habib Khalid sangat tampan?!
Bahkan senyumnya saja bisa membuat Aish meleleh dengan mudahnya.
"Itu... tidakkah kak Khalid takut bila aku bisa memengaruhi nama baik kakak di pondok pesantren?"
Mendengar apa yang Aish katakan, habib Khalid malah tertawa. Menurutnya Aish lucu dan tiba-tiba terlihat jauh lebih polos dari yang dia duga. Aish adalah gadis pemalu yang belum mengenal dunia namun terbungkus sikap dingin yang menggigit.
"Jika aku takut maka kita tidak akan pernah bertemu lagi di pondok. Tapi aku tidak melakukannya. Aisha Rumaisha, apa yang kamu pikirkan jika orang yang duduk di dalam mobil ini sekarang adalah gadis lain?" Balas habib Khalid bertanya balik.
Dia juga penasaran dengan pendapat Aish dalam masalah ini. Mungkinkah Aish akan mengatakan jika siapapun tidak masalah atau memilih untuk terdengar baik-baik saja?
"Mungkin aku akan sangat marah dan sedih." Kata Aish menjawab.
Tiba-tiba baru berat di dalam dada sang habib segera terangkat. Benar saja, Aish adalah Rumaisha nya, gadis pemberani dan memiliki hati yang kuat.
Habib Khalid senang mendengarnya.
"Maka itu saja sudah cukup. Kita tidak butuh menggunakan alasan yang lain lagi." Habib Khalid tersenyum lebar, sorot matanya begitu lembut saat memandangi wajah tersipu Aish.
Aish terpesona. Kedua mata aprikot nya bersinar terang enggan berkedip memandangi betapa indah ciptaan Sang Maha Kuasa. Mungkin ada kekaguman yang alam sampaikan kepada sang habib karena setiap kali senyuman itu terbentuk, Aish merasa dunia terasa sangat damai.
Aish sangat malu. Dia menyadari jika tatapannya terlalu lancang. Lantas dia menarik pandangannya dan menundukkan kepalanya melihat kedua tangannya yang entah sejak kapan saling meremat.
Gugup dan bahagia, perasaan ini bercampur aduk di dalam hatinya. Aish tidak tahu menggambarkannya saat ini sebab dia belum pernah merasakan kebahagiaan yang menyentuh hati dihari kematian Mamanya.
__ADS_1
Berpikir di dalam hatinya, mungkinkah ini adalah hadiah dari Allah sebagai pelipur lara untuk hatinya yang sedang merindukan Mama?
Jika benar, maka bukankah Allah sangat romantis kepadanya?