Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 18.4


__ADS_3

Lupakan! lupakan! lupakan!


Anggap kamu tidak pernah mendengar kata-kata itu. Inilah suara-suara yang dikatakan di dalam kepala Aish.


Rasanya sungguh sangat menyakitkan. Apakah karena Ayah belum pernah melihatnya menangis dan jatuh sakit sehingga Ayah menganggapnya sebagai gadis yang kuat, tahan banting, dan tidak mudah terluka?


Faktanya Aish lebih rapuh dari Aira. Dia bukanlah gadis yang sekuat itu.


"Baiklah, aku pergi." Tak kuat lagi, dia lalu berdiri dari duduknya.


Ayah dan Bunda langsung menatap Aish tak puas. Ayah masih ingin membicarakan banyak hal mengenai Aira. Tapi Aish sudah memutuskan pembicaraan saja. Dia sama sekali tidak sopan.


Tanpa menunggu reaksi Ayah, dia kembali berbicara,"Dan mengenai permintaan Ayah tentang Aira, maaf aku sama sekali tidak bisa melakukannya. Bagiku menjengkelkan rasanya setiap kali melihat wajah putri tercinta kalian itu. Jadi aku tidak bisa menjaganya."


"Aisha Rumaisha!"


"Aku harus kembali ke kamarku, assalamualaikum." Kemudian pergi melarikan diri secepat mungkin tanpa menoleh ke belakang. Ini sangat tidak sopan. Aish juga tahu. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya terlalu sakit.


Ayah selalu pilih kasih terhadapnya dan lebih mementingkan Aira daripada dirinya. Namun bahkan walaupun Ayah pilih kasih bukankah dia tetap seorang Ayah? Bagaimana mungkin sikapnya masih berbeda hingga ke titik ini?


Betapa bodohnya, bodoh sangat bodoh. Dia masih saja mengharapkan belas kasih Ayah, menebak-nebak apakah ada rindu, Namun nyatanya itu hanyalah angan-angan semu nya saja.


"Aku benci!"


Dia berlari sekuat tenaga. Berlari menapaki jalan setapak menuju asramanya. Padahal jalanan di asrama belum semuanya menggunakan lampu penerang dan ada beberapa titik jalan terlihat sangat gelap. Dulu Aish pasti akan sangat ketakutan. Tapi malam ini, mungkin karena terlalu patah hati dia tidak terlalu memperhatikan lingkungan di sekitarnya.

__ADS_1


Dia terus berlari dan tanpa menyadari ada seseorang yang mengikutinya.


Grab!


Dan dengan satu hentakan tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang, tubuhnya langsung limbung ke belakang dan jatuh ke dalam pelukan hangat. Terkejut, Aish meronta-ronta ingin melepaskan diri sambil menangis terisak.


"Jangan bergerak, ini aku." Ketika dia mendengar suara ini lagi, tubuh yang tadinya meronta-ronta ingin lepas dengan sendirinya berhenti bergerak.


"Kak Khalid?" Panggilnya sangau.


Di bawah gelapnya malam, habib Khalid memejamkan matanya. Kedua tangan besarnya beralih menyentuh punggung ramping Aish, mendekapnya kuat dan perlahan membawa Aish sepenuhnya ke dalam pelukan. Dia bisa merasakan tanpa melihat betapa gemetar tubuh Aish malam ini. Gemetar bukan karena ketakutan tapi gemetar karena rasa sakit yang telah membatin di dalam hati. Dia tidak tahu seberapa dalam luka yang ada di hati Aish hingga membuatnya sesakit ini, tapi yang pasti dia bertekad menjadi obat penyembuhnya.


"Oke, jangan takut. Menangislah jika kamu mau menangis. Jangan menahannya. Aku tidak akan marah atau mempermalukanmu karena menangis." Habib Khalid menurunkan kepalanya hingga sejajar dengan posisi telinga Aish, lalu dengan suara lirih nan lembut dia berbisik.


Setelah mendengar kata-kata habib, Aish tidak ragu lagi untuk menangis. Dia menguburkan kepalanya di atas dada bidang sang habib, menyembunyikan ekspresi menyakitkan di wajahnya. Sambil memeluk punggung kuat sang habib, Aish menangis lepas di dalam pelukannya. Jika bukan karena dada bidang sang habib meredam suara tangisannya, suara tangis ini pasti bisa didengar oleh orang-orang yang kebetulan lewat.


Wajah Aish terasa sangat panas dan lututnya mulai lemas. Jika habib Khalid tidak menopang tubuhnya maka dia pasti sudah jatuh merosot ke tanah sejak tadi.


Berada di dalam pelukan orang yang selalu dia angan-angan kan sebelum tidur, dan baru-baru ini menjadi doa dalam sujudnya, Aish merasa melambung tinggi. Entah sudah sampai awan ke berapa, dia tidak bisa menghitungnya.


Karena rasanya sungguh sangat manis.


"Merasa sudah lebih baik?" Bisik sang habib di samping telinga Aish.


Telinga Aish rasanya gatal.

__ADS_1


"Em, sudah lebih baik. Terima kasih kak Khalid." Jawabnya tersipu malu.


Dan dia semakin malu ketika merasakan pakaian di dada sang habib sudah basah karena air matanya.


"Benar-benar sudah lebih baik?" Habib Khalid bertanya jangan nada serius.


Aish mengangguk dengan malu-malu dan langsung teringat jika sang habib tidak bisa melihatnya di bawa gelapnya malam. Maka dia menjawab,"Sungguh, aku merasa lebih baik. Sekali lagi terima kasih, kak."


Setelah mendapat jawaban tegas dari Aish, habib Khalid lalu melepaskan tangannya dari punggung ramping Aish dan mundur satu langkah ke belakang meninggalkan jarak diantara mereka. Aish dengan sadar diri juga ikut mundur ke belakang untuk memperbesar jarak di antara mereka. Kepalanya tertunduk malu tak berani melihat ke arah sang habib. Padahal apa yang dilakukan itu sia-sia karena sang habib tidak dapat melihat wajahnya di bawah gelapnya malam.


"Jika kamu sudah merasa lebih baik maka ayo kembali ke asrama, aku akan mengantarmu pergi."


"Yah, ini sudah lebih dari baik." Habib Khalid memeluknya, bagaimana mungkin dirinya tidak merasa baik?


Siapapun yang ada di posisinya mungkin akan sangat senang mendapatkan pelukan intim dari sang habib, dan betapa bangganya dia bahwa gadis yang beruntung itu adalah dirinya.


"Kita jalan sekarang." Kemudian dia tiba-tiba meraih tangan Aish.


"Ah?" Jantung Aish langsung menggila di dalam dadanya.


Habib Khalid membawa tangan Aish menyentuh ujung bajunya sebagai pegangan, dan berkata,"Hati-hati saat melangkah, jangan sampai kamu tersandung batu." Peringat habib Khalid seraya memimpin jalan di depan.


Mengerti dengan apa yang habib Khalid maksud, dengan patuh Aish mengikuti langkah sang Khalid dari belakang sambil menggenggam erat ujung baju. Diam mengikuti, samar, di bawah gelapnya malam Aish bisa melihat punggung tegak itu memimpin langkahnya di depan.


Di dalam hati dia melambungkan sebuah harapan yang sangat manis dan bersungguh-sungguh kepada Sang Kuasa.

__ADS_1


Ya Allah, aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama dengan pemilik punggung tegap yang ada di depan ku saat ini. Ridhoi aku ya Allah, tolong ridhoi aku mendampinginya, Muhammad Thalib Al-Khalid, belahan jiwaku.


__ADS_2