
Habib Khalid memiringkan kepalanya menoleh ke arah sumber suara. Ekspresi diwajahnya terlihat tenang, dia menatap Khalif dengan tatapan bermakna.
"Tak perlu ditanyakan. Kamu akan segera mengetahuinya." Jawab sang habib dengan senyuman yang bukan lagi disebut sebagai senyuman.
Khalif langsung mengerti. Habib Khalid sebelumnya telah mengetahui kebohongan nya hari ini. Di tambah lagi dengan sebuah bukti di tangan Abah, dia tidak memiliki kesempatan untuk mengelak
"Habib Thalib bijaksana, aku tahu cahaya kebaikan akan selalu menemaninya kemanapun pergi." Kata Khalif bernada buruk sembari menarik wajahnya.
Habib Khalid, orang ini telah membayanginya sejak lama. Sesungguhnya, tidak ada yang salah dari orang ini apalagi mereka berasal dari nasab yang sama. Tak seharusnya mereka saling membenci.
Namun ketertarikan Nadira kepada sang habib dan rumor yang semakin gencar baru-baru ini telah membuat hati Khalif merasakan krisis. Cemburu dan marah, kedua perasaan ini telah menghantuinya sejak lama. Dia sangat putus asa beberapa waktu ini memikirkan cara untuk menghentikan kedekatan mereka berdua. Karena terlalu cemas dia akhirnya nekat menyelundup masuk ke dalam sekolah santriwati lewat tembok sekolah untuk melihat Nadira. Sayang sekali, dia baru saja mengintip beberapa menit dan sudah ditemukan oleh gorila betina itu. Panik, tentu saja. Tapi dia berusaha setenang mungkin saat melarikan diri. Untungnya gorila betina itu tidak memiliki IQ yang tinggi sehingga pelariannya berjalan lancar.
"Segala puji bagi Allah, karena Dia selalu menyertai orang-orang yang selalu mengingat kepada-Nya." Balas habib Khalid rendah hati tanpa tersinggung dengan nada buruknya.
Khalif merasa tercekik dibalas kata-kata sopan. Senyum diwajahnya langsung menjadi kaku dan perlahan mulai menghilang.
Habib Khalid tidak memperhatikannya lagi. Mata gelapnya bergerak menyapu orang-orang di dalam ruangan sidang. Mereka semua dominan berasal dari kantor staf, dan sisanya dari staf kedisiplinan asrama santri dan santriwati.
Hem,
"Ini bukan kasus serius. Kenapa orang yang datang banyak sekali?" Gumam sang habib heran.
Suaranya tidak besar, tapi beberapa orang yang ada di dekatnya ikut mendengarkan apa yang dia katakan.
Salah satu staf kedisiplinan asrama santriwati memberanikan diri untuk menjawab,"Habib Thalib, kami semua diintruksikan oleh Umi datang kemari agar dapat mengambil pelajaran dari masalah ini. Sehingga bila kami mendapati masalah yang sama kedepannya, kami tidak bingung saat membuat keputusan." Terang santriwati ini malu-malu.
Matanya bersinar terang mengintip sang habib. Dia ingin melihat bagaimana ekspresi habib sekarang. Tapi hatinya langsung merasa kecewa saat melihat habib Khalid tidak melihat ke arahnya. Tubuh habib berdiri lurus ke arah depan tanpa menoleh sedikitpun kepadanya.
Sayang sekali, apakah habib tidak mendengarkan penjelasannya? Pikirnya menyesal.
__ADS_1
Habib Khalid tidak tahu apa yang dipikirkan oleh santriwati ini. Setelah mendengar jawaban santriwati ini, matanya berkilat aneh melihat ke arah Umi. Bukankah sudah disepakati kemarin bahwa orang yang datang ke sidang ini adalah orang-orang yang terlibat saja?
Lalu kenapa Umi masih mengundang para santriwati ke sini?
Walupun mereka adalah staf kedisiplinan asrama putri, tapi identitas mereka masih sebagai santriwati dan memiliki kewajiban belajar di kelas sekarang.
Mengikuti pandangan Umi, salah satu alisnya terangkat saat melihat objek yang ditatap adalah Aish.
"Terima kasih untuk informasinya." Habib Khalid tidak lupa berterima kasih.
"Tidak perlu berterimakasih, habib. Ini..ini hanya masalah kecil." Santriwati ini sangat gembira karena jawabannya ternyata di dengarkan oleh sang habib.
Habib Khalid turun berbicara lagi. Dia berjalan ke depan melewati Aish tanpa menyapa dan berdiri di sisi Abah.
Abah duduk di kursinya sembari menonton rekaman cctv mobil dan cctv sekolah di laptop. Sesekali Abah akan mengangguk ringan saat melihatnya. Entah apa yang Abah pikirkan saat ini saat melihat tayangan di laptop. Semua orang di dalam ruangan menunggu dengan cemas.
"File apa ini?" Selesai menonton, Abah beralih mengklik sebuah file yang tidak berjudul.
Abah terhanyut dalam diamnya saat membaca file tersebut. 3 menit kemudian dia menyingkirkan laptop itu dari hadapannya.
Ekspresinya masih tenang seperti sebelumnya, tapi sekilas, orang-orang dapat merasakan bahwa Abah tidak lagi setenang biasanya. Aneh, orang-orang merasakan perasaan ini setiap kali melihat Abah tidak bahagia.
"Aku sudah melihat semua buktinya." Kata Abah mulai berbicara setelah sekian lama diam.
Jantung Khalif langsung berdebar kencang. Matanya menatap malu ke arah Abah. Sementara itu Aish juga tidak kalah gugupnya. Keberadaan habib Khalid di sini seolah menambahkan beban 1000 kati ke dalam hatinya. Ia takut akan mendapatkan hukuman yang memalukan.
"Kak Khalid kok enggak ngomong apa-apa semalam tentang sidang ini?" Gerutu Aish malu.
"Dan aku sudah membuat kesimpulan dari masalah ini." Lanjut Abah menyulut ketidaksabaran di dalam hati semua orang.
__ADS_1
"Ugh.." Aish menghela nafas panjang.
Ia mengangkat kepalanya gugup dan tidak sengaja bertemu pandang dengan sang habib. Mata habib Khalid selalu jernih dan gelap seperti biasanya, bahkan senyuman lembut di wajahnya tidak pernah luntur sedikitpun.
Aish tiba-tiba merasa sangat tenang tanpa alasan. Melihat tatapan lembut sang habib, kekhawatiran Aish langsung tersapu bersih di dalam hatinya.
Sungguh manis, melihat habib Khalid tersenyum bagaikan ilmu sihir yang menggoda hatinya.
Ada aku. Mulut habib Khalid berbicara tanpa suara. Itu hanya gerakan kecil, tapi Aish langsung memahaminya dengan mudah.
Wajah Aish kembali terasa panas. Tak perlu ditanyakan lagi betapa panik jantungnya memompa sekarang. Tersipu malu, Aish kembali menundukkan kepalanya malu menatap habib.
"Khalif. Kamu akan dihukum membajak sawah yang sudah dibersihkan atas perbuatan mu menyusup ke sekolah santriwati. Dan untuk hukuman kedua, pondok pesantren akan memberikan hukuman cambuk sebanyak 30 kali atas fitnah yang kamu lontarkan kepada ketiga santriwati ini."
"Abah!" Panggil Khalif dan Umi berteriak bersamaan.
Abah tidak terkejut dengan panggilan mereka. Dia melirik istrinya dengan ekspresi dingin. Leher Ini langsung mengkerut. Dia mengecilkan lehernya tidak berani mengatakan apa-apa kepada Abah. Murka suaminya adalah dosa besar yang sangat tidak disukai oleh Allah.
"Aku...aku... Khalif adalah.."
"Diam jika kamu tidak bisa mengatakan kata-kata yang bermanfaat." Kata Abah menegurnya.
Umi jadi malu. Dia segera menutup rapat mulutnya takut menyinggung perasaan suaminya.
"Maaf, Abah."
Abah tidak mengatakan apa-apa. Matanya kembali melihat ke arah Khalif yang masih shock di sana.
Sementara itu, orang-orang di dalam ruangan mulai berbisik-bisik membicarakan vonis Abah yang tidak disangka-sangka.
__ADS_1
"Hukuman cambuk 30 kali? Ya Allah, aku enggak tahu betapa sakitnya Khalif jika sampai benar-benar dicambuk." Beberapa orang yang mengenal Khalif mulai berbicara.
Yang lain ikut berbisik,"Jangankan 30, dicambuk 10 kali saja rata-rata orang langsung pingsan saking sakitnya. Dan ini 30! Badan Khalif mungkin ambruk berhari-hari karenanya."