
Melihat kepergian Aira bersama staf pondok pesantren menuju balai keadilan, Aish membuang muka ke samping. Ekspresi wajahnya tidak terlalu baik.
Dira datang menghampiri Aish. Menepuk pundaknya untuk menarik perhatian Aish,"Apakah kamu baik-baik aja?"
Aish tersenyum kecut. Nyatanya dia tidak baik-baik saja melihat adiknya akan dihukum hukuman cambuk. Itu sungguh sangat berat baginya. Dan dia tahu Aira tidak mungkin kuat menghadapi hukuman ini.
"Aku merasa nggak nyaman."
Dira mengerti,"It's okay, jangan terlalu memikirkannya. Balik ke asrama?"
Aish tidak menjawab. Matanya sekali lagi menangkap sosok punggung tipis yang semakin menjauh dari pandangannya. Pemilik punggung tipis itu berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang. Tampak sunyi dan kesepian.
__ADS_1
Melihatnya mengingatkan Aish pada hari ketika dirinya di bawa secara paksa keluar dari rumah. Dia juga memiliki perasaan ini. Sunyi, karena harapannya seolah dimatikan. Dan kesepian, sebab tak ada yang memberikan punggungnya sebagai sandaran untuk mengeluhkan betapa hancur perasaan di dalam hati.
Tapi sekarang semuanya sudah berlalu. Sudah...berlalu.
"Ya, ayo kembali." Jawabnya setelah berpikir.
"Kembali? Kenapa kita harus balik ke asrama? Bukankah ini yang kita tunggu-tunggu selama ini. Aish, kamu udah lama kan bermasalah dengan Aira dan sudah lelah diintimidasi oleh dia selama tinggal di rumah Ayah kamu dulu, sekaranglah saatnya kamu melihat penderitaannya. Hari ini adalah pembalasan untuk semua kejahatan yang telah dilakukan kepada kamu. Ini juga berlaku untuk Gadis. Dia sudah memfitnah kamu, menjadi saksi palsu untuk mencoreng nama baik kamu. Maka ini kesempatannya Aish! Kamu harus melihat dengan kedua mata kepala kamu sendiri bagaimana Aira dan Gadis di hukum untuk memuaskan hati kamu. Hari ini akhirnya datang, dan kenapa kita harus balik ke asrama? Kenapa kita melewatkan kesempatan yang sangat penting ini?" Gisel tidak terima.
Dia sungguh ingin menyaksikannya dengan kedua bola matanya sendiri.
"Aira.. aku minta maaf atas apa yang dia lakukan kepadamu. Aku juga tahu kalau semua penderitaan yang kamu alami membuat kamu sangat tersiksa. Dan aku tahu kamu sudah lama menunggu momen ini, tapi Gisel... Aku adalah kakaknya. Sejahat apapun Aira, kami adalah saudara. Mana mungkin diriku tega melihatnya disiksa di depan mataku sendiri? Aku tidak kuat. Terlepas sebesar apapun kesalahannya kepadaku, aku tidak kuat...dia adalah adikku." Inilah yang dirasakan oleh hatinya sekarang.
__ADS_1
Aish bukanlah orang yang polos. Dia sangat pemarah dan tidak suka diganggu. Dulu sewaktu masih tinggal di rumah Ayah, dia sering melempar Aira dengan kata-kata kasar tak berpendidikan, menuduhnya untuk hal yang tidak tidak sampai pada puncaknya, dia hampir saja merenggut nyawa adiknya.
Dia tahu semua kesalahan itu. Walaupun Aira sering memprovokasinya, tapi tetap saja, setiap balasan yang dia berikan kepada Aira tidak memiliki nilai kebenaran.
"Gisel, tolong mengerti perasaan Aish. Dia... tidak nyaman melihat Aira hari ini. Dan aku mengerti kamu pasti tidak berdamai dengan masa lalu, aku mengerti. Tapi melihatnya disiksa dan dipermalukan oleh banyak orang tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka di dalam hatimu. Kamu tak akan bisa kembali seperti dulu lagi. Oleh karena itu maafkan saja dia dan terus berusaha untuk mengikhlaskan semua yang terjadi di masa lalu. Bukankah Allah sangat menyukai orang yang bersabar?" Dira ikut bersuara di samping Aish.
Gisel terdiam. Wajahnya menjadi pucat kehilangan warna. Tersenyum kecil, dia langsung pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Jangan khawatir, dia butuh waktu untuk menenangkan perasaannya. Nanti dia pasti bakal nyari kita lagi." Bisik Dira menenangkan kecemasan sahabatnya.
Aish menghela nafas panjang,"Hem, semoga dia memaafkan adikku."
__ADS_1