
Beberapa gadis segera merasa heran. Karena mereka berdua saudara dan seperti yang Aira katakan sebelumnya bahwa dia sangat menyayangi Aish, maka sudah sewajarnya Aira membela Aish mati-matian. Normalnya setiap persaudaraan memiliki empati yang kuat, terlepas apakah Aira melihat atau tidak, dia bisa saja membela Aish dengan keras kepala karena orang yang paling tahu sikap dan tabiat Aish adalah Aira sendiri.
"Pondok pesantren punya rekaman CCTV saat kejadian hari itu, dan dari pengakuan Aish dan kedua sahabatnya, Abah yakin jika mereka tidak bermaksud mencuri motor tersebut melainkan hanya ingin meminjamnya saja. Dan apakah kamu tahu Aira, orang yang membawa bukti CCTV itu adalah habib Thalib. Karena bantuan habib Thalib ini, kakakmu jadi terbebaskan hukuman berat. Faktanya Aish dan kedua temannya sebenarnya sedang dibingkai oleh sayid Khalif. Kedok ini diungkapkan Abah saat persidangan kemarin dan karena itulah Khalif dihukum cambuk sebanyak 30 kali sedangkan Aish serta kedua sahabatnya hanya membajak sawah satu hari."
Penjelasan ini memang singkat tapi cukup rinci untuk menggambarkan poin apa saja yang didapatkan saat persidangan kemarin. Bagi orang yang peduli dengan masalah ini, jalan ceritanya sudah diketahui betul dan bukan rahasia umum lagi. Masalah ini semakin membuat nama Aish dan kedua sahabatnya semakin menjadi bahan pembicaraan. Ada banyak pendapat pro dan kontra.
"Satu lagi, setelah mendapatkan hukuman cambuk 30 kali, Khalif juga dihukum membajak sawah selama 2 hari atas perbuatannya berani memfitnah dan menimbulkan kecelakaan kepada orang lain. Masya Allah, yang paling mengagumkan dari masalah ini adalah Aish dan kedua temannya memaafkan Khalif atas perbuatannya. Padahal mereka bertiga bisa saja menuntut untuk meninggalkan efek jera kepada Khalif, tapi hati mereka melembut dan memilih untuk melupakan masalah ini."
Satu demi satu suara yang mengagumi Aish lagi-lagi menghantui telinganya. Aira mengepalkan tangannya menahan amarah. Bisa-bisanya orang sok polos dan sok alim ini mempercayai Aish hanya karena sebuah sandiwara kecil. Benar-benar bodoh. Dan yang lebih mencengangkan lagi setiap kali dia mencoba untuk memprovokasi orang-orang, mereka semua tidak akan terpancing dan malah memberikan ulasan positif terhadap Aish.
Aira sama sekali tidak pernah menyangka situasi ini akan terjadi kepadanya. Dia pikir orang-orang ini mudah dimanipulasi dan membantunya mengucilkan Aish di pondok pesantren, tapi lihatlah! dia harus memutar otaknya untuk membuat rencana lain.
"Alhamdulillah aku senang mendengarnya, perubahan kak Aish sungguh besar. Bukan maksudku meragukan saudaraku tadi. Di kota dulu kak Aish memiliki perilaku yang cukup buruk jadi aku... Agak sulit mempercayainya..." Aira tersenyum kering.
Bener, aku dia harus memikirkan cara untuk mengalahkan kak Aish di sini. Aku tak mau dia dekat lagi dengan habib Thalib. Batin Aira berpikir keras.
Dia harus memisahkan habib Khalid dengan Aish, oh, lebih tepatnya dia harus menyingkirkan Aish agar tidak mengganggu sang habib lagi. Dia yakin bila sang habib pasti merasa risih karena diganggu terus-menerus oleh Aish. Memangnya laki-laki alim mana yang mau diganggu oleh wanita kotor dan rendah ilmu seperti Aish? Selain wajah yang cantik dan uang di tangan, Aish tidak punya kelebihan apapun pikirnya.
"Aira, kakakmu benar-benar berubah. Dia telah menjadi orang yang baik. Kalau kamu rindu kami bisa mengantarmu nanti malam."
Aira berusaha mempertahankan senyuman lembut di wajahnya.
"Terima kasih." Ucapnya enggan.
*****
__ADS_1
Malam harinya setelah selesai shalat isya dan membaca Al-Qur'an di masjid, Aira dan teman-teman kamarnya langsung menuju ke kantin. Ini sangat baru bagi Aira. Dia belum pernah merasakan makan beramai-ramai dengan banyak orang. Ada sekat pembatas untuk santri laki-laki dan santriwati. Dan di setiap sekat pembatas ada lubang-lubang kecil yang sengaja dibuat oleh seseorang atau karena termakan usia. Asiknya mereka saling mengintip dari lubang-lubang kecil ini. Aira langsung tertarik.
"Ternyata pondok pesantren tidak seburuk yang aku bayangkan." Gumamnya sambil menatap sembarang arah.
Karena masalah sekolah dan asrama tadi pagi, dia memiliki kesan buruk terhadap pondok pesantren. Nama pemandangan di dalam kantin malam ini langsung membuka matanya. Ada banyak sekali laki-laki tampan juga menarik. Penampilan mereka rata-rata lebih baik daripada laki-laki yang ada di kota. Mereka tidak banyak gaya tapi sikap dan perilaku mereka memiliki daya tarik yang sangat besar. Aira sampai berdecak kagum melihatnya.
"Pantes aja kak Aish betah di sini."
Tapi ketampanan dan daya tarik mereka tidak bisa mengalahkan habib Khalid.
"Benar, di mana habib Thalib?" Sejak masuk kantin, yang Aira lihat kebanyakan ustad dan ustazah. Mereka bertugas mengawasi santri dan santriwati di dalam kantin.
"Habib Thalib jarang ke sini. Dia orangnya sibuk banget di pondok." Jawab teman kamarnya.
Tanpa sengaja matanya menangkap posisi Aish yang sedang dikelilingi oleh banyak orang. Orang-orang itu banyak bicara kepada Aish, entah apa yang mereka bicarakan Aira tidak bisa mendengarnya, tapi yang pasti dia melihat bahwa aih sesekali akan tertawa, tersenyum, dan bahkan tersipu malu.
Aira langsung iri melihatnya.
Suatu hari nanti posisi itu juga akan menjadi milikku. Batinnya cemburu.
...*****...
"Nasha, kenapa kamu ngeliat Aish terus? Kamu ada masalah ya sama dia?"
Di meja yang tidak jauh dari tempat Aish dan teman-teman kamarnya duduk, ada Nasha yang diam-diam memperhatikan Aish. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang karena matanya sangat sulit berpaling dari wajah cantik Aish.
__ADS_1
"Naudzubillah, kenapa aku punya masalah dengannya? Kami sering menyapa dengan sopan setiap kali bertemu." Bantah Nasha.
"Ya, siapa tahu aja kan?"
Nasha tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala yang tidak berdaya. Apa di mata teman-temannya dia adalah tipe orang bersumbu pendek?
"Aku hanya kagum kepada dia. Tanpa kita sadari dia sudah memiliki banyak teman dan dikagumi banyak orang. Jadi aku nggak heran ngelihat dia dekat sama habib Thalib."
Mendengar nama habib Khalid disebut, perhatian teman-temannya langsung teralihkan.
"Dekat gimana maksud kamu? Itu hanya rumor kan?"
Bila sebelumnya dia tidak melihat interaksi mereka berdua tadi pagi maka dia akan memiliki pendapat yang sama dengan teman-temannya. Tapi dia melihatnya, jujur, dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa apa yang dia lihat tadi pagi memang benar adanya dan itu bukan humor semata.
"Gimana pendapat kalian kalau habib Thalib dan Aish memang memiliki hubungan atau bahkan berjalan ke ranah yang serius?" Bukannya menjawab pertanyaan temannya, tapi dia malah balik bertanya.
Teman-temannya jadi bingung.
"Iya itu sih haknya habib Thalib, tapi kalau ditanya pendapatku ya sejujurnya aku ngerasa kalau pasangan habib Thalib lebih baik aku hehehe... Tapi kalau mereka emang bersama-sama... Nggak apa-apa sih. Kalau dilihat-lihat mereka berdua sebenarnya serasi." Salah satu temannya menjawab dengan nada bercanda dan segera mengundang ejekan dari teman-teman yang lain.
"Lho, itu bukannya habib Thalib, yah?" Nasha dan teman-temannya langsung kompak melihat pintu masuk kantin.
Seketika kantin yang tadinya ribut langsung diam membisu. Perhatian semua orang langsung disita oleh kehadiran sang habib. Malam ini sang habib menggunakan baju koko biru laut dengan celana cingkrang hitam, serta peci hitam yang tidak pernah dilupakan. Seperti biasa dia akan menyapa mereka semua dengan senyuman lembut dan ramah, senyuman yang selalu membuat hati para santriwati berdegup kencang.
"Kalian perhatiin enggak habib Thalib bawa sesuatu di tangannya?"
__ADS_1