Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 9.6


__ADS_3

Aish langsung tersadar dari lamunannya. Dia menatap habib Khalid malu sambil menggelengkan kepalanya.


"Alhamdulillah enggak sampai, kak... untungnya ada kak Khalid di sini." Kata Aish malu bercampur senang karena tanpa habib Khalid, ia mungkin sudah jatuh ke air.


Habib Khalid tersenyum lembut. Dia lalu menarik Aish ikut bersamanya, berjalan hati-hati melewati batu-batu licin di sungai hingga mereka akhirnya naik kembali ke darat.


Sepanjang jalan mata Aish tidak bisa berpaling dari tangan kuat habib Khalid yang sedang memegang pergelangan tangannya. Kekuatan tangan habib Khalid memang kuat tapi tidak menyakiti pergelangan tangan kanannya- ah, Aish tidak memperdulikannya. Karena dia lebih memperdulikan bila saat ini dia akhirnya bisa bergandengan tangan dengan sang habib.


Tapi... apakah ini masih disebut sebagai pegangan tangan?


"Bawahan mu basah." Suara habib Khalid langsung menarik Aish dari pikirannya.


"Ah.. kenapa?" Aish bertanya gelagapan dan baru menyadari habib Khalid sudah melepaskan tangannya.


Habib Khalid merasa geli. Mata gelapnya memandangi wajah menawan Aish yang mulai memerah di bawah pengawasan matanya.


Aish sangat gugup. Kedua tangannya tanpa sadar mulai saling meremat.


Habib Khalid menggelengkan kepalanya. Dia lalu melepaskan sarung di pundak dan memberikannya kepada Aish.


"Bawahan mu basah, pakai ini untuk menutupinya." Kata habib Khalid masih dengan senyuman yang sama.


Aish tertegun, dia menunduk melihat bawahan gamisnya yang sudah basah bahkan sampai naik ke bagian paha dan langsung mengerti kenapa habib Khalid memberikannya sarung ini.


Hanya saja... Aish mengangkat kepalanya melihat sarung itu lagi.


Matanya berkedut tertahan melihat warna sarung itu sungguh sangat mencolok, sinarnya hampir membutakan mata tak berdosa Aish.


Ini... apakah warna kesukaan habib adalah hijau?


Kalau tidak kenapa dia bisa membeli sarung ini?

__ADS_1


"Ambillah." Habib Khalid menggoncang kain sarung itu.


Aish tersenyum kalem dan mengambilnya.


"Terima kasih, kak." Indera penciuman Aish langsung menangkap wangi yang sangat menyegarkan, wangi ini memberikan perasaan relaksasi yang bisa dirasakan ketika seseorang berada di dalam hutan.


Sangat menyegarkan. Aish langsung terlena dibuatnya. Dia menundukkan kepalanya sedikit ke bawah, lalu menghirup wangi di sarung itu dengan puas.


"Kak Khalid suka warna hijau, yah?" Tanya Aish murni ingin tahu.


"Aku suka semua warna namun yang paling spesial adalah warna hijau."


Mata aprikot Aish berkedip heran,"Kenapa, kak?"


Karena menurut Aish masih banyak warna yang lebih bagus dan lebih menyenangkan mata daripada warna hijau. Aish juga berpikir bila warna hijau terlalu monoton dan norak, warna yang mudah dilihat kemanapun mereka pergi.


Aish berani bertaruh jika bukan cuma dia saja yang memiliki pendapat ini. Mungkin sebagian besar populasi manusia memiliki pendapat yang sama dengannya.


Namun, bila habib Khalid memang menganggapnya spesial, dia akan berusaha untuk menyukai warna ini juga sekalipun Aish tahu bahwa warna ini sangat biasa.


Bukan hal yang luar biasa memang namun selalu membawa ketenangan setiap kali mata memandangnya.


"Aku menyukainya karena Rasullullah Saw menyukai warna hijau dan pernah menganjurkan kita untuk menggunakan pakaian berwarna hijau disaat hari raya, sebab dikatakan di dalam Al-Qur'an bahwa para penghuni surga Adn menggunakan sutra berwarna hijau. Jika penghuni surga saja yang indah menggunakan warna hijau dalam berpakaian maka mengapa kita tidak bisa? Bukankah itu hal yang baik dan disukai oleh penguasa Sang Langit?" Tersenyum lembut, Aish seketika merasa mabuk dibuatnya.


Habib Khalid lalu melanjutkan,"Selain itu warna hijau sangat nyaman di mata kita. Sama seperti mendengarkan suara air mengalir untuk meredam marah, warna hijau juga memiliki efek ini di dalam diriku. Ada kalanya aku merasa tidak sabar dengan emosi ku sendiri, dan setiap kali emosi itu datang aku akan memilih datang ke sini. Duduk di pinggir sungai mendengarkan suara gemericik air yang mengalir dan memandangi alam yang terbentang luas di depan mata, yakinlah Aish... hatimu akan tenang seiring dengan lisan mu yang tidak berhenti menggemakan zikir. Kamu akan merasa jauh lebih tenang dan damai, jauh dari kerusuhan hati yang mengganggumu."


Hati yang tenang dan damai, Aish juga ingin merasakan perasaan ini. Dulu dia selalu berpikir diam di kamar terjebak dalam kesunyian adalah kedamaian yang paling memuaskan hatinya. Namun sekarang mendengar apa yang habib Khalid katakan, hatinya tiba-tiba berdesir aneh. Dia membayangkan para penghuni surga yang tidak terlukiskan, membayangkan jika dia juga ada di dalam sana. Dan yang sangat mengagetkan adalah selama pikirannya berkelana tadi, hatinya tanpa sadar terasa jauh lebih tenang dari yang pernah dia rasakan.


"Kak Khalid..." Panggil Aish tanpa sadar.


Habib Khalid menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ada apa?"


Melihatnya sedekat ini, wajah Aish rasanya mulai memanas lagi. Dia menggelengkan kepalanya malu-malu sembari menundukkan kepalanya.


"Eng-enggak ada kok, kak. Aku cuma manggil aja." Bisik Aish dengan wajah tersipu.


Habib Khalid mungkin mengerti kegugupan Aish. Dia tersenyum geli melihat tingkahnya yang pemalu namun tidak mengatakan apa-apa untuk berkomentar.


"Kemari, duduklah di sini." Habib Khalid kembali menarik lengan Aish untuk mengikutinya.


Dia membawa Aish ke pohon rindang tempat Aish duduk sebelumnya dan meminta Aish untuk duduk dengan patuh di sebuah batu.


Aish tiba-tiba menjadi bodoh ketika ditarik pergi oleh habib Khalid. Dia pikir keberuntungannya hanya terjadi sekali karena mungkin saja habib Khalid memegangnya tadi karena refleks yang tidak disengaja. Namun melihat tangan habib Khalid kembali memegang tangannya lagi, Aish tidak bisa tidak bertanya-tanya di dalam dirinya mengapa habib Khalid memegangnya lagi?


Bukankah mereka tidak seharusnya bersentuhan?


"Duduklah, aku akan mengambil air wudhu dan sholat di sini."


Aish menatap habib Khalid bingung, bertanya ragu-ragu,"Kak Khalid mau sholat di sini?"


Harusnya kan habib Khalid sholat berjamaah di masjid bersama santri dan santriwati seperti biasanya. Namun mengapa dia sholat di sini?


Apakah Aish salah memahami maksud sang habib?


Habib Khalid tersenyum,"Sholat di sini. Aku tidak bisa ikut sholat berjamaah karena masjid sudah mulai sholat sejak tadi." Kata habib Khalid menjelaskan.


Aish mengerti.


Dia bertanya lagi,"Apa kak Khalid telat gara-gara nolongin aku tadi?"


Habib Khalid menatapnya dalam diam. Senyumnya yang hangat tidak pernah pudar dari wajah tampan tanpa cela, memberikan Aish sebuah ilusi bila di mata habib Khalid hanya ada dirinya seorang.

__ADS_1


Aish gelisah. Pipinya rasanya mulai membengkak bersamaan dengan gelombang panas yang tidak kunjung-kunjung surut dari pipinya yang merah.


"Sudah digariskan, jadi jangan terlalu dipikirkan."


__ADS_2