
"Mereka belum terbiasa dengan pondok kita, di samping itu juga kehidupan mereka jauh berbeda sebelumnya dengan pondok sehingga mereka sulit beradaptasi dengan pondok. Kita harus bersabar menghadapi mereka karena temperamen masih mengikuti gaya hidup sebelumnya. Dan dengan bersabar hati mereka perlahan pasti akan luluh dan dengan sendirinya mulai mematuhi segala aturan pondok kita. Ini bukan sekedar angan-angan kakak saja, percayalah, hati mereka tidak sekeras yang terlihat dan cepat atau lambat mereka akan menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Hanya perlu bersabar saja sambil berusaha membujuk mereka ke jalan yang lebih baik, sisanya serahkan semuanya kepada Allah." Ujar Nasha menggelengkan kepalanya.
Dia tidak mau ambil pusing untuk masalah yang ditimbulkan oleh ketiga anak baru itu. Meskipun merepotkan tapi dia tidak merasa lelah sebab dia percaya segala sesuatu perlu melewati banyak proses. Dan ini juga berlaku untuk hari manusia. Mungkin Aish, Gisel, dan Dira sekarang enggan tinggal di sini, tapi suatu hari nanti Nasha yakin akan ada masa dimana mereka bertiga mencintai tempat ini yang seperti semua orang rasakan setelah tinggal lama di sini.
"Kak Nasha benar tapi aku masih tidak setuju dengan perilaku mereka yang sok." Kata Meri masam.
Dia tidak hanya kesal melihat kelakuan ketiga anak kota itu tadi tapi juga tidak senang dengan sikap mereka kemarin. Masih teringat jelas bagaimana sikap kurang ajar mereka ketika menuduh Khalisa melakukan tindakan tercela kepada mereka, sungguh hina, padahal di pondok ini tak akan pernah ada yang mau mempercayai perkataan mereka apalagi sampai mengadu ke habib Khalid yang paling sulit disentuh?
"Sudahlah, jangan bicarakan ini lagi. Sekarang lebih baik kita segera pergi ke masjid agar tidak ketinggalan sholat tahajud berjamaah." Nasha memutuskan topik pembicaraan dan bergegas memimpin jalan keluar.
Meri manyun,"Benar saja, kak Khalisa lebih pantas jadi ketua kedisiplinan asrama putri dari Kak Nasha." Gumam Meri sok tahu.
Dibandingkan dengan Nasha, jujur, Meri lebih mengidolakan Khalisa. Selain cantik dan memiliki penampilan lembut, Khalisa adalah gadis yang cerdas sekaligus pintar. Dia digadang-gadang akan mendapatkan beasiswa ke luar negeri dari pondok pesantren. Entah ke Tarim ataupun ke Mesir, kedua tempat ini selalu menjadi daya tarik mereka sebagai anak pondok. Dan karena Khalisa memiliki kesempatan ini membuat banyak santri serta santriwati kagum kepadanya.
Beruntung rasanya mendapatkan jaminan langsung dari pondok pesantren.
Tapi tidak ada yang mendengar perkataannya dan tidak ada yang tahu pikirannya. Semua orang sibuk mengelilingi Nasha untuk bertanya atau membicarakan beberapa hal sambil berjalan menuju ke masjid.
Untungnya mereka sudah membawa Al-Qur'an dan persiapan sholat sebelum mulai berpatroli tadi sehingga mereka tak perlu naik ke lantai atas dulu untuk mengambil perlengkapan sholat.
...***...
__ADS_1
Aish, Gisel, dan Dira sekarang sedang berada di dalam masjid. Mereka duduk di atas sajadah yang telah digelar di baris paling belakang. Karena mereka terlambat datang, mereka tidak mendapatkan saf depan dan Gadis pun tidak mengamankan mereka sebuah tempat. Mereka bertiga jelas tidak perduli dan tidak masalah karena Gadis hanyalah orang asing untuk mereka bertiga. Malah duduk di tempat paling belakang jauh lebih baik daripada harus berhimpitan di depan.
"Kamu bisa baca, enggak?" Tanya Dira sambil membalik-balik mushaf Al-Qur'an di tangannya.
Aish melirik Al-Qur'an ditangan Dira sebelum beralih menatap Al-Qur'an ditangannya sendiri. Tersenyum kecil, dia menggelengkan kepalanya tidak sok. Dia memang bisa membaca Al-Qur'an tapi tidak terlalu lancar dan terkadang akan terbata-bata bila ditatap, apalagi ditempat umum seperti ini. Dia tidak terbiasa.
"Jangan dimainin Al-Qur'an nya. Enggak sopan, Al-Qur'an adalah benda suci." Kata Aish mengingatkan kedua orang yang bosan di sampingnya.
Dira dan Gisel sama-sama begok soal urusan agama apalagi baca Al-Qur'an, seingat mereka terakhir baca Al-Qur'an waktu masih sekolah dasar dan agak jarang sewaktu di SMP karena mereka sudah mulai mengenal dunia remaja yang menggoda.
"Iya, iya." Kata Dira tidak lagi mengguncang-guncang Al-Qur'an ditangannya.
"Mereka kok bisa banget yah hafalin ayat sebanyak ini?" Dira tiba-tiba bertanya.
Gisel juga tidak tahu,"Entahlah, tapi tekat mereka pasti kuat banget."
Aish melirik orang-orang di sekitarnya, tidak membuat komentar apapun dia kembali menundukkan kepalanya menatap ayat-ayat suci di depannya.
Jika Mama enggak mati secepat itu, maka mungkin bacaan ku jauh lebih lancar dari sekarang. Batin Aish mengenang.
Ibu manapun pasti senang melihat anaknya mendalami agama, dan dia juga yakin bila Mama adalah orang yang seperti itu. Hanya sayang saja dia tidak bisa merasakan momen itu di dalam hidupnya.
__ADS_1
***
Pada pukul 7 pagi Aish, Dira dan Gisel pergi ke stan makanan untuk sarapan. Mereka kali ini tidak ogah-ogahan pergi ke stan makanan karena mereka harus bekerja setelah ini. Jadi agar tenaga mereka terjamin pada saat bekerja membersihkan kamar mandi, mereka harus sarapan dan minum air putih yang cukup.
"Dimana Gadis?" Tanya Gisel kepada Aish.
Biasanya Gadis akan menempeli Aish kemanapun dia pergi. Saking menempelnya, Gisel kadang merasa sakit gigi dan sempat berpikir yang aneh-aneh. Dia pernah berpikir jika Gadis memilki sebuah perasaan terlarang kepada Aish.
"Enggak tahu. Dia enggak pernah keliatan sejak sholat tahajud." Kata Aish acuh.
Mereka kemudian masuk ke dalam stan makanan dan duduk di tempat yang agak dekat dengan pintu keluar. Mereka memilih tempat ini agar mudah keluar setelah menyelesaikan sarapan.
Mereka duduk dengan anteng sambil menunggu pembagian makanan yang tengah berjalan dari beberapa tempat acak. Untungnya meja barisan mereka sedang dibagikan makanan oleh staf dapur umum. Tangan mereka sangat cepat dan cekatan sehingga dalam waktu yang singkat, semua orang yang ada dibarisan meja mendapatkan makanan.
Sarapan pagi ini adalah bubur ayam yang masih hangat dan wangi. Perut mereka bertiga langsung keroncongan melihat sarapan di atas meja.
"Sarapan hari ini enak." Dira adalah orang yang paling cepat menyuapkan bubur ke dalam mulutnya.
"Hem." Kata Gisel setuju. Matanya lalu menangkap keberadaan Gadis di meja sebelah.
"Hari ini Gadis udah janji mau bantuin kita bersihin dapur." Kata Gisel kepada kedua temannya.
__ADS_1