Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.1


__ADS_3

"Siapa yang kamu bilang bebek Mandarin?" Khalif langsung kehilangan senyum di wajahnya.


Dia adalah seorang laki-laki tulen dan tidak suka disama-samakan dengan wanita. Julukan bebek Mandarin jelas lebih pantas didapatkan oleh seorang wanita dibandingkan dengan dirinya yang laki-laki. Jelas dia tidak suka dipanggil sebagai bebek Mandarin. Ketidaksukaannya ini semakin bertambah buruk ketika orang yang menyebutnya itu adalah Dira, gorila betina yang telah membuat masalah kepadanya akhir-akhir ini.


Dira berkaca pinggang dengan angkuhnya,"Masih belum sadar diri?" Katanya mengejek.


Mendengus dingin, Khalif menarik lengan bajunya bersiap-siap turun ke sawah dan menghampiri Dira. Sebagai seorang laki-laki yang direndahkan harga dirinya, dengan memberikan sedikit pelajaran kepada gorilla betina yang suka asal berbicara ini.


"Tunggu aku di sana! Jangan kemana-mana!" Ancamnya serius.


Dira agak takut melihatnya. Hei, dia adalah wanita sedangkan Khalif adalah laki-laki. Bila mereka berdua benar-benar bertengkar maka yang kalah sudah pasti adalah dirinya.


"Aish, aku harus gimana, nih? Dia kayaknya serius mau ke sini." Dira panik.


Aish juga tidak tahu harus berbuat apa dan dia pun sama gugupnya dengan Dira.


"Kamu sih suka banget ngeledekin dia." Ucap Aish cemberut.


Dira memutar bola matanya jengah. Siapa yang harusnya salah? Yang pasti bukan dirinya. Sejak tadi pagi dia telah mengabaikan keberadaan manusia itu meskipun mereka sempat saling melihat. Karena masalah kemarin, Dira mengerti orang seperti apa Khalif ini. Hanya karena kesalahan sepele dia memendam dendam dan membuat masalah yang lebih besar lagi. Inilah alasan mengapa Dira tidak ingin berhubungan lagi dengan Khalif. Tapi lihatlah saat ini, orang ini mendatangkan dirinya sendiri kepadanya dan dia jugalah yang mengganggunya lebih dulu, ketika Dira membalas kata-katanya, dia malah tidak terima dan ingin mendatanginya. Sungguh luar biasa. Dira tidak bisa berkata apa-apa.


"Duh, mampus kamu sekarang, Dir. Aku nggak ikut campur deh, lagian aku nggak pernah ikut kelas tinju juga." Gisel mengangkat kedua tangannya pasrah tanda menyerah kepada Dira.


Mulut Dira berkedut.


"Aku harus gimana dong, kan itu juga bukan salahku? Dia sendiri yang tiba-tiba gangguin aku? Emang salah ya aku bela diri?" Tanya


Dira sedih.


Melihat Khalif sudah turun ke petak sawah mereka, kedua kaki Dira gatal ingin melarikan diri. Tapi untungnya suara berat sang habib menghentikan Khalif membuat masalah. Mereka bertiga langsung menghela nafas lega.


"Khalif, kembali. Jangan membuat masalah lagi." Tegur sang habib.

__ADS_1


Ekspresi sang Khalif langsung tidak ramah. Tampaknya dia memiliki keluhan kepada sang habib.


"Iya, habib." Khalif tidak lagi membuat masalah dan kembali ke petak sawah yang harusnya diurus.


Aish lega karena habib pada di sini. Wajah merahnya berseri-seri menatap sang habib dengan senyuman manis.


"Kak Khalid, terima kasih." Ucap Aish malu.


Tapi aneh, habib Khalid tidak lagi tersenyum. Wajahnya terlihat sangat serius ketika melihat Aish. Sesungguhnya melihat habib Khalid dengan penampilan serius seperti ini membuat jantung Aish berdebar kencang. Logikanya dia harus takut, tapi bodohnya Aish malah merasa terpesona. Ada banyak fantasi gila di dalam kepalanya. Iya, dia banyak berangan-angan tentang sang habib. Namun itu semua adalah rahasia hatinya yang tidak akan pernah diungkapkan. Cukup Allah yang tahu.


"Kalian semua naik ke atas." Perintah sang habib kepada mereka bertiga.


Mereka bertiga tercengang. Menurut aturan mereka bisa naik ke atas ketika waktu makan siang tiba dan baru turun kembali setelah menyelesaikan shalat zuhur.


"Habib Thalib mau ngapain kita?" Gumam Dira berharap-harap cemas.


"Naik ke atas dulu. Jangan buat kak Khalid marah." Kata Aish kepada mereka berdua seraya memimpin jalan di depan.


Mereka bertiga lalu naik ke atas. Di pinggir sawah Nasha yang bertugas mengawasi sudah menunggu kedatangan mereka. Begitu mereka naik, dia langsung memberikan Dira sebuah handuk kecil untuk membersihkan wajahnya.


Matanya berkedut tertahan melihat penampilan Dira yang sangat kacau.


"Sama-sama. Ini adalah perintah dari habib Thalib." Katanya lembut.


Dira menganggu ringan sembari mengelap wajahnya dengan handuk kecil itu. Dia tidak terkejut karena sebenarnya yang ingin habib Khalid bantu bukanlah mereka berdua melainkan Aish. Sedangkan Aish dipanggil oleh sang habib begitu naik ke pinggir sawah.


"Iya, kak?" Aish berjalan mendekat dengan hati-hati sembari mengawasi ekspresi datar sang habib.


"Pakai ini agar tidak kedinginan." Habib Khalid melepaskan jaket di tubuhnya dan menyodorkannya kepada Aish.


"Eh, nggak perlu, kak. Aku baik-baik aja dan nggak kedinginan." Tolak Aish lembut.

__ADS_1


Jaket habib Khalid tanggal bersih dan harum, dia mana tega mengotori pakaian habib Khalid. Jadi dia menolaknya dengan enggan.


Habib Khalid mengernyit tidak senang. Tanpa bertanya lagi habib Khalid langsung memakaikan jaket itu ke pundak Aish.


"Kak...ini benar-benar enggak-"


"Patuh. Ketahuilah aku benar-benar marah saat ini." Potong sang habib datar.


Aish bungkam. Tertunduk malu menyembunyikan wajah merahnya dari sang habib. Jangan tanya bagaimana keadaannya sekarang, jelas-jelas hatinya sangat kacau sekarang. Dan jantungnya tidak pernah berhenti berdetak kencang. Entahlah sudah berapa kali jantungnya bereaksi sekuat ini, namun yang pasti reaksi ini hanya berlaku ketika dia bersama sang habib.


"Kenapa?" Tanya Aish penasaran.


"Jika berbicara dengan seseorang belajarlah untuk menatap langsung ke matanya." Tegur habib Khalid masih dengan nada yang datar.


"Tapi kita bukan mahram?" Dan harusnya tidak boleh, kan?


"Benar dan salah, jadi angkatlah kepalamu dan tatap mataku ketika berbicara. Aku tidak memintamu menatap orang lain karena aturan ini hanya berlaku untukku."


"Ah?" Jujur, Aish terkejut mendengar apa yang habib Khalid katakan tadi.


Apa maksudnya?


Mahram, kami bukan mahram. Lantas mengapa sang habib meminta untuk menatap langsung ke matanya setiap kali berbicara?


Ini dosa. Ini adalah kejahatan di dalam agama mereka. Allah tidak suka, dan lagi-lagi Aish bingung mengapa sang habib melakukan ini jika tahu Allah tidak menyukainya?


"Apanya yang benar dan salah, kak? Aku tidak mengerti." Tanyalah Aish dengan polosnya.


Kepalanya yang tadi tertunduk perlahan mulai terangkat. Diam diam dia mengintip sang habib dari sudut matanya berharap bahwa sang habib tidak melihat- ah, mata mereka berdua bertabrakan. Sontak Aish menurunkan kepalanya lagi. Malu sangat malu dirinya. Bila saja penampilannya baik-baik saja, maka dia tidak perlu bersembunyi. Tapi saat ini badannya dipenuhi oleh lumpur, dan dia tidak tahu seperti apa wajahnya sekarang. Maka dari itu dia terus bersembunyi agar sang habib tidak melihat penampilannya yang kacau.


"Kamu sangat pandai membuat masalah." Ucap sang habib tiba-tiba dengan suara rendahnya yang serak.

__ADS_1


"Aku minta-" Aish sangat ketakutan dan buru-buru mengangkat kepalanya ingin meminta maaf kepada sang habib.


"Benar dan salah, mau tahu?" Potong habib Khalid dengan senyuman yang bukan lagi disebut senyuman di wajah tampan tanpa celanya.


__ADS_2