Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 11.9


__ADS_3

"Ada yang menarik, enggak?" Tanya Gisel iseng.


Dira menganggukkan kepalanya kalem,"Ada, tapi menurutku mereka terlalu bersih jadi aku nyari sugar Daddy aja yang lebih cocok sama aku."


Gisel menggelengkan kepalanya malas meladeni pembicaraan Dira. Habisnya bercandaan Dira terlalu berat buat usia mereka yang masih belum nyentuh angka dewasa.


Apalagi Dira sendiri adalah anak orang kaya dan logikanya tidak membutuhkan uluran tangan Daddy sugar.


"Kamu ada enggak?" Tanya Dira balik.


Gisel tersenyum tipis.


"Ada, tapi aku enggak tahu dia duduk di saf mana." Kata Gisel malu-malu.


Dari tadi ia sudah mencoba mengintip tapi karena terlalu banyak orang, Gisel tidak bisa melihatnya dengan jelas. Pasrah, ia hanya bisa duduk kalem di atas sajadah. Nyatanya sudah lama ia tidak melihat Danis dan seringkali merindukannya.


"Sayang banget." Decak Dira sok prihatin.


"Ngomong-ngomong, tidur di sini enak juga, yah?" Kata Aish tiba-tiba menyela pembicara mereka berdua.


Jujur, mungkin kedengarannya agak berlebihan untuk orang lain tapi ini memang fakta yang Aish rasakan sendiri. Menurutnya tidur semalam adalah salah satu tidur terbaik yang pernah ia miliki dalam hidupnya. Walaupun tidak bermimpi indah dan bahkan tidak memiliki mimpi sama sekali, namun Aish merasa jauh lebih puas dan nyaman, anehnya. Mungkinkah ia bisa tidur senyaman ini karena mereka tidur di dalam masjid?


Masjid adalah rumah Allah, tempat beribadah dan terbilang suci karena digunakan untuk melakukan hal-hal baik. Jadi, bisa saja kan jika semua itu mempengaruhi faktor kenyamanan Aish. Di samping itu Aish juga harus mengakui secara gamblang bila duduk di dalam kesunyian di tempat ini membuatnya mudah sekali menjatuhkan air mata. Yah, tempat ini memberikan suasana yang hangat dan damai, seolah-olah Aish tidak akan dilarang ataupun dibenci saat mencurahkan isi hatinya.


"Eh, aku pikir cuma aku aja yang ngerasain, ternyata kamu juga ngerasain Aish." Gisel terkejut.


Dira menggaruk kepalanya,"Aku juga nyaman kok. Tidur aku rasanya nyenyak banget."


Aish dan Gisel langsung menoleh menatap Dira. Mereka berdua menatap Dira geli.


"Kenapa?" Tanya Dira malu.


Gisel mengangkat bahu,"Lucu aja, soalnya kamu orangnya cepat banget tidur dimana pun kamu berada. Enggak di asrama, enggak di dalam masjid, kamu pasti jadi orang pertama yang ketiduran. Dan aku malah curiga kalau kamu mungkin cepat beradaptasi di kolong-"


"Jangan ngomong yang aneh-aneh. Ini masjid, kita disarankan perbanyak shalawat dan zikir daripada ngomong yang enggak berfaedah." Potong Dira kalem.

__ADS_1


Aish menepuk keningnya tidak berdaya. Tak berbicara lagi, Aish membawa pandangannya menatap ke arah lantai satu. Lantai satu hampir penuh dengan barisan saf yang sangat rapi dan rapat. Melihatnya dari atas cukup memanjakan mata Aish.


"Hahh...aku enggak tahu kak Khalid dimana?" Gumam Aish merindu.


Menundukkan kepalanya, pikiran Aish tiba-tiba tertuju pada hasil temuannya di dalam kamar mandi tadi. Ketika ia melepaskan jilbabnya saat mengambil air wudhu, Aish tiba-tiba mencium wangi habib Khalid di kain jilbabnya. Wangi pepohonan yang menyegarkan, seolah-olah kita di bawa masuk ke dalam sebuah hutan subur di pagi hari, Aish merasakan perasaan ini tiap kali mencium wangi habib Khalid.


Aish yakin tidak pernah bertemu dengan habib Khalid kemarin kecuali untuk bekal yang ditinggalkan lewat jendela kamar, ia sama sekali tidak pernah bertemu dengan habib Khalid. Lalu kenapa tiba-tiba wangi habib Khalid ada di kain jilbabnya?


Aish bingung.


Jika pun ia bertemu dengan habib Khalid, mereka tidak sedekat itu sampai-sampai membuat wanginya menempel di kain jilbabnya.


"Apa mungkin..." Aish teringat dengan mimpi tidak jelas Dira.


"Jika orang itu adalah kak Khalid, maka semuanya bisa dijelaskan. Wangi ini...aku yakin, habib Khalid adalah satu-satunya orang yang memiliki wangi ini." Sebab wangi ini sangat tidak biasa, wangi yang tidak muncul dari parfum ataupun jenis wewangian buatan lainnya, Aish yakin wangi ini adalah wangi milik habib Khalid sendiri.


"Apakah aku boleh berharap ya Allah... apakah aku boleh berharap bila kak Khalid juga ada di samping ku malam itu?" Gumam Aish bersenandung lembut.


...****...


"Assalamualaikum, Bunda." Sapa Aira pagi-pagi sekali kepada Bunda.


"Waalaikumussalam."


Aira pagi ini dalam suasana hati yang baik setelah berpikir panjang semalam. Ia bertekad mengabaikan apa yang kakek katakan karena seperti yang Allah bilang di dalam Al-Qur'an bahwa, perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga). (QS. An-Nur 24: Ayat 26)


Jadi Aira tidak perlu khawatir soal habib Khalid karena pada akhirnya habib Khalid pasti akan dipertemukan dengan wanita yang baik, dan Aira yakin jika ia memiliki kesempatan yang sangat besar untuk terpilih.


"Bunda, apa yang sedang kakek lakukan di luar?" Tanya Aira penasaran.


Aira melihat kakek di halaman depan sedang melakukan sesuatu tapi ia tidak yakin apa yang kakek sedang lakukan karena ia tidak bisa melihatnya dengan jelas dari dalam.


Bunda menoleh ke jendela yang menghadap langsung ke halaman depan, tersenyum kecut,"Kakek sedang merawat bunga mawar peninggalan Mama Aish." Jawab Bunda singkat.


Setelah mendengarkan jawaban Bunda, Aira tidak lagi tertarik memperhatikan kakek. Menurutnya kakek terlalu berlebihan dan suka pilih-pilih terhadap Bunda nya.

__ADS_1


Hei, Mama Aish sudah lama mati jadi tidak perlu dikenang lagi.


"Bunda, hari ini Aira izin ke perpustakaan kota, yah. Bentar lagi kan Aira ujian jadi harus banyak-banyak baca buku biar ujiannya lancar dan tes masuk ke universitasnya dipermudah juga." Aira menarik kursinya dan duduk.


Hidungnya yang tertutupi kain cadar mengendus-endus betapa wangi masakan yang dibuat Bunda untuk sarapan pagi ini.


Bunda senang mendengar kegigihan putrinya untuk belajar.


"Bunda izinin kok asal Ayah kasih izin."


Aira memegang sendok makan dan bersiap mengambil sesuap nasi goreng.


"Ayah udah izinin, kok, Bunda. Ayah malah tambahin Aira uang belanja lagi biar bisa beli apa-apa yang Aira suka kalau keluar nanti."


Bunda tersenyum.


"Bunda senang, dengarnya. Nak, belajarnya jangan lama-lama. Kalau bisa pulang jangan sore-sore, yah?"


Dengan pipi menggembung Aira menganggukkan kepalanya patuh.


"Sip, Bun." Ia menyanggupi.


Bersambung...


Azira membenci Ayahnya karena tega meninggalkan Ibu, dan dia bahkan lebih membenci istri kedua Ayahnya sebab jika bukan karena wanita itu, Ibu tidak akan pernah menginjak dunia malam. Tidak, sejujurnya Azira membenci Ayah dan keluarga Ayahnya yang bahagia serta harmonis. Pernah memandang rendah Azira dan Ibunya yang miskin, mereka bahkan tanpa ragu membunuh Ibunya.


Azira sangat membenci mereka semua!


Karena kebencian inilah dia terpaksa memasuki keluarga Ayah, menghancurkan kehidupan bahagia putri terkasih Ayah dan merebut calon suaminya, Azira melakukan semua itu.


Dia pikir balas dendamnya telah selesai setelah melihat keluarga Ayahnya hancur, dan dia pun siap dihancurkan oleh suami paksaan nya. Namun, siapa sangka bila suami paksaan nya tidak hanya tidak menghancurkannya namun juga menyediakan rumah untuknya kembali?


Apa ini?


Apakah ini hanya penyamaran sang suami untuk membalas dendam kepadanya karena telah merebut posisi wanita yang dicintai?

__ADS_1


Atau justru sebaliknya?


Jawabannya ada di sini, Mahram Untuk Azira


__ADS_2