
Ibu Salma segera menatapnya. Aneh, Aish merasa bila Ibu Salma sedang menilainya dari atas sampai bawah, tapi ini hanya tebakan saja karena Ibu Salma langsung menarik matanya.
"Ini ada sisa makanan untuk kalian bertiga. Makanlah selagi masih ada waktu. Kalau kalian menundanya makanan ini akan menjadi dingin dan kalian juga tidak akan sempat memakannya karena pondok pesantren sebentar lagi akan menutup asrama." Ibu Salma memberikan tas kain kepada Aish.
Aish melihat tas kain di tangannya. Rasanya agak berat karena ada makanan di dalamnya.
"Terima kasih, Bu. Tapi apa ini enggak masalah, Bu?" Dia juga mendengar soal porsi yang Ibu Salma jelaskan tadi di dapur umum.
Ibu Salma tersenyum lebar sembari menatapnya.
"Tidak apa-apa. Ini hanya makanan sisa. Kalau dibuang dosa." Katanya santai.
Aish mengangguk paham. Orang-orang di tempat ini selalu begini. Semuanya serba tidak boleh karena dosa dan takut dihukum pikirnya tidak heran.
"Terima kasih, Bu Salma. Kapan-kapan kita bantu cuci piring lagi, yah." Orang yang mengaku capek langsung bereaksi dengan semangat tinggi.
Dira langsung melupakan pegal-pegal di pinggangnya.
"Iya, Bu. Lain kali kami akan datang membantu lagi." Kata Gisel sama semangatnya.
Kalau mereka bisa dapat makanan tambahan dengan melakukan pekerjaan ini, maka Dira dan Gisel ikhlas menjalankannya.
Aish menggelengkan kepalanya tidak berdaya melihat teman-temannya yang murah.
"Baiklah, Ibu akan sangat berterima kasih bila kalian datang membantu. Sekarang pulanglah. Pergi sholat ke asrama kalian dan segera makan." Kata Ibu Salma kepada mereka bertiga.
Aish menganggukkan kepalanya sopan dan sekali lagi merasakan tatapan penilaian Ibu Salma. Dia bingung karena tiba-tiba diperhatikan oleh Ibu Salma.
"Kenapa Aish?" Tanya Dira ketika merasakan kebisuan Aish.
Aish langsung tersadar dari lamunannya. Dia menggelengkan kepalanya tidak mau membahas masalah sepele ini.
"Bukan apa-apa."
Mereka bertiga saat ini sedang berjalan melewati jalan setapak menuju asrama putri. Di samping kiri dan kanan terbentang sawah yang luas. Harusnya ini terlihat menakutkan tapi pondok pesantren tidak pelit karena sepanjang jalan mereka akan menemukan lampu jalan.
__ADS_1
Ada juga cahaya bulan yang terang benderang sehingga membantu penerangan disekitar mereka.
"Eh, kita makan di sini aja gimana?" Tawar Gisel sambil berjalan ke samping.
"Boleh juga. Soalnya kalau makan di asrama ribet. Takutnya mereka enggak senang terus pergi laporin kita bertiga deh." Kata Dira mengikuti Gisel ke pinggir jalan.
Mereka melepaskan sendal masing-masing dan duduk di atas rumput.
"Terserah kalian." Kata Aish mengikuti.
Dia sebenarnya tidak lapar. Dira langsung mengambil tas kain Aish. Membukanya dengan semangat tinggi. Di dalam ada satu kotak bekal nasi yang besar. Menurut pendapat mereka bertiga secara kompak, bekal nasi ini sangat cocok untuk kuli bangunan. Tapi berhubung yang makan tiga orang maka porsinya seharusnya pas.
"Lho, nasi kuning?" Kaget Dira terbengong melihat nasi kuning dengan lauk pauknya yang menggugah selera kini tengah terpapar di hadapannya.
Aish juga terkejut. Terlebih lagi saat hidungnya mencium wangi sambal yang khas. Wangi sambal ini sudah pernah dia cium di kotak makanan pemberian Nabila dan saat mendapatkan bekal makanan kemarin dari seseorang.
"Ini bukan masakan dapur." Yakin Dira.
"Iya, nasinya aja beda dan lauknya pun lebih kaya. Mana mungkin coba makanan sekaya ini dilabeli 'sisa'." Kata Gisel juga yakin.
"Enak." Bisik Aish dengan kedua mata memerah.
Entahlah, dia hanya merasa bila orang yang membuat makanan ini sangat baik kepadanya.
"Ho'oh, enak banget ya Allah." Kata Gisel berseru senang.
Dira tidak mau memberikan komentar apapun karena sibuk menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
7 menit kemudian, makanan itu sudah habis tidak bersisa. Semuanya ludes dilahap dengan baik oleh mereka bertiga.
"Ugh, puas banget." Kata Dira sambil memegangi perutnya.
Gisel mendesah puas dan memiliki keinginan untuk jatuh tertidur. Jika saja mereka ada di asrama, dia pasti langsung tidur di kasurnya.
"Kita enggak usah sholat isya, yah dan langsung balik ke asrama." Kata Gisel ingin berbuat curang.
__ADS_1
Dira juga merasa malas melakukan apa-apa. Pinggangnya masih kaku dan perutnya pun terpuaskan, maka keinginan satu-satunya sekarang adalah segera tidur.
"Iya nih, mereka tidak akan tahu kita sudah sholat apa belum karena kita selama ini berada diluar." Kata Dira setuju.
Aish juga setuju."Aku juga capek-"
"Ekhem. Assalamualaikum." Sapa sebuah suara lembut.
Mereka bertiga sontak menoleh ke arah sumber suara. Beberapa meter jauhnya dari mereka berdiri habib Khalid, Danis, dan beberapa laki-laki yang tidak dikenal. Mereka sepertinya sedang melakukan patroli rutin di pondok pesantren.
"Sial. Ada master mawar berduri!" Rutuk Dira ketakutan karena matanya langsung tertuju kepada habib Khalid, orang yang paling mencolok keberadaannya.
Mereka langsung bangun dari tanah dan berbaris membentuk saf. Dira dan Gisel diam-diam merutuki kemalangan mereka karena bertemu dengan habib Khalid. Sebab tidak akan ada hal baik yang akan mereka dapatkan dan hanya ada hukuman yang menantikan mereka bila bertemu.
"Waalaikumussalam." Jawab Aish sambil menundukkan kepalanya ke bawah.
Dia tidak mau dikecewakan lagi oleh harapannya dan dia juga tahu bila habib Khalid tidak menganggapnya penting sehingga ada baiknya menjaga jarak mulai dari sekarang.
"Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Tanya habib Khalid tenang.
Aish tidak mau menjawab dan dua lainnya pun juga tidak mau menjawab. Melihat tidak ada yang mau menjawab, Dira terpaksa membuka mulutnya karena dia menebak jika diantara mereka bertiga ujung-ujungnya yang akan dipaksa menjawab adalah dirinya.
"Kami... baru saja selesai makan, habib." Jawab Dira mengakui.
Tidak ada gunanya berbohong karena habib Khalid dan rombongannya sudah melihat bekal seukuran porsi kuli bangunan tergeletak di atas rumput tak sempat mereka masukkan ke dalam tas kain.
"Kalian tidak boleh melakukan ini."
Dira dan Gisel spontan menghela nafas panjang. Kalau sudah begini ujung-ujungnya akan ada hukuman lain.
"Jika kalian ingin makan maka makan saja di dalam asrama karena di sana lebih aman. Sedangkan di sini sepi dan takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jadi ada baiknya kalian jangan mengulanginya lagi." Kata habib Khalid menasehati.
"Kali ini kalian kami maklumi tapi lain kali, tidak ada permakluman lagi." Kata habib Khalid tiba-tiba.
Mereka bertiga segera menghela nafas lega mendengarnya. Namun, belum sedetik mereka lega, habib Khalid kembali membuat mereka bertiga panas dingin.
__ADS_1
"Sebelumnya kami sempat mendengar jika kalian berencana untuk melewatkan sholat isya."