
Di depan kantor pondok pesantren ada banyak santri dan santriwati yang berdiri mengantri dengan barang-barang di tangan mereka. Mereka sedang menunggu untuk di data sebelum dilepaskan pergi. Tidak ada yang memiliki ekspresi sendu di wajah. Semua santri dan santriwati masing-masing mengukir senyum di wajah mereka yang berseri-seri. Siapa yang tidak bahagia pulang bertemu dengan keluarga yang telah lama dirindukan?
"Ramai banget. Gimana cara kita masuk ke kantor nih?" Dira berdetak tidak puas melihat keramaian di depan kantor staf pondok pesantren.
Niat hati ingin mengendap-ngendap tapi harus digagalkan karena situasi yang tidak mendukung.
"Terus gimana dong? Kita kan nggak mungkin masuk ke dalam kantor." Gisel berkaca pinggang melihat rantai manusia yang tidak ada putus-putusnya.
Pertanyaan nya adalah jika mereka memaksakan diri ikut masuk ke dalam barisan maka berapa lama lagi mereka akan menunggu?
Sedangkan pergerakan di depan terlihat sangat lambat. Dari tempat berdiri sekarang mereka bisa melihat bahwa staf yang bertugas mendata para santri atau santriwati yang akan pulang ke rumah perlu mengumpulkan beberapa dokumen dari santri ataupun santriwati. Pekerjaan ini sangat membuang waktu.
"Nggak usah ke mana-mana. Karena habib Thalib udah keluar." Suara tenang Aish mengalihkan perhatian mereka berdua.
Dan benar saja seperti yang Aish katakan bahwa sang habib akhirnya keluar juga dari dalam kantor. Akan tetapi dia tidak keluar sendiri karena di belakangnya mengikuti seorang wanita dewasa cantik beserta seorang laki-laki dewasa yang memegang beberapa barang di kedua tangan.
__ADS_1
"Ternyata dia memang membawa wanita." Gumam Dira kaget.
"Dan wanita itu sangat cantik." Gisel terperangah kagum melihat betapa cantiknya wanita itu.
"...dia benar-benar wanita yang sangat cantik... cantik sekali..." Gumam Aish kosong.
Tanpa menggunakan polesan make up, dan tampil dengan apa adanya, belum pernah dia melihat wanita cantik dia. Akan tetapi mengapa sejak pertama kali matanya menatap wanita itu, dia selalu merasa bahwa wanita ini... Akrab?
"Apakah itu benar calon istrinya habib Thalib?" Suara-suara mulai muncul dari dalam barisan.
Seperti mereka bertiga yang matanya langsung teralihkan oleh wanita itu, barisan para santriwati pun tidak luput dari wanita itu. Ada yang berseru kagum dan ada pula yang merasa tidak nyaman, karena sang habib akhirnya memilih wanita yang akan dibawa ke dalam hidupnya.
"Ini sangat lucu... Tiba-tiba aku merasa bahwa mereka berdua sangat cocok!" Dan karena kecantikan wanita itu, mereka merasa bahwa tidak ada salahnya bersanding dengan sang habib yang memang tampan.
Secara alami wanita yang akan dipilih oleh sang habib adalah wanita yang baik dan memiliki ilmu serta adab yang tinggi. Jadi selain merasa patah hati, mereka agak kagum dengan pilihan sang habib.
__ADS_1
"Dan lihatlah betapa baik adab wanita itu kepada laki-laki yang bertugas membawa barang-barangnya. Meskipun laki-laki itu hanyalah seorang pelayan, namun perlakuan wanita itu kepada si pelayan tidak canggung sama sekali seperti sedang berbicara dengan keluarganya."
Di belakang wanita itu memang mengikuti seorang laki-laki tinggi berkacamata. Kedua tangannya yang panjang memegang banyak barang dan meskipun dia berjalan di belakang wanita itu, tak sekalipun matanya melirik sang wanita. Dia berjalan sembari menundukkan kepalanya, berusaha untuk tidak melihat bagian belakang wanita itu.
"Jangan asal bicara siapa tahu laki-laki itu memang keluarganya." Yang lain merasa ragu.
"Aku tidak asal berbicara. Aku mendengar sendiri laki-laki itu memanggil wanita itu dengan sebutan nona muda. Coba katakan, keluarga mana yang akan memanggil anggota keluarganya dengan sebutan nona muda?" Gadis yang pertama kali melihat kedatangan sang habib dan wanita itu berseru membela diri.
Apa yang dia katakan memang benar bahwa saat turun dari mobil laki-laki itu memanggil wanita itu dengan sebutan nona muda, sikap laki-laki itu sama seperti seorang pelayan yang baik. Dia tidak membiarkan nona mudanya membawa barang-barang berat yang ada di dalam mobil dan mengambil alih semua barang dengan dua tangannya yang panjang.
"Hah... Aku tidak tahu harus memberikan komentar apa. Setelah 1 bulan menghilang dari pondok pesantren tiba-tiba habib Thalib membawa wanita lain pulang. Aku bertanya-tanya sekarang, setelah habib Ali menikah dengan wanita itu, apakah kita masih memiliki habib-habib yang lain di pondok pesantren?" Bersanding dengan seorang habib yang memiliki garis keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah impian banyak gadis di pondok pesantren.
Mereka mendambakan ada benih dari darah mulia yang tumbuh di dalam rahim. Dapat melahirkan dan membesarkan keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah berkah yang tak mampu didapatkan oleh semua wanita di dunia ini. Itulah mengapa mereka sangat excited melihat setiap habib yang datang ke pondok pesantren dan banyak berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala agar mereka dijodohkan dengan sang habib.
"Kita masih memiliki tiga peluang di dalam pernikahan habib Thalib jika dia benar-benar menikah dengan wanita itu. Jadi jangan berputus asa , okay. Dan jika habib Thalib tidak mau menikah lagi dan cukup dengan satu amanah, masih ada Sayid Khalif yang lambat laun akan menjadi seorang habib. Meskipun dia tidak menjadi seorang habib nantinya, lalu apa? Di dalam tubuhnya masih mengalir darah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam jadi kita akan sangat beruntung bila bisa menikah dengannya." Seseorang menjawab dengan mata berbinar.
__ADS_1
Di zaman ini sudah hal biasa seorang habib atau pemuka agama menikahi banyak wanita. Syariat Islam memang membolehkan seorang laki-laki menikahi lebih dari satu wanita atau dalam batasannya hanya 4 wanita. Akan tetapi menikahi banyak wanita tidak boleh sembarangan. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Contohnya seperti yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lakukan di masa lalu bersama sahabat-sahabatnya. Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam menikahi wanita lain karena menyelamatkan janda-janda perang dan atas perintah Allah subhanahu wa ta'ala. Sedangkan di masa kini para pemuka agama justru menikahi banyak wanita yang masih virgin atau belum pernah menikah. Ini berbanding terbalik dengan alasan mengapa syariat ini diadakan. Namun Allahu'alam, semua itu hanya Allah yang tahu kebenarannya. Entah bermaksud baik atau sekedar mengikuti hawa nafsu saja, cukup Allah yang tahu kebenaran itu.
"Semoga saja habib Thalib ingin menikahi lebih dari satu wanita. Demi Allah, aku rela menjadi yang kedua, ketiga, atau yang keempat, agar dapat masuk ke dalam keluarga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam." Seorang gadis sama sekali tidak menutupi angan-angan di dalam hatinya.