Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.14


__ADS_3

"Apa ini?" Tanyanya terisak-isak.


Papanya memiliki dua putri lagi, atau mungkin ada juga putra lainnya yang tidak diketahui. Tidak, tunggu dulu.


"Siapa wanita tadi?" Tanyanya linglung.


"Apa hubungan Papa dengannya? Mengapa wanita itu memanggil Papa sayang dan juga sebaliknya, Papa memanggilnya dengan sebutan sayang pula. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Papa berselingkuh? Apakah Mama tahu? Ada apa ini ya Allah..." Dia bingung, ada banyak sekali pertanyaan di dalam hatinya yang tak terjawab Namun karena suatu alasan dia takut menanyakannya kepada Papa.


Mungkin lebih tepatnya dia tidak ingin terluka. Hatinya pasti akan sakit bila mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Dia takut kesulitan menerima kebenaran.


"Lalu bagaimana dengan Askia dan Sania? Apakah mereka juga putri Papa? Jika memang benar begitu...." Jantungnya terasa begitu sakit, sesak... Sesak rasanya hingga bernapas saja rasanya begitu sulit. Mengapa begitu pedih?


Mengapa hatinya sakit?


Kenyataan apa lagi ini!


"Ya Allah jika memang benar begitu... Maka Papa sudah memiliki istri lain di dalam hidupnya selain Mama? Dan semua alasan sibuk yang dilontarkan setiap kali dia kesepian di rumah besar itu, apakah itu adalah sebuah kebohongan semata? Tidak, bisa jadi itu benar. Papa mungkin benar-benar sibuk... Sibuk mengurus keluarganya yang lain, sibuk membesarkan dua putri lainnya, dan sibuk mengurus dunianya bersama keluarga baru. Lantas bagaimana dengan diriku ya Allah? Pantaskah... Untuk semua rasa sakit dan kesepian yang kurasakan di rumah itu... Pantaskah aku mendapatkannya?"


Mengapa dia merasa dunia ini bekerja dengan tidak adil?


Bertahun-tahun dia melewati hari-hari dengan kesepian, tanpa keluarga ataupun teman, dia merasa seperti orang bodoh yang kehilangan arah. Lalu di pondok pesantren dia dipertemukan dengan Aish dan Gisel, bagaikan jawaban yang Allah subhanahu wa ta'ala kirim kepadanya untuk menggantikan posisi saudara ataupun teman yang kosong. Tapi begitu kedua tempat itu terisi, Allah kirimkan kenyataan kejam kepadanya.


Tidak...


Sungguh tidak!


Dia tidak sebodoh itu. Dia tahu bahwa Papanya memang seperti yang dia pikirkan. Akan sangat idiot jika dia terus berharap lebih dan berpikir positif, itu sangat bodoh!


"Mama... Mama juga tidak tahu? Atau tahu tapi berpura-pura tidak peduli? Atau mungkin.... Dia juga sudah memiliki keluarga baru di sisinya?" Papa dan Mama selalu pergi mengurus karir masing-masing.


Mereka jarang kembali ke rumah. Terkadang Papa akan seorang diri kembali ke rumah, tidur beberapa hari di rumah dan lalu pergi menghilang tanpa kabar selama beberapa waktu. Hal ini juga berlaku ketika Mama pulang. Dia tidak tinggal lama, sebentar saja lalu kembali pergi dan menghilang tanpa kabar.


Sekarang Dira mengerti mengapa mereka berdua seperti ini. Sekarang dia tahu bahwa selama ini dia telah dibodohi oleh dua orang yang dianggap penting di dalam hatinya. Dia pikir dia hanya ditinggalkan karena orang tuanya sibuk bekerja, tapi sekarang dia mengerti bahwa dia benar-benar ditinggalkan. Tak ada satupun dari mereka yang mau menerimanya karena mungkin mereka lebih bahagia bersama keluarga baru.


Ting~~


Ting~~


Ting~~


Telepon berdering. Dira terkejut. Mata basahnya menatap lama gagang telepon yang ikut bergetar karena panggilan masuk. Memaksakan diri untuk berdiri, tangan kurus itu perlahan bergerak mengusap pipi basahnya dengan gerakan kasar seakan membuang jauh-jauh kesedihan itu dari dalam hatinya.


"Hancur. Aku tidak peduli lagi." Dengan begitu dia langsung berbalik tanpa niat untuk mengangkat dering telepon tersebut.


Dia menembak jika orang yang menelpon adalah Papanya.


Menurutnya, ini sia-sia. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi.


"Dira, kamu sudah selesai?" Saat keluar dari kantor staf dia tiba-tiba dicegat oleh salah satu teman kamarnya.


Dira menghentikan langkahnya dan menoleh sambil tersenyum, paksa.

__ADS_1


"Iya nih, aku udah selesai ngomong sama keluargaku. Terus kamu gimana?" Dia tidak ingin menunggu, dia ingin segera kembali untuk menenangkan dirinya sebentar saja.


"Aku dan yang lainnya belum dapat. Tinggal beberapa orang lagi di depan. Kalau kamu mau pergi, kamu pergi aja. Nanti aku baliknya sama teman-teman yang lain." Kata teman sekamarnya tidak ingin merepotkan Dira.


Dia melihat jika keadaan Dira sedang tidak baik-baik saja. Mungkin suasana rumah tidak begitu baik atau karena terlalu merindukan keluarganya dia sampai menangis begini. Apapun itu dia ingin Dira segera kembali ke kamar untuk beristirahat.


"Terima kasih. Aku benar-benar lelah dan ingin istirahat di kamar sebentar. Kalau begitu aku duluan, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Selamat pisah dari temannya, Dira membawa langkah kaki goyahnya menapaki jalan setapak pondok pesantren yang tidak terlalu mulus. Selama di perjalanan dia bertemu dengan banyak santriwati sehingga dia berusaha untuk tidak menangis. Tapi sialnya, air mata ini terus mengalir. Padahal dia sudah mengatakan untuk berhenti tapi masih tidak mau mendengar!


"Aku harus mencari tempat untuk menenangkan diriku. Aish dan Gisel hiks... Mereka tidak boleh melihatku seperti ini."


Air matanya sulit diatur jadi dia memutuskan untuk singgah ke suatu tempat sebelum kembali ke asrama. Di pondok pesantren tidak ada tempat yang lebih menyenangkan dan menenangkan dari sungai pinggir sawah. Sungai ini airnya mengalir langsung dari gunung. Jadi airnya selalu jernih dan sejuk.


"Argh..." Dira menghentikan langkahnya takut.


Baru saja dia mendengar erangan bertahan di sini. Tapi tidak ada siapapun di tempat ini. Takut, dia teringat dengan cerita-cerita gaib para santriwati di kamarnya. Terkadang saat senggang mereka akan berkumpul menceritakan hal-hal gaib yang terjadi selama mondok di pondok pesantren. Dan sungai yang ada di pinggir sawah adalah salah satu tempat yang sering menjadi langganan peristiwa gaib.


Tubuhnya seketika merinding.


"Sedang apa kamu di sini? Memata-matai ku, ya?"


Dira berjenggit kaget saat melihat seseorang tiba-tiba muncul dari balik pohon di pinggir sungai.


Itu adalah Khalif. Orang yang sudah lama tidak dia lihat dan dengar kabarnya.


Tapi ada sesuatu yang salah. Wajah Khalif terlihat sangat pucat dan kurang darah. Jangan-jangan dia...


"Kamu bebek Mandarin'kan?" Tanya Dira was was.


Bisa jadi kan kalau orang ini bukan Khalif melainkan orang gaib yang menyamar menyerupai Khalif. Memikirkannya saja membuat kaki Dira menjadi lemah.


"Siapa yang bebek Mandarin, dasar gorila betina!" Balas Khalif kesal.


Entah mengapa gadis ini selalu saja membuat masalah ketika bertemu dengannya. Padahal dia tidak pernah mengatakan sesuatu yang salah, tapi gadis ini masih aja sempat-sempatnya mengejek dia. Jika jika punggungnya tidak sakit sekarang dia pasti akan memberikan pelajaran kepada Dira, gorila betina yang selalu membuat masalah kepadanya.


"Oh, ternyata kamu benar-benar bebek Mandarin, toh." Dira menghela nafas lega.


Dia mengangkat bahu tidak perduli dan ingin melanjutkan perjalanannya lagi. Tapi perhatiannya kembali ditarik saat melihat Khalif berusaha mendudukkan dirinya di bawah naungan pohon.


Apa bebek Mandarin sedang sakit? Batin Dira menebak.


Ragu-ragu, dia akhirnya memutuskan untuk turun dan membantu Khalif duduk di sebuah batu bawah naungan pohon.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Khalif menepis tangan Dira yang ingin menyentuhnya.


Ekspresi wajahnya yang masih kekanak-kanakan agak terlihat dan ingin memakan hidup-hidup Dira.


Mulut tidak berkedut tertahan melihat reaksi paniknya.

__ADS_1


"Aku ingin membantumu duduk harusnya kamu berterima kasih kepadaku. Dan kamu juga cowok bukan cewek, jadi nggak usah teriak kali seakan aku meniduri kamu." Kata Dira jengkel karena kebaikannya dia salah artikan.


Apa-apaan? Mukanya kan polos dan baik hati, masa iya diperlakukan seperti tante-tante kesepian? Ada sama sekali tidak masuk akal.


"Mahram, kita bukan mahram ingat tuh! Lagian aku juga nggak butuh bantuan kamu, seperti yang kamu bilang aku cowok bukan cewek!" Ujar Khalif keras kepala seraya memaksakan dirinya untuk duduk.


Padahal punggungnya sangat sakit sekarang, tapi di depan Dira, dia berusaha terlihat normal dan biasa-biasa aja.


"Oh, sekarang kamu bilang bukan mahram. Terus ngapain kamu nyusup ke sekolah santriwati? Katanya kan nggak mahram." Ejek Dira tersinggung.


Giliran mau dibantu dia nolak, tapi pas ngintip ke sekolah santriwati, Dia terlihat sangat bertekad dan rela melakukannya!


Padahal dia kan juga santriwati, apa bedanya coba sama santriwati yang lain?


"Itu beda ya, kalian berbeda jenis." Jawab Khalif acuh tak acuh.


Dia melirik Dira dari sudut matanya dan menemukan bila wajah gorila betina ini terlihat sembab baru menangis. Bahkan matanya pun masih merah dengan riak-riak air mata yang mengandung kepahitan.


Ternyata dia juga bisa menangis. Batin Khalif berpikir.


"Duduklah di sini. Jika kamu mau membantuku, maka temani aku duduk di sini." Kata Khalif sambil menunjuk salah satu batu yang berjarak cukup jauh darinya.


Ini untuk menghindari fitnah bila ada seseorang yang melihat mereka berdua duduk di sini.


"Aku nggak mau. Aku mau pergi ke tempat lain yang jauh lebih baik daripada duduk sama kamu." Dira menolak mentah-mentah dan bersiap angkat kaki.


"Tempat ini cukup rawan. Aku dengar ada banyak kejadian gaib yang menimpa santri atau santriwati. Dan dengar-dengar kejadian ini terjadi setiap kali santri atau santriwati datang ke sini sendirian." Kata Khalif berhasil menakut-nakuti Dira.


Dira dibuatnya ragu. Dia menatap tanah kosong memikirkan situasi apa yang akan terjadi bila dia nekat pergi sendiri. Mungkinkah dia akan menjadi salah satu korban yang akan melegenda di mulut-mulut banyak orang di pondok pesantren?


"Aku sama sekali nggak mau duduk sama kamu. Ingat ya, aku duduk di sini bukan karena aku mau menemani kamu tapi ini murni karena aku capek jadi aku duduk di sini. Dan satu lagi, aku nggak takut yang namanya hal-hal gaib karena aku takut hanya kepada Allah!" Dira langsung terbalik dan duduk di batu yang lebih jauh lagi dari Khalif.


Sayangnya, batu yang diduduki terpapar langsung oleh sinar matahari. Teriknya menyengat, Dira tidak akan betah duduk lama-lama di sini. Tapi karena ada Khalif di sini, dia berusaha bertindak cool dan santai.


"Di sana panas, kemari, duduklah di sini." Khalif memintanya untuk duduk di batu yang dia tunjuk.


Dira melirik batu itu. Di sana adem dan juga sejuk, tidak ada sinar matahari yang memapari. Jelas tempat itu adalah yang terbaik. Dia tergoda untuk pindah. Tapi gengsinya sangat tinggi, terutama kepada Khalif. Dia bertekad untuk tidak goyah.


"Di sini jauh lebih baik karena ada sinar matahari. Terpapar sinar matahari tidak akan membuatmu sakit tapi malah akan membuatmu semakin sehat." Tolak Dira gengsi.


Khalif menggelengkan kepalanya aneh. Baru pertama kali dia melihat seorang gadis menyukai sinar matahari siang. Padahal gadis-gadis lain akan melarikan diri sejauh yang mereka bisa ketika terpapar sinar matahari siang.


"Aku kagum karena kamu menyukainya. Tapi asal tahu saja, sinar matahari siang tidak akan membuatmu sehat tapi akan membuatmu sakit karena terpapar UV. Sayang sekali kulit yang telah kamu rawat baik-baik menjadi rusak dan buruk karena kecintaanmu terhadap sinar matahari siang." Kata Khalif dengan ada prihatin.


Dira yang memiliki gengsi tinggi,"...." Sangat bodoh, bagaimana bisa dia lupa jika sekarang sudah siang dan bukan pagi lagi!


"Aku mencintai kulitku juga jadi dengan berat hati aku akan pindah ke batu itu." Ujarnya seraya bangun dari duduknya dan berjalan ogah-ogahan menuju tempat yang ditunjuk oleh Khalif.


Mulut Khalif berkedut tertahan melihat perilaku konyol Dira. Dia sekarang curiga jika dia memiliki IQ jongkok di kepalanya.


"Ya aku tahu, kamu sangat mencintai kulitmu dan juga mencintai sinar matahari siang. Lain kali aku tidak akan memaksamu mengalihkan cintamu dari sinar matahari siang." Ujar Khalif meledek.

__ADS_1


__ADS_2