
Tidak hanya Meri saja yang terkejut dengan pertanyaan habib Khalid tapi Khalisa juga tidak bisa menahan kejutan di dalam hatinya. Matanya berkedip samar tampak agak panik namun dalam sekejap mata dia langsung mengontrol situasinya.
Ledakan pertanyaan tidak sabar habib Khalid kepada Meri membuat Khalisa bertanya-tanya di dalam benaknya apakah sang habib tidak mempercayainya?
Jika memang demikian, maka mengapa habib Khalid tak mempercayainya disaat banyak santriwati mempercayainya?
Khalisa tidak bisa menyuarakan pertanyaan ini dan hanya membiarkannya menggantung di dalam hati karena dia tidak ingin meninggalkan kesan gadis yang cerewet kepada habib Khalid.
"Maaf, habib. Aku...aku tidak melihatnya secara langsung namun aku mempercayai kak Khalisa. Menurutku kak Khalisa tidak mungkin melakukan tuduhan mereka." Kata Meri dipenuhi rasa malu.
Bisa dilihat bila penonton mulai meragukan Khalisa semenjak habib Khalid bertanya tajam barusan. Perubahan situasi ini tentu disadari oleh pihak Khalisa dan kelompoknya yang cukup meninggalkan rasa urgensi di dalam hati.
Sebab faktanya kehadiran seorang habib adalah hal yang sangat mulia di hati semua orang. Telah mengakar kuat di dala jiwa bila seorang habib adalah pembawa kebenaran. Ucapannya adalah titah yang harus di dengarkan, penilaian matanya adalah kehormatan yang sangat sulit didapatkan dan senyumnya adalah pelepas dahaga kerinduan. Di dalam pondok pesantren, tidak ada yang membenci kehadiran sang habib, karena bukannya membenci hati mereka malah menginginkannya.
Oleh karena itu bila sang habib mengatakan A, maka semua orang dengan mudahnya menyuarakan A karena kepercayaan mereka telah mengakar dalam.
"Habib Thalib tolong jangan salah paham. Meri sungguh tidak berniat menuduh mereka menuduhku. Aku...aku tahu ini salahku." Dia menggigit bibirnya malu sekaligus sedih. Kedua matanya yang bulat berkedip ringan dengan riak-riak air mata yang mulai terbentuk.
"Mungkin caraku yang salah dan terlalu keras sehingga tanpa sengaja melukai Aisha di kamar mandi tadi. Ini benar-benar tidak disengaja tapi aku ini adalah kesalahan ku karena terlalu ceroboh. Habib, tolong maafkan kecerobohan ku hari ini." Mohon Khalisa mengakui kesalahannya yang tidak disengaja.
__ADS_1
Penampilannya sangat menyentuh hati tapi tidak bagi Aish. Untuk kejadian kemarin dan hari ini, Aish sudah terlalu muak berurusan dengan Khalisa. Jadi dia tidak akan pernah tertipu dengan penampilannya yang sok merasa bersalah.
"Apakah ini hanya kecerobohan saja?" Tanya habib Khalid dengan mata menyipit.
Khalisa menundukkan kepalanya menahan isak tangis.
"Ini salahku." Bisiknya menyedihkan.
"Cih, cari muka." Bisik Gisel mencela.
"Kebanyakan nonton sinetron nih kayaknya ni cewek." Balas Dira berbisik.
Sementara mereka berbisik-bisik, Aish justru sedang berusaha mengalihkan pikirannya dari habib Khalid. Dia berharap pengadilan dadakan ini segera berlalu agar dia bisa kembali ke asrama untuk mengistirahatkan batin maupun fisiknya. Lucunya, ini baru beberapa hari saja tinggal di pondok pesantren tapi sudah menguras banyak tenaganya.
"Apakah kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" Habib Khalid tidak memperhatikan kesedihan Khalisa dan langsung beralih melihat Aish.
Aish- gadis dingin yang sedari tadi lebih suka menatap lantai daripada melihat ke arahnya- ini tidak biasanya.
Bersamaan dengan pertanyaan habib Khalid, para penonton secara alami mengikuti kemana arah mata habib Khalid memandang.
__ADS_1
"Orangnya cantik, kulitnya bagus."
"Biasa anak kota, perawatannya pasti enggak main-main."
"Dia pasti anak orang kaya."
"Makanya jadi manja banget." Para santriwati mulai berbisik-bisik mengagumi betapa cantik paras wajah Aish. Apalagi dengan warna kulit yang sehat dan mulus, mereka menebak bila Aish adalah anak orang kaya dengan berbagai macam perawatan tubuh yang mahal.
Untuk sesaat perhatian mereka lebih fokus pada kecantikan Aish daripada masalah ini.
Namun itu hanya sementara saja karena wajah datar sang habib yang tidak tersenyum segera mengambil alih perhatian semua orang.
"Aish, kamu kok diam aja?" Senggol Dira ketika menyadari kebisuan Aish.
"Hah?" Aish enggak ngeh sedang ditanya.
Seolah menyadari kebingungan Aish, pertanyaan itu kembali diulangi oleh habib Khalid.
"Apakah kamu tidak ingin mengatakan sesuatu tentang masalah ini?" Nada suara habib Khalid entah mengapa terdengar agak lunak di dalam pendengaran semua orang.
__ADS_1