Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 12.7


__ADS_3

Baik Bunda dan Ayah langsung terkejut mendengarnya. Mereka tidak mengharapkan Aira tiba-tiba mengatakan ini, terutama untuk Ayah sendiri. Ia masih ingat malam itu Aira sampai menangis menolak masuk ke pondok pesantren ketika Ayah ingin memindahkannya. Ayah saat itu berpikir ingin memperbaiki hubungan kakak beradik itu, berharap mereka tidak akan saling membenci lagi. Namun Aira menolak, putrinya itu masih trauma dengan Aish. Dia takut bila Aish mengulangi kesalahan yang sama dan memberikannya obat terlarang lagi.


Aira kira orang tuanya akan senang mendengarnya, tapi setelah dia mengangkat kepalanya, reaksi orang tuanya sangat berbeda dari yang dia harapkan.


"Nak, bukankah kamu sudah menolaknya waktu itu?" Kata Ayah mengingatkan.


Aira juga tahu dan dia sangat menyesali keputusan ceroboh nya itu.


"Saat itu Aira masih takut tapi sekarang sudah enggak, Yah. Aira beberapa hari ini memikirkannya dengan serius dan baik-baik. Aku pikir tidak ada salahnya pindah ke pondok pesantren dan memperbaiki hubungan lagi dengan kak Aish, Yah." Jawab Aira telah menyiapkan alasannya sejak tadi sore.


Bunda dan Ayah senang mendengar keputusan dewasa putri mereka. Daripada terjebak dalam trauma, putri mereka sangat berani mengambil langkah maju untuk membebaskan diri dari trauma menyakitkan itu. Siapa yang tidak sakit coba saat tahu saudara sendiri ternyata diam-diam menaruh obat terlarang untuk mencelakainya?


"Sungguh, Ayah senang mendengarnya. Ayah tidak mengira Aira sekarang sudah dewasa dan mampu membuat keputusan besar." Ayah memuji dengan tulus.


Aira jadi salah tingkah. Hatinya serasa mengambang ke awan tinggi. Manis dan bahagia, perasaan ini bercampur aduk di dalam hatinya.


Namun, belum tinggi dia terbang, kata-kata Ayah selanjutnya langsung menghempaskan nya kembali ke bumi.


"Tapi Ayah tidak bisa memindahkan kamu ke pondok pesantren karena kamu sebentar lagi akan ujian." Ayah sangat menyesalinya.


Bug


Aira langsung kehilangan senyum di wajah cantiknya.


"Kenapa, Ayah? Di pondok pesantren kan Aira juga bisa ujian sama kak Aish?" Tanyanya cemas.


Ayah semakin menyesal ketika melihat kegigihan putrinya.


"Benar, tapi kamu sudah melewati syarat yang diatur oleh sekolah dan pondok pesantren. Menurut pondok pesantren, kamu bisa dipindahkan minimal lima bulan sebelum ujian, makanya Ayah menawarkan kamu pergi saat itu. Tapi sekarang sudah lewat tempo. Kamu tidak bisa pindah sekolah bahkan meskipun kamu menginginkannya." Ujar Ayah menerangkan.


Aira merasa sakit hati. Bagaimana mungkin harapannya pupus sampai di sini?

__ADS_1


Lalu bagaimana jika dia tidak bisa pergi ke pondok pesantren? Bukankah pertemuannya dengan sang habib hanyalah angan-angan saja?


Lantas apakah dia rela melihat Aish merayu sang habib di pondok pesantren? Tidak, memikirkannya saja membuat dia marah apalagi sampai melihatnya.


"Apakah tidak ada cara lain?" Mata Aira mulai basah.


Ayah langsung terenyuh melihatnya. Betapa besar hati putrinya yang ingin menjalin hubungan baik lagi dengan Aish. Sungguh, Ayah sangat bangga dengan kemauan keras putrinya. Mungkin hanya Aira lah yang mampu berbesar hati melupakan masa lalu sedangkan Aish, Ayah tidak tahu bagaimana mengatakannya. Aish mungkin sulit berdamai dengan masa lalu.


"Ayah tidak tahu, nak." Kata Ayah menyesalinya.


Aira mengepalkan kedua tangannya marah bercampur sedih. Bagaimana mungkin tidak ada cara lain?


"Tapi Aira...ingin pindah ke pondok pesantren, Yah. Aira... merindukan kak Aish. Dan Aira juga mau belajar di pondok pesantren sebab ilmu agama di sana jauh lebih tinggi daripada di tempat lain." Ucap Aira sedih.


Semakin sedih Aira maka semakin terdesak pula Ayah dan Bunda. Aira mengetahui ini dengan baik jadi dia sengaja menggunakan cara ini.


"Ayah, apakah kita tidak punya cara lain?" Bunda tidak tahan lagi melihat kesedihan putrinya.


"Apakah Ayah tidak bisa bertanya kepada kakek?" Tanya Aira memutar isi kepalanya.


Kakek berkenalan dengan habib Khalid dan harusnya punya solusi agar dia bisa masuk ke sana.


"Jangan ganggu kakek dengan masalah ini. Kondisi kakek sedang tidak fit dan tidak boleh terlalu banyak berpikir." Kata Ayah mengusir pikiran Aira.


Aira juga tahu ini tapi dia benar-benar tidak punya cara lain. Di rumah ini hanya kakek yang mengenal habib Khalid dan karena mereka saling mengenal, Aira yakin jika habib Khalid pasti mau menerimanya di pondok pesantren.


Ruang kerja langsung menjadi sunyi. Bunda dan Ayah terlihat merenung, berpikir bagaimana caranya membantu Aira masuk ke dalam pondok pesantren dan bergabung dengan Aish.


Sedangkan Aira sendiri sibuk memeras air mata untuk meluluhkan hati orang tuanya. Untuk saat ini, satu-satunya cara adalah dengan menarik simpati orang tuanya.


Aira sejujurnya juga sudah tidak betah di sekolah. Identitasnya sebagai anak pelakor sudah diketahui hampir satu sekolah semenjak Dira membuka aibnya. Membuat anak-anak di sekolah mengolok-oloknya di belakangnya. Orang-orang yang dulu kontra terhadap Aish kini beralih menjadi pro, mereka mengasihani kemalangan Aish yang kehilangan Mamanya. Padahal itu salah Mama Aish sendiri yang tidak bisa menarik cinta Ayah sehingga memberikan Bundanya peluang untuk disukai Ayah.

__ADS_1


"Ayah... Bunda.." Desak Aira memaksa.


Ayah menatap putrinya malu. Di pondok pesantren itu, Ayah tidak punya pengaruh apa-apa. Berbeda dengan kota ini. Setidaknya di sini Ayah bisa meminta bantuan kepada orang-orang tinggi yang dikenalnya untuk meloloskan putrinya pindah sekolah.


"Hah..." Ayah menghela nafas berat.


...****...


Dini hari berikutnya, Aish dibangunkan oleh Dira dan Gisel untuk melaksanakan sholat tahajud berjamaah. Badan Aish agak pegal-pegal karena perjalanan jauh dan ia juga masih mengantuk, badannya enggan meninggalkan tempat tidur. Tapi otaknya segera menjadi jernih ketika ia mengingat semalam barang belanjaannya belum dibagikan ke teman-teman kamarnya.


Itukan amanah dari sang habib, dan amanah harus segera disampaikan kalau tidak Aish akan menanggung hutang ini hingga ke akhirat kelak. Aish ogah punya hutang, apalagi sampai dibawa ke akhirat segala. Amalnya enggak sebanyak itu buat lunasi hutang!


"Sekarang jam berapa?" Tanya Aish sambil mengusap mata mengantuk nya.


Ia duduk di kasur tanpa niat meninggalkannya.


Dira juga masih mengantuk.


"Jam 3." Jawabnya santai.


"Tiga?!" Mata Aish membola kaget.


Ini baru jam tiga dan biawak ini berani membangunkannya?!


Sungguh mencari keributan!


Pantas saja kamar masih sepi dan lampu belum dinyalakan, ternyata anak-anak masih tidur dan belum waktunya bangun.


"Iya, setengah jam lagi masjid bangunin kok." Jelas Gisel enteng.


Aish tidak habis pikir. Sejak kapan kedua sahabatnya jadi rajin bangun tengah malam? Biasanya mereka kan misuh-misuh dan melamun di kasur dulu baru mau keluar ke masjid.

__ADS_1


__ADS_2