Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 12.10


__ADS_3

Setelah mendengarkan cerita Dira dan Gisel mengenai kecemasan para santriwati di kamar, kantuknya langsung menguap entah kemana. Ada rasa krisis yang tiba-tiba merambat di dalam hatinya, membuat hatinya gelisah dan cemas campur aduk.


Dua keturunan mulia bersama-sama, skenario ini sudah ada dibenak banyak orang dan begitupula dirinya. Aish sangat mencintai habib Khalid dan baru saja kemarin membuat tekad untuk mengejar sang habib. Tekatnya belum seumur jagung tapi sudah tumbang saja karena kedatangan Nadira.


Nadira tidak bisa disalahkan di sini karena pondok pesantren ini adalah milik Abah nya. Tidak, Aish tidak sepicik itu. Hanya saja yang ia sesalkan adalah mengapa Nadira pulang di waktu yang sangat tidak tepat?


Mengapa pulang sekarang disaat ia baru bertekad untuk mengejar cintanya, ah?!


Lalu haruskah ia bersaing dengan Nadira?


Apakah ia bisa bersaing dengan gadis yang jauh lebih unggul dibandingkan dengan dirinya?

__ADS_1


"Nadira merupakan gadis yang cantik, cerdas dan pintar, berprestasi, ilmu agamanya penting, dan yang paling penting adalah dia keturunan Rasulullah Saw! Aish, rival cintamu kali ini terlalu berat. Dia berasal dari kalangan yang sangat mulia. Jika itu Khalisa atau gadis biasa lainnya, mungkin peluang mu cukup besar. Tapi ini bukan gadis biasa dengan segudang kelebihan! Aish, kali ini kamu tamat." Kata-kata ironis Dira mewakili bagaimana perasaan Aish sekarang.


Tamat, ia sudah tamat. Saingan cintanya bukan orang biasa dengan segudang kelebihan. Sedangkan dirinya?


"Kamu adalah gadis biasa, nilai sekolah rata-rata dan semakin rendah sejak masuk ke dalam pondok pesantren. Ilmu agama jangan ditanya lagi, itu sangat sulit dikatakan. Aish, kamu benar-benar selesai. Dibandingkan dengan Nadira, kamu tidak ada apa-apanya!" Seruan tajam Gisel telah menggambarkan secara jelas betapa lemah potensinya dalam perebutan cinta sang habib.


Sungguh, ia juga ngeri sendiri mendapati betapa lemahnya ia dihadapan rival cinta imajinernya.


Tubuhnya bersandar lemah di tembok samping ranjangnya. Memikirkannya saja membuat kepala Aish jadi pening. Ia tidak bisa membayangkan jika semua rumor itu menjadi kenyataan.


Terlalu berat, ini sangat berat.

__ADS_1


"Aish, belum terlambat untuk berpindah hati. Bukalah matamu baik-baik. Di sini ada ribuan laki-laki yang enggak kalah tampan sama habib Thalib dan jauh lebih baik daripada si Iyon. Yah, contohnya...kak Danis! Jangan lihat tampangnya yang dingin kayak tembok berjalan karena dibalik topengnya itu ada hati yang sehangat musim semi." Dira memulai omong kosong kembali, menghidupkan timbunan gosip-gosip di dalam jiwanya yang telah menjamur.


Melihat Aish sama sekali tidak tertarik, Dira memutar otaknya lagi memikirkan nama-nama santri yang sedang naik daun di mata para santriwati.


"Kalau kamu enggak tertarik sama kak Danis, kamu bisa mencoba sama kak Dimas! Ku dengar dia adalah senior terakhir di pondok pesantren dan sering berpatroli di kantin asrama. Pikirkan baik-baik manfaat apa yang kamu dapatkan kalau dekat sama dia, Aish!" Dira berbicara dengan semangat yang berkobar-kobar, menyipratkan air sucinya kemana-mana.


Gisel mendengus jijik,"Tolong, air liurnya dikontrol ya, kak." Pengingatnya dengan murah hati.


Dira langsung mengusap mulutnya malu.


"Oh, maaf. Aku enggak sengaja."

__ADS_1


Aish sedikit tertarik,"Manfaat apa yang bisa aku dapatin?"


__ADS_2