Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 12.3


__ADS_3

Tidak mau membuang banyak waktu, dia melambaikan tangannya untuk menghentikan taksi dan segera masuk ke dalam mobil setelah mengatakan alamat rumahnya.


Belum tuntas rasa cemburunya mengetahui Aish memiliki banyak uang ditangannya, Aish kembali lagi datang membuatnya cemburu dengan keberuntungan yang lain. Hei, biasa-biasanya dia duduk di mobil yang sama dengan sang habib?


Apakah Aish tidak tahu adab dan etika bahwa tidak sepantasnya orang yang bukan mahram berada di tempat yang sama serta tertutup jauh dari pengawasan banyak orang?


"Kak Aish masih saja licik. Aku tidak tahu rencana apa yang telah dia lakukan untuk menjebak habib Thalib agar bisa berada dalam satu mobil dengannya." Gumam Aira muram masih terjerat dengan keberuntungan Aish hari ini.


...****...


Aish menghela nafas panjang setelah akhirnya tidak melihat bayangan Aira. Matanya yang menyendu memandangi jendela mobil, menatap pemandangan monoton diluar sana yang sejujurnya tidak terlalu menarik. Aneh saja. Dalam suasana hati yang tidak menentu, terkadang menghabiskan waktu melihat ke luar jendela adalah hal yang monoton tapi juga tidak membosankan.


"Apa kamu baik-baik saja?" Habib Khalid merasakan suasana hati Aish yang turun.


Sebelumnya Aish akan banyak tersenyum dengan pipi yang memerah apabila bersamanya.


Aish menarik matanya dari jendela. Duduk bersandar, mata aprikot nya berkedip melirik sang habib yang duduk santai menyetir mobil.


"Kak Khalid, yang tadi itu adalah adikku. Dia adalah adikku dari Ibu yang berbeda." Kata Aish menekankan.


Aira adalah adiknya, memiliki darah yang sama dengan dirinya sekalipun terlahir dari rahim yang lain. Adiknya, Aira memang adiknya tapi hatinya terkadang menampik kenyataan tersebut. Mungkin... mungkin karena kepergian Mamanya yang dipicu oleh lahirnya Aira di dunia ini.


Rasanya sangat menyiksa.


"Aku tahu. Bukankah dulu aku sempat mampir ke rumah kalian?" Jawab habib Khalid tidak terlalu memikirkannya.

__ADS_1


Nadanya yang santai dan dengan sikap yang santai juga segera menenangkan hati Aish. Artinya sang habib sama sekali tidak memikirkan perkataan Aira saat di kafe tadi.


"Kak Khalid enggak merasa aneh gitu ngeliat perbedaan besar diantara kami. Dia bercadar dan aku tidak, apakah kak Khalid punya pendapat tentang itu?" Tanya Aish ragu-ragu.


Biasanya orang-orang akan berbicara lantang betapa baiknya Aira di depannya.


Habib Khalid memiringkan kepalanya berpikir. Aish jadi gugup melihatnya. Berpikir sebentar, habib Khalid akhirnya berbicara.


"Apa yang aneh tentang itu? Bercadar atau tidak, itu semua hanya penampilan belaka. Dan bercadar atau tidak, tidak bisa mengklaim bila orang yang bercadar jauh lebih baik daripada yang tidak karena urusan hati hanya Allah yang tahu." Jawab habib Khalid segera menjatuhkan batu yang ada di dalam hati Aish.


Benar, bercadar atau tidak, Allah tidak akan pernah mempermasalahkannya karena semuanya selalu kembali pada urusan hati. Hati yang bersih dan tidak kotor pasti lebih baik daripada apapun. Aish tidak bilang bahwa dirinya adalah orang yang suci dan memiliki hati yang bersih pula, tidak. Dia adalah orang yang kotor dan bergelimpangan dosa, keburukannya tidak bisa dihitung dengan jari-jari tangan. Akan tetapi, sungguh, meskipun dia seburuk dan sekotor itu, Aish masih tetap berusaha untuk belajar agama lagi dan memperdalam kecintaannya terhadap Allah. Masih belajar memang, tapi bukankah Allah lebih mencintai hamba-Nya yang bertaubat dibandingkan dengan hamba-Nya yang tidak pernah berbuat dosa dalam hidupnya?


"Kita sudah sampai." Suara rendah habib Khalid menarik Aish dari lamunannya.


"Ah, kenapa kita ke sini?" Tanya Aish heran.


Mereka sekarang berada di depan pekuburan yang sudah tidak asing lagi untuk Aish.


Habib Khalid turun dari mobil dengan dua buket bunga besar di dalam pelukannya. Tadi di perjalanan habib Khalid menyempatkan diri turun di sebuah toko bunga untuk membeli kedua buket bunga segar ini.


"Untuk mengunjungi kedua orang tuaku." Jawab sang habib mengingatkan Aish.


Aish tertegun. Mata aprikot nya melebar kaget mendengar apa yang habib Khalid katakan barusan. Dia tidak menyangka jika kedua orang tua habib ternyata sudah meninggal. Dia pikir mereka masih hidup karena habib Khalid sangat tenang disepanjang jalan tanpa ada tanda-tanda kesedihan di wajahnya.


"Ah..kak, aku turut berdukacita untuk kepergian kedua orang tua kak Khalid." Bisik Aish menyesal.

__ADS_1


Namun senyuman sang habib tak pernah menghilang dari wajah tangannya. Dia sama sekali tidak sedih berada di sini.


"Itu sudah lama sekali dan aku sudah tidak terlalu memikirkannya. Lagipula kematian adalah hal yang pasti manusia temui cepat atau lambat, bersedih tidak akan menghidupkan kembali mereka yang telah meninggalkan kita. Sebab dibanding dunia ini, tempat mereka berada jauh lebih baik dan nyaman. Lalu, mengapa kita harus menangisi kehidupan mereka yang baik-baik saja di tempat itu?"


Hati Aish langsung terketuk mendengarnya. Tidak pernah sekalipun dia berpikir bahwa Mamanya akan tinggal ditempat yang sangat baik di alam lain. Selama ini fokusnya hanya terjebak di posisi 'kematian' dan 'penyebab kematian' Mamanya. Dia menangisinya dalam sepi dan kesendirian, menyesali betapa malang Mamanya dulu tanpa berpikir bahwa di alam lain, mungkin kehidupan Mamanya sangat baik. Benar, orang yang terzolimi atau disakiti tidak akan mendapatkan tempat yang buruk di sisi Allah. Lantas, mengapa selama ini Aish terjebak dalam dukanya sendiri?


Mungkin Mamanya lebih suka meninggalkan dunia ini karena di alam lain Mamanya tinggal di tempat yang baik dan dilingkungan yang jauh lebih baik pula tanpa kehadiran Ayah yang tidak mencintainya ataupun kehadiran Bunda yang telah mengkhianatinya.


Seharusnya...lalu mengapa Aish masih terjebak dalam rasa sakit ini?


Mengapa hatinya tidak merelakan semua yang terjadi saat itu karena sekarang... semuanya sudah berubah. Mamanya telah pergi dan tak mungkin dihidupkan lagi sekuat apapun dia menangis.


Sungguh, mengapa Aish tidak pernah memikirkannya selama ini?


"Ambillah." Pandangan Aish menjadi buram.


Berkedip beberapa kali, Aish melihat sebuah sapu tangan tepat di depannya.


Aish tertegun. Dia sontak meraba pipinya yang basah entah sejak kapan. Malu, tanpa ragu lagi dia mengambil sapu tangan itu dari tangan sang habib dan menggunakannya untuk menghapus jejak air matanya.


Suhu hangat dari tangan sang habib masih tertinggal di sapu tangan tersebut.


"Terima kasih, kak." Kata Aish tulus.


Habib Khalid tersenyum lembut. Matanya yang dalam tidak pernah beralih dari wajah merah Aish yang menawan. Beberapa menit menunggu Aish jauh lebih tenang, mereka berdua lalu masuk ke dalam pekuburan. Jalan setapak yang mereka berdua lalui sungguh tidak asing lagi untuk Aish. Bahkan rutenya pun amat tidak pernah menguap dari memorinya. Ada keraguan dihatinya. Mungkinkah kuburan orang tua habib Khalid berada di dekat kuburan Mamanya?

__ADS_1


__ADS_2