
Mirisnya, Aish menoleh ke samping untuk melihat Gisel yang tengah berjuang terjaga dan Dira yang sudah lama memasuki dunia mimpi.
Cek,
Ia menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Faktanya orang yang sebelumnya koar-koar ingin begadang di masjid adalah orang pertama yang memasuki dunia mimpi. Aish sampai kehabisan kata-kata melihat betapa mudahnya Dira tidur di tempat asing.
"Gis, kamu tidur aja enggak apa-apa. Enggak maksain diri." Kata Aish lucu.
Gisel menggelengkan kepalanya menahan kantuk. Kelopak matanya sudah berat ingin segera tertidur tapi ia berusaha keras agar tetap terjaga karena ia telah berjanji akan menemani Aish mengobrol.
"Enggak... katanya mau begadang..."
Aish tersenyum geli. Sahabatnya ini sudah sangat mengantuk tapi masih memaksakan diri untuk tetap tersadar.
"Udah, kamu tidur aja. Lagian ini juga udah jam 1 malam dan aku sudah mulai mengantuk. Enggak lucu kan kita ngobrol berdua sementara mata udah berat semua?" Nyatanya Aish sama sekali tidak mengantuk.
Ia masih sadar dan belum ada tanda-tanda mengantuk. Bahkan dinginnya malam tak mampu merayunya untuk lekas memasuki alam mimpi yang menggiurkan.
__ADS_1
"Enggak..." Tapi Gisel benar-benar jatuh tertidur.
Aish menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Ia lalu menggeser badannya dan membantu Gisel memperbaiki sarung di tangannya.
Dingin.
Aish menghela nafas panjang. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, sepi dan gelap. Masjid tidak menyalakan lampu di lantai dua sehingga Aish hanya bisa melihat rak-rak di sekitarnya dengan cahaya bantuan cahaya bulan yang remang-remang.
Mendesah bosan, ia berdiri dari duduknya dan berjalan lebih dekat dengan jendela masjid. Setelah berjalan agak jauh dari kedua sahabatnya, Aish kemudian memilih tempat duduk yang nyaman di samping rak-rak kitab.
Termenung tenggelam dalam kesunyian, perlahan wajah Aish dibasahi oleh air mata. Aish menangis dalam diam, tak bersuara ataupun meringis selayaknya orang yang tersiksa hatinya. Walaupun hatinya memang sedang tidak baik-baik, namun adalah gadis yang tidak cengeng. Lihat saja, menangis saja ia tidak mengeluarkan suara.
"Ma, Aish sekarang udah berusia 18 tahun. Aish sudah besar dan bentar lagi lulus sekolah." Ada senyuman manis yang mulai terbentuk di wajah basahnya,"Eh...tapi Aish enggak tahu bakal di lulusin sama pondok atau enggak, soalnya Aish kan enggak tahu apa-apa sama pelajaran di sini hehehe..." Ia tertawa kecil sendiri memikirkan kebodohan nya selama bersekolah di sini.
Di sekolah, ia dan kedua sahabatnya tidak tahu apa-apa tapi masih diajari oleh para ustazah dengan sabar. Bahkan teman-teman kelas yang lain sangat membantu mereka bertiga, mereka secara murah hati menawarkan bantuan dan berbagi ilmu dengan Aish serta kedua sahabatnya, walaupun yah ujung-ujungnya Aish tidak dapat memahami banyak hal.
"Besok adalah tahun ke 16 Mama pergi ninggalin Aish dan sepanjang waktu ini pula Aish tidak pernah sekalipun melupakan Mama. Biasanya Aish akan berusaha berkunjung ke rumah Mama, tapi untuk tahun ini mungkin Aish tidak bisa melakukannya karena Mama tahu sendiri Aish sekarang ada di pondok pesantren." Menghela nafas panjang, perlahan senyuman manisnya mulai menghilang seiring dengan air mata di wajahnya yang kembali meluap.
__ADS_1
"Mama... Aish boleh cerita enggak sedikit sama Mama? Boleh, yah?" Tanya pada seseorang yang tidak ada di sisinya.
"Dari kecil... Aish terkadang merasa cemburu sama anak-anak lain. Kenapa yah, anak-anak yang lain bisa punya orang tua yang lengkap sedangkan Aish enggak. Eh, Aish juga punya Bunda dan Ayah di rumah, tapi kenapa yah Aish enggak ngerasain apa yang anak-anak lain rasakan. Saat itu Aish enggak tahu kalau Bunda adalah orang yang nyakitin Mama. Sampai akhirnya Aish mengerti, mengerti kalau selama ini Aish hanya punya satu Ayah setelah Mama pergi. Tapi Ma... Aish kok merasa kosong yah bersama Ayah. Aish sering kok merhatiin anak-anak yang lain saat mereka bersama dengan Ayah sendiri, interaksi mereka sangat baik dan harmonis. Seperti yang mereka bilang, Ayah adalah laki-laki terbaik di dunia ini. Namun mengapa Aish tidak merasakan perasaan yang sama yah, Ma?" Tersenyum miris, tangan dinginnya yang bergetar ringan mulai mengusap lelehan air mata di wajah basahnya.
"Untuk pertama kalinya Aish jujur sama Mama kalau selama ini Aish seringkali merasa sendirian di dunia ini. Aish kesepian dan Aish merasa ditinggalkan sama Ayah. Di mata Ayah, hanya Aira lah anak terbaik. Ma, mengapa Ayah melakukan itu sama Aish? Apa karena Aish lahir dari Mama? Atau karena Aish anak yang nakal, ya, Ma? Aish enggak tahu jawabannya sampai sekarang. Hati Aish selalu sakit memikirkannya. Aish dan Aira sama-sama anak Ayah, tapi mengapa perlakuan yang kami dapatkan berbeda? Ayah dan semua orang sangat menyayangi Aira, tapi enggak sama Aish. Padahal Aish juga mau dipeluk, diusap-usap kepalanya, dirayain ulang tahunnya. Aish mau banget, Ma. Aish mau tapi sayangnya enggak pernah punya kesempatan. Aish... cemburu, Ma. Aish cemburu dengan anak-anak di luar sana yang hidup bahagia dengan orang tuanya sedangkan Aish enggak dan Aish bahkan lebih cemburu dengan Aira karena selalu diperlakukan istimewa oleh Ayah. Ma... Mama, seandainya Allah ngizinin aku memilih untuk terlahir di keluarga mana di dunia ini, bolehkah enggak Aish milih untuk terlahir di keluarga lain saja, Ma? Habisnya... Aish enggak kuat, Ma." Hatinya sangat sakit, seolah diremas-remas oleh tangan besar tak kasat mata.
Rasanya sangat tidak nyaman. Bahkan bernafas saja rasanya susah. Aish kewalahan mengendalikan reaksi tubuhnya sendiri.
"Rasanya sakit, Ma. Aish enggak kuat..." Isaknya kesakitan.
Bertahun-tahun ia terjebak dalam rasa kecemburuan yang terbungkus topeng acuh tak acuh, Aish sungguh tersiksa. Ia juga ingin bahagia pikirnya. Ia juga ingin merasakan betapa hangatnya sebuah pelukan orang-orang di sekelilingnya. Tapi ia tidak bisa melakukannya karena bagi mereka semua, Aish adalah parasit di dalam keluarga itu. Aish adalah benalu yang harus disingkirkan dari kehidupan mereka.
"Aish jahat yah, Ma? Iya Aish jahat. Aish enggak mau lahir dari Mama. Lagian Mama juga jahat Sam Aish. Kenapa Mama enggak ajak Aish juga pergi dari dunia ini? Kenapa Mama biarin Aish berjuang sendirian di sini? Tahu enggak Ma... Aish sudah terluka berulang kali tanpa obat... Aish sakit, Ma." Keluhnya terluka.
Bila saja Mama membawanya pergi, maka mungkin ia tidak akan terlalu sakit dan terluka terus menerus. Maka mungkin ia tidak akan cemburu karena diabaikan semua orang...
Ia tidak akan sesakit ini.
__ADS_1
Namun Mama nyatanya pergi sendirian, egois pikir Aish sakit hati.