Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 15.11


__ADS_3

Beberapa menit sudah terlewati tapi belum ada satupun taksi yang lewat. Aish tidak tahu apakah harus bersyukur atau sedih di dalam hatinya karena ia tidak bisa menyusul sang habib pergi.


Menghelat nafas panjang, tangannya terulur menyentuh pundak Dira berniat mengingatkannya. Namun, sebelum ia bisa berbicara Dira tiba-tiba berteriak keras ke arah seberang jalan.


"Woah, ini nih monyet nyasar di sekolah kemarin. Mau kemana, hah?! Motor siapa yang kamu bawa? Nyolong motor orang, yah? Wah, habis sini aku laporin ustad biarin kamu mampus!" Ancam Dira kepada seorang laki-laki yang baru keluar dari gang jalan dengan motor metik lusuhnya.


Motor metiknya kotor dan tidak terawat dengan baik. Seolah-olah sebelum ke sini laki-laki itu melewati berbagai macam rintangan untuk membawa motor metik ini pergi. Jadi wajar saja Dira menuduhnya mencuri motor orang.


Ekspresi laki-laki itu langsung jatuh saat melihat Dira di seberang jalan. Apalagi mendengar teriakan lantang barusan saat menyebutnya monyet, laki-laki itu merasa jika kesehatan mental Dira agak mengkhawatirkan.


Namun itu tidak penting sekarang. Karena yang paling penting saat ini adalah segera melarikan agar tidak dilihat oleh pengawas.


"Tuh...tuh, ada pengawas di sana! Aku teriakin, yah?"


Seolah melihat kekhawatiran laki-laki itu, Dira semakin menjadi-jadi.


Laki-laki itu cemas. Apalagi saat melihat seseorang akan datang ke sini, dia langsung melepaskan motornya dipinggir jalan dan langsung melarikan diri. Tidak lupa sebelum pergi dirinya menyapa Dira dengan panggilan sopan.


"Dasar gorila betina!"


Dira yang ingin berteriak lagi langsung tersedak air liurnya sendiri,"...."


Aish dan Gisel di belakang,"....kami tidak mendengar apa-apa."


Dira mendengus. Dengan berkacak pinggang matanya melotot marah melihat kepergian laki-laki itu semakin jauh dari pandangannya.


"Cih, dasar monyet!" Kutuknya kesal.


Ini sangat memalukan pikirnya. Martabat dan harga dirinya hancur di depan kedua sahabatnya. Bagaimana mungkin dirinya yang bangga tiba-tiba dipermalukan oleh seorang anak laki-laki ingusan?


Huh, Dira berjanji untuk membalasnya dua kali lipat!


"Ayo pergi. Motornya sekarang sudah ada di tangan kita." Kata Dira acuh tak acuh.


Dia menyeberangi jalan bersama Aish dan Gisel. Tidak seperti Dira yang santai, Aish dan Gisel justru merasa gelisah melihat motor. Apakah motor ini milik laki-laki itu atau tidak, tetap tidak baik menggunakannya pergi.


Apalagi jika ini benar-benar kasus pencurian.

__ADS_1


"Tapi motor ini..." Gisel berbicara ragu.


Dira melambaikan tangan di depannya.


"Jangan khawatir, paling buruk kita nanti akan membayar sewa. Lagipula kita adalah saksi dan tidak bisa disalahkan." Kata Dira dengan mudahnya.


Dira mengabaikan ekspresi sembelit kedua sahabatnya dan langsung naik ke motor. Melihat kuncinya tidak diambil, Dira tidak tahu apakah laki-laki itu bodoh atau polos karena meninggalkan kunci di motor.


"Ayo naik. Kita akan pergi ke pasar." Desak Dira kepada mereka berdua.


Aish menatap aneh,"Kamu bisa bawa motor?"


Dira tersenyum bangga.


"Bisa lah. Kalau enggak, kenapa aku nyuruh kalian berdua naik?" Tanyanya heran.


Aish ragu soalnya belum pernah melihat Dira membawa motor. Tapi karena Dira bilang bisa, maka tidak ada salahnya mempercayainya. Di antara mereka bertiga, Aish dan Gisel bisa membawa motor jadi biarkan saja Dira yang menyetir.


"Okay. Tapi kita bonceng tiga?" Tanya Gisel ragu-ragu.


Lagian mereka cuma pergi ke pasar dan jaraknya enggak sampai ngelewatin benua, jadi masih bisa lah di tempuh pakai motor. Mereka bertiga punya uang dan tidak masalah jika motornya kekurangan uang atau mogok, toh mereka bisa memperbaikinya di jalan.


Selain itu mereka bertiga enggak ada yang gendut jadi enggak apa-apa bonceng tiga. Badan mereka bertiga muat kok di motor ini.


"Aku nurut ajalah, tapi pelan-pelan, yah?" Kata Gisel masih ragu tapi pasrah.


Dira mengangguk enteng.


Jadi Aish dan Gisel terpaksa ke atas motor. Untungnya jalanan ini sepi jadi mereka tidak terlalu diperhatikan oleh orang-orang. Tapi baru saja Dira memasuki jalan raya, sebuah teriakan nyaring mengagetkan mereka bertiga.


Di belakang, laki-laki itu kembali dengan banyak orang. Mereka berlari kencang mengejar motor Dira tanpa memperdulikan kain sarung yang melilit pinggang dan bisa saja terlepas jika tidak hati-hati.


Mereka bertiga sangat ketakutan melihat orang-orang ini. Panik, laju kendaraan jadi tidak stabil dan mulai miring ke sana kemari.


"Dir, ya Allah aku masih belum mau mati! Dosa aku masih banyak ya Allah..." Gisel histeris merasakan Dira mulai tidak stabil mengendarai motor.


"Aku...aku juga enggak tahu. Tangan aku gemetaran parah dan enggak bisa tenang." Kata Dira lebih panik lagi.

__ADS_1


Aish di belakang masih sempat memutar bola matanya malas.


"Jujur aja, kamu udah lama kan enggak bawa motor?" Ini adalah pertanyaan retoris yang tidak perlu di jawab.


Dari awal bawa motor aja Aish udah nebak kalau Dira udah lama enggak bawa motor. Soalnya orang yang udah cekatan bawa motor enggak mungkin gampang panik di atas motor. Dan meskipun sedang panik, mereka pasti masih stabil bawa motornya.


"Woy, berhenti!" Teriakan di belakang masih bergema menghantui mereka bertiga.


Dira ketakutan dan cemas. Dia tahu bahwa dia tidak bisa membawa motor ini lebih jauh lagi karena tangannya sudah gemetaran tidak bisa menstabilkan laju motor. Di bawah ketakutan sakit dan mati, akhirnya dia mengakui dengan pahit bahwa dia memang sudah lama tidak membawa motor.


"Aku...aku udah lama absen enggak bawa motor. Terakhir kali aku bawa kalau enggak salah sewaktu aku masih kelas 7 SMP."


Mulut Gisel dan Aish langsung berkedut tertahan setelah mendengarnya. Cakar-cakar mereka hampir saja terangkat mencekik leher Dira untuk melampiaskan kekesalan mereka.


"Hah...habib Thalib kok ada di belakang?" Disaat sedang genting gentingnya, Dira melihat sosok habib Khalid bercampur dengan orang-orang di belakang.


Habib Khalid terlihat cemas, berlari dengan wajah dingin bersama sekelompok santri.


"Masih aja sempat-sempatnya kamu bohong." Kata Aish tak puas.


Dira sama sekali tidak bohong. Dia yakin melihat habib Khalid dengan jelas di dalam kerumunan.


"Aku enggak bohong kok..." Matanya menunduk ke arah kaca spion untuk melihat dimana posisi habib Khalid.


Karena tindakannya ini, motor tanpa sadar melaju ke arah yang salah.


Gisel dan Aish langsung ketakutan. Dengan panik mereka berteriak kencang agar Dira fokus ke jalan.


"Dir, lihat depan!" Teriak Aish sambil mengguncang pundak Dira.


Dira tersadar dan mengangkat kepalanya ke depan. Matanya membola kaget saat melihat pohon besar di depannya. Sangat ketakutan, tangannya spontan memutar setang motor ke kiri agar tidak menabrak pohon.


"Akh...belum terlambat..Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah." Teriak Gisel sebelum kehilangan suara.


Dan,


BRAK

__ADS_1


__ADS_2