
Aish langsung terbangun dari lamunannya. Tangannya otomatis terangkat menyentuh puncak kepalanya yang baru saja disentuh oleh sang habib, merasakan jejak kehangatan yang belum padam.
Tersentuh, hatinya merasakan jejak kehangatan yang tersisa. Senyuman cerah nan pemalu lantas terbentuk di wajah cantiknya yang mempesona.
"Terima kasih, kak."
Habib Khalid memalingkan wajahnya menatap bangunan di samping jalan tempat mereka berdiri dan mengajak Aish menyebrang. Saat mereka memasuki kaget, mereka langsung disambut oleh beberapa pelayan yang sedang bertugas. Para pelayan mengarahkan mereka duduk di meja yang dekat dengan jendela sehingga mereka berdua dapat melihat pemandangan diluar lewat jendela. Kafe ini juga tidak membosankan karena di dalamnya ada banyak pot pohon bunga anggrek yang hidup dan cantik, memanjakan mata dan membuat udara jauh lebih segar.
Sejak masuk ke dalam tempat ini, Aish tidak pernah berhenti tersenyum kemanapun dia memandang. Wajahnya yang merah seakan mengatakan kepada semua orang yang melihatnya bahwa hari ini dia sangat bahagia. Sungguh sangat bahagia!
Bagaimana tidak, penampilan Aish yang menawan dan ketampanan habib Khalid yang mempesona otomatis menarik perhatian orang-orang yang sedang makan di kafe. Mereka diam-diam berdecak kagum karena Aish dan habib Khalid adalah pasangan yang serasi, mereka berdua cocok untuk satu sama lain yang sangat membuat iri.
...****...
Aira keluar dari perpustakaan kota setelah tinggal selama beberapa jam lamanya untuk membaca buku. Rencananya setelah keluar dari perpustakaan kota, dia akan langsung pergi ke toko buku untuk membeli buku pelajaran. Akan tetapi karena sudah siang, Aira memutuskan untuk pergi makan dulu untuk mengisi perutnya. Awalnya dia akan pergi ke restoran favoritnya di salah satu mall kota ini, tapi rencananya segera teralihkan saat melihat orang yang hampir satu bulan ini menghilang dari pandangannya kini tiba-tiba tengah duduk anteng di sebuah kafe pusat kota.
"Kak Aish?" Bingung Aira melihat Aish di dalam kafe.
"Enggak...kak Aish kan sekolah di pondok pesantren." Aira tidak percaya jika orang yang duduk di dekat jendela kafe itu adalah Aish.
Beberapa detik kemudian matanya tiba-tiba membola kaget ketika melihat seorang laki-laki tinggi tiba-tiba muncul dan duduk di depan Aish. Bagaimana mungkin dia tidak tahu siapa laki-laki itu?
Habib Khalid!
Orang yang sudah lama dia tunggu dan cari keberadaannya sekarang sedang duduk bersama dengan Aish, kakaknya yang paling menjengkelkan dan sia-sia.
Aira cemburu dan marah. Bagaimana mungkin habib Khalid duduk bersama Aish?
Gadis sia-sia yang selalu membuat masalah untuk keluarga, mengapa gadis seperti itu bisa berhubungan baik dengan habib Khalid?
Mengepalkan kedua tangannya cemburu. Aira langsung membawa langkah kakinya masuk ke dalam kafe dan berjalan ke meja tempat Aish makan bersama habib Khalid.
"Kak Aish." Panggil Aira dengan nada suara yang sangat lembut, samar, ada keengganan di dalamnya.
__ADS_1
Aish langsung tersedak makanannya sendiri begitu melihat kedatangan Aira tiba-tiba. Untungnya habib Khalid cepat-cepat memberikan Aish air putihnya sehingga Aish bisa melegakan tenggorokannya yang tersedak.
"Hati-hati." Kata habib Khalid kepada Aish.
Aish sangat malu. Kedua mata aprikot nya memerah karena sakit.
"Terima kasih, kak." Ucapnya malu setelah merasa lebih baik.
Habib Khalid mengambil air putih itu dari tangan Aish dan menaruhnya di samping piring makanannya. Dia lalu melanjutkan makanannya tanpa memperhatikan kedatangan orang ketiga di meja mereka.
"Aira." Melihat Aira lagi, Aish merasakan suasana hati yang rumit.
Aira meremat gamisnya harap-harap cemas. Padahal dia sudah datang menyapa namun mengapa habib Khalid masih tidak mengangkat kepalanya untuk sekedar melihat saja?
"Kak Aish kenapa ada di sini? Bukannya kak Aish sekolah di pondok, yah?" Tanya Aira ingin tahu.
Dia ingin tahu bagaimana mungkin Aish dan habib Khalid bertemu?
Apakah mereka tidak sengaja bertemu di sini atau memang datang bersama?
Adiknya ini adalah putri yang keluarga Ayahnya banggakan dan disanjung tinggi, berbeda dengan dirinya yang tidak dianggap kehadirannya.
"Bukan begitu, kak...aku hanya... setelah kejadian malam itu aku merasa sangat bersalah kepada kak Aish. Meskipun kak Aish memberikan ku obat terlarang malam itu...tapi aku percaya kalau kak Aish enggak benar-benar serius ngelakuin itu sama aku..." Kata Aira dengan suara lemah yang dibuat-buat.
Dia terdengar sangat tidak berdaya di hadapan kakaknya.
Diungkit kan kesalahannya di depan habib Khalid, hati Aish langsung menjadi tidak nyaman. Dia kehilangan selera untuk makan. Aish malu dan cemas. Dia takut bila habib Khalid akan mengecapnya sebagai gadis yang tidak baik.
"Masalah itu...sudah berlalu, kenapa harus mengungkitnya lagi?" Tanya Aish marah.
Bahkan memandang habib Khalid saja dia tidak berani saat ini. Dia takut melihat sorot mata habib Khalid kepadanya berubah.
Melihat ekspresi cemas di wajah Aish, Aira langsung bersorak di dalam hatinya. Dari reaksi ini saja Aira tahu jika kakaknya pasti memiliki perasaan kepada habib Khalid.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud mengungkitnya, kak. Aku hanya...hanya... tidak sengaja memikirkannya saja." Aira beralasan.
Tidak sengaja memikirkannya?
Cih, Aish lebih memilih percaya jika babi bisa terbang di dunia ini daripada mempercayai omongan Aira, gadis munafik bermuka dua!
"Kamu masih sangat pandai membuat alasan." Aira pasti sengaja melakukan ini untuk mempermalukannya di depan habib Khalid.
Aira menggelengkan kepalanya panik. Tangannya menyentuh tangan Aish, namun segera ditepis. Aish sangat marah dengan Aira. Dan dia tidak habis pikir mengapa semua orang begitu buta melihat kejahatan gadis ini. Hanya karena dia lebih pintar dan menggunakan cadar, semua orang dengan suara bulat menganggapnya baik.
Lalu bagaimana dengan sang habib sendiri?
Apakah dia juga akan tertipu dengan kain cadar Aira?
Aish tiba-tiba panik mendengarkannya.
"Aw, kak Aish, sakit." Sambil memegang tangannya Aira mengeluh.
Aish mengepalkan kedua tangannya kesal. Entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa lelah menghadapi Aira. Sudah bertahun-tahun tapi mengapa anak ini selalu menghantui hidupnya?
Tidak cukupkah mengambil kehidupan Mamanya?
Tidak cukupkah memonopoli kasih sayang Ayah?
Dan tidak cukupkah merebut hati semua orang di keluarga?
Mengapa...mengapa gadis ini masih menghantuinya bahkan disaat dia sudah diusir dari dunia itu?!
"Apakah kamu sudah selesai makan?" Suara lembut sang habib menarik perhatian Aish dan Aira.
Aish mengangkat kepalanya ragu-ragu dan melihat wajah habib Khalid dengan perasaan antisipasi.
Tidak,
__ADS_1
Habib Khalid masih seperti sebelumnya. Memandang dirinya dengan kelembutan yang tak mampu diberikan oleh orang lain dimuka bumi ini.
"Aku sudah selesai, kak." Kata Aish tidak lapar lagi.