Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 14.9


__ADS_3

"Mereka sudah pergi jadi ayo kita pergi juga. Aku ingin kembali ke asrama untuk beristirahat sebentar." Salah satu teman memecah kesunyian.


Gadis itu mengajak Nadira dan yang lainnya untuk segera pergi karena mereka tidak punya apa-apa lagi di sini untuk dibicarakan. Wajahnya yang lembut saat ini agak kaku karena suatu alasan.


Jarang, beberapa orang juga punya pikiran yang sama.


"Iya, ayo kembali. Aku mau tidur siang di asrama sebelum balik beraktivitas lagi." Kata salah satu gadis.


Gadis yang paling dekat dengan tempat duduk Nadira mengernyit heran.


"Kalian enggak mau ikut Nadira ke perpustakaan buat belajar?" Tanyanya tak puas.

__ADS_1


Padahal orang yang mendapatkan kesempatan dekat dengan Nadira tidaklah sembarang orang dan orang-orang ini harusnya bersyukur bisa berteman dengan Nadira. Bersyukur dengan cara memanfaatkan semua kesempatan yang ada untuk belajar dan menjalin hubungan yang baik dengan Nadira, jujur saja ini adalah peluang yang sangat besar.


"Maaf, hari ini aku tidak bisa menemani. Hari ini aku sangat lelah dan ingin beristirahat." Kata salah satu gadis membuat alasan yang sangat sopan.


Nadira merasa tidak nyaman tapi tidak punya waktu untuk memperdulikan mereka yang ingin pergi.


"Tidak apa-apa, pergilah. Aku juga hari ini ada keperluan dengan Umi di rumah jadi tidak bisa kemana-mana." Dia membuat alasan untuk menenangkan dirinya.


Setelah mengobrol singkat dengan Nadira, mereka yang ingin pergi langsung angkat kaki dan yang ingin tetap tinggal, tetap di tempat menemani Nadira hingga ke rumah Umi.


Mereka bukannya menghina keturunan Rasulullah Saw, tidak, nauzubillah malah. Hanya saja tidak bisa dipungkiri betapa sedihnya mereka mendengar Nadira berkata seperti itu, seolah-olah mereka yang orang biasa tidak memiliki kesempatan bersanding dengan orang-orang mulia di luar sana.

__ADS_1


...*****...


Di asrama mereka bertiga segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian yang lebih nyaman. Rencananya mereka akan langsung beristirahat dan tidur siang selagi memiliki waktu luang. Tapi semua itu tidak bisa dilakukan karena Aish dan Dira kembali khawatir melihat ekspresi kosong di wajah Gisel.


"Kalau kamu ada masalah, cerita. Jangan sampai aku dengar masalah ini dari orang lain dan bukan langsung dari kamu. Kalau iya, aku pasti bakal marah banget."


Aish menepuk bahu Gisel sembari mendudukkan dirinya di samping.


Gisel gelagapan dan baru menyadari bila kedua sahabatnya sudah ada di sisinya. Malu, dia malu. Tapi di samping itu hatinya takut mendengar ancaman Aish.


Aish kalau sudah marah bawaannya jadi cuek dan dingin. Gisel tak sanggup dicuekin oleh sahabatnya ini. Sebab hanya Aish dan Dira yang memperlakukannya seperti keluarga sendiri, tulus dan hangat.

__ADS_1


Gisel menghela nafas berat. Tangan kurusnya meraih tangan Aish dan Dira, kemudian menggenggamnya erat terlihat sangat berat.


"Uang aku hilang, semuanya. Tidak ada yang bersisa." Katanya rendah.


__ADS_2