Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 4.11


__ADS_3

"Tunggu." Suara Danis menghentikan langkah mereka bertiga.


Dira dan Gisel dengan tertekan kembali berbalik menghadap Danis, habib Khalid serta yang lainnya.


"Ada apa lagi ya, kak?" Tanya Gisel kelepasan bertanya.


Dia pikir siapa yang memanggil, dan setelah dilihat dengan baik-baik, orang yang memanggil mereka adalah orang yang ingin sekali dia hindari.


Ugh, apa yang aku takutkan. Kak Danis kayaknya enggak mengenal ku. Batin Gisel mengusir rasa gelisah dihatinya.


"Enggak ada apa-apa. Aku cuma mau bilang kalau di kota ini gak ada klinik Benung's jadi maaf saja, selama tinggal di sini kalian tidak bisa melakukan perawatan kulit yang mahal dan menghabiskan banyak uang." Ucap Danis dengan seringai lebar di wajah tampannya yang memiliki sentuhan rasa dingin.


Jleb


Dira dan Gisel spontan menundukkan kepala karena malu. Mereka tidak mengira jika pembicaraan mereka di dengar oleh Danis sebab mereka berbicara dengan volume yang sangat kecil. Sungguh luar biasa jika ada orang yang berjarak beberapa meter bisa mendengarnya.


Melihat mereka bertiga langsung menjadi canggung, habib Khalid menggelengkan kepalanya tidak berdaya. Dia melambaikan tangannya kepada mereka bertiga agar segera pergi.


Aish, Dira, dan Gisel sekali lagi mengucapkan salam sebelum pergi kembali ke asrama. Mereka berjalan dengan cepat, terlihat terburu-buru seperti orang yang ingin melarikan diri. Sementara di belakang mereka Danis dan beberapa orang lainnya tidak bisa menahan tawa. Mereka tertawa kecil menertawakan betapa konyolnya ketiga santriwati itu.

__ADS_1


Habib Khalid menggelengkan kepalanya tidak berdaya.


"Lain kali jangan katakan itu lagi karena itu adalah privasi mereka." Kata habib Khalid mengingatkan Danis.


Danis langsung menutup mulutnya, kembali dalam mood tembok berjalan dan menganggukkan kepalanya dengan sopan kepada habib Khalid.


"Maaf, habib. Insya Allah aku tidak akan mengulanginya lagi." Janji Danis.


Habib Khalid hanya berdehem ringan dan membawa kelompoknya untuk melanjutkan patroli mereka lagi yang sempat tertunda sebelumnya.


***


Pondok pesantren terbilang ketat soal waktu. Tepat pukul 10 malam, gerbang asrama santri dan santriwati langsung ditutup. Dan diwaktu yang bersamaan orang-orang dari staf kedisiplinan asrama putri akan memulai patroli singkat mereka. Masuk ke setiap kamar untuk memastikan apakah semua penghuni kamar sudah masuk atau belum, setelah absensi, kamar akan ditutup serta dikunci dari dalam. Tidak ada yang tahu apakah penghuni kamar itu sudah tidur atau belum selama mereka tidak berisik.


Contohnya seperti sekarang. Semua orang memilki aktivitas masing-masing. Ada yang tidur duluan, ada yang masih membaca buku, ada pula yang masih berbicara entah membicarakan apa. Namun yang pasti, mereka semua tidak ada hubungannya dengan Aish.


Aish termenung. Mata aprikot itu berkedip ringan memandangi langit di malam hari yang sangat cerah karena cahaya bulan. Diam, kehadirannya seolah tak terganggu sama sekali dengan tidur rusuh Dira di sampingnya yang tidak bisa diam.


"Kak Khalid tidak seburuk yang aku pikirkan." Bisik Aish sambil memandangi langit di luar jendela.

__ADS_1


Habib Khalid sebenarnya tidak buruk. Dia hanya menegakkan apa yang harus ditegakkan. Aish sendiri pun menyadari bila semua hukuman yang dia dapatkan adalah kesalahan yang dia ciptakan sendiri dan Aish mengerti itu meskipun dia sulit menerimanya sebab dia adalah orang yang egois.


"Aish? Apakah kamu sudah tidur?" Gadis duduk di atas ranjangnya.


Di samping Gadis ada Gisel yang sudah memasuki alam mimpi. Karena terlalu lelah mencuci piring, Gisel dan Dira langsung jatuh ke alam mimpi begitu bersentuhan dengan ranjang.


"Belum. Kenapa?" Tanya Aish.


Gadis tersenyum,"Oh, aku hanya bertanya apakah besok kita jadi pergi ke luar pondok untuk membeli gamis?" Tanyanya sopan.


Aish menganggukkan kepalanya ringan.


"Jadi. Kita akan pergi setelah membersihkan kamar mandi." Jawab Aish.


Gadis langsung setuju. Setelah mengkonfirmasi kegiatan besok, Gadis tidak mengganggu Aish lagi. Dia langsung berbaring di atas ranjang bersama Gisel.


Malam ini mereka berdua pindah posisi. Dira dan Gisel menggunakan uang untuk menyuap teman tidur Aish serta Gadis agar mereka bisa berdekatan.


Kedua orang itu sangat senang karena Dira dan Gisel memberikan mereka 500 ribu. Jadi mereka langsung pindah dan memutuskan untuk memindahkan barang besok pagi saja karena mereka terlalu lelah.

__ADS_1


__ADS_2