
Dengan semangat gotong royong beberapa santriwati memindahkan kantong-kantong belanjaan mereka kembali ke asrama. Di perjalanan menuju asrama, mereka kerap kali mendapatkan tatapan ingin tahu dari orang-orang yang dilewati. Mungkin orang-orang itu heran sekaligus bertanya-tanya barang apa yang mereka bawa hingga membutuhkan beberapa tenaga untuk mengangkutnya.
"Siti diajak belanja ke pasar sama Aish." Salah satu santriwati yang dipanggil untuk mengangkut barang mulai berbicara.
Teman di sebelahnya menimpali,"Kok bisa yah. Padahal Siti kan enggak suka sama ketiga anak kota itu."
Beberapa teman kamar mengetahui tentang ketidaksukaan Siti kepada kelompok Aish. Mereka pikir Siti akan sangat anti dekat dengan Aish tapi sepertinya dugaan mereka salah karena faktanya hari ini Siti ikut pergi berbelanja dengan kelompok Aish.
"Aku kurang tahu sih masalah itu. Tapi Siti beruntung ikut sama Aish karena dia pasti dikasih uang atau hadiah hari ini. Kayak Gadis contohnya. Gadis cuma nemenin Aish selama beberapa hari di pondok dan enggak ngelakuin hal besar tapi dikasih uang satu juta sama Aish."
Dia masih ingat seberapa tebal gumpalan uang yang Aish kasih ke Gadis hari itu. Uang sebanyak satu juta dengan mudahnya diberikan ke orang asing yang baru dikenal, sontak saja membuat teman-teman kamar yang lain menatap iri. Iri bukan karena niat jahat tapi iri karena Gadis sangat beruntung mendapatkan rezeki sebanyak itu.
"Hah, dia berasal dari kota dan pasti memiliki latar belakang keluarga yang kaya. Kalau enggak, dia enggak mungkin menghamburkan uang semudah itu."
Topik pembicaraan mereka kini beralih membicarakan latar belakang keluarga Aish. Mereka asik mengobrol di belakang sedangkan Siti yang kini tengah mengikuti langkah Aish tengah dibanjiri oleh berbagai macam pikiran yang konyol dan aneh tentang habib Khalid. Dia bertanya-tanya, merasa heran, juga menebak-nebak sendiri apa hubungan habib Khalid dengan Aish?
Mereka memang tidak banyak bicara atau mengobrol akrab seperti halnya teman, malah mereka terkesan bersikap canggung- nah, justru inilah yang membuatnya merasakan semua kebingungan itu. Sebab beberapa kali dia memperhatikan bila ada suasana yang sangat tidak biasa diantara mereka berdua.
"Assalamualaikum!" Salam Dira berteriak begitu mereka sampai di kamar.
Di dalam kamar ada beberapa santriwati yang sedang rebahan, baca buku, bahkan ada pula yang tidur. Sisanya mungkin sedang melakukan aktivitas di luar kamar. Hari ini adalah hari libur jadi semua orang bersantai-santai dan menikmati waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai.
"Siti," Panggil Aish.
Tanpa menjawab, Siti menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Bagikan makanan ini ke teman-teman kamar yang lain." Katanya meminta bantuan, samar.
__ADS_1
Siti tidak langsung menjawab. Bola mata besarnya menatap wajah menawan Aish dengan sinar kekaguman.
"Ada apa?" Aish merasa tidak nyaman ditatap seperti itu olehnya.
Siti menurunkan matanya, menggeleng, dia lalu mengucapkan terima kasih atas nama teman-teman kamar sebelum mulai membagikan makanan itu ke mereka. Mereka sangat senang mendapatkan makanan itu, apalagi makanan yang dibagikan adalah kue-kue yang sudah lama mereka tidak beli atau makan semenjak sekolah di pondok. Terkadang mereka akan memakan semua makanan ini sepuas mungkin ketika kembali ke kampung halaman. Langkanya lagi momen ini hanya berlangsung sekali setahun setiap kali libur lebaran. Jadi setelah sekian lama tidak berlebihan rasanya mereka untuk sesekali merindukan makanan ini.
Dan karena semua makanan ini pendapat mereka terhadap Aish, Gisel, dan Dira jadi berubah. Mereka senang, ingin dekat tapi tidak memiliki keberanian besar karena takut Aish mungkin menolak pendekatan mereka.
"Aish," Gadis datang menghampiri Aish.
Aish mengangguk ringan kepadanya sebelum kembali fokus memilah-milah gamis yang dia beli dari pasar.
Gadis melihat tumpukan gamis di atas ranjang, tersenyum malu, dia kemudian berkata,"Aish, teman-teman sangat senang menerima kue darimu dan ingin berterimakasih kepada mu."
"Tidak perlu berterimakasih, lagipula itu bukan hal yang besar." Ujar Aish tenang.
"Siti, kemari lah." Panggil Aish kepada Siti.
Siti lalu memberikan kantong plastik di tangannya ke teman kamar yang lain dan mengintruksikan nya untuk terus mengirim makanan ini ke teman-teman yang belum ke bagian.
"Ada apa?" Tanya Siti setelah berdiri di samping Aish.
Aish lalu menyodorkannya sebuah kantong plastik hijau dibawah pengawasan mata Gadis.
"Ini untukmu." Katanya santai tanpa memperhatikan perubahan ekspresi orang-orang di sekitarnya.
Anak-anak kamar yang tadinya ribut berebutan makanan kini teralihkan perhatiannya. Mereka semua menatap Siti dengan rasa ingin tahu.
__ADS_1
Siti membuka kantong plastik hijau itu. Di dalam sana ada banyak sekali kain gamis. Jika dihitung dengan benar mungkin ada 7 gamis baru yang belum tersentuh dan masih memiliki gantungan harga dari toko.
"Ini...aku tidak pernah membelinya." Siti bukanlah orang munafik. Dia juga senang diberikan hadiah namun rasa malunya telah mengingatkannya dengan murah hati bila orang yang memberikannya hadiah adalah orang yang sempat dia pandang rendah.
Siti malu menerimanya.
Aish merebahkan dirinya di atas kasur tampak sangat lelah.
"Itu adalah hadiah dariku untuk bantuan mu. Terimakasih sebelumnya kamu sudah mau membantu kami pergi ke pasar. Kamu tahu, ternyata kamu tidak seburuk yang kupikirkan." Balas Aish datar namun senyum tipis di bibirnya menunjukkan bila dia memang tulus mengatakannya.
Siti tertegun. Tangannya meremat kuat kantong plastik hijau itu. Perlahan sebuah garis senyuman mulai terbentuk di wajahnya yang polos.
"Yah, kamu juga tidak seburuk yang aku pikirkan. Hadiah ini sebenarnya tidak perlu, akan tetapi karena kamu sudah memberikannya maka kali ini aku tidak akan menolak. Aisha, terima kasih."
"Hem." Balas Aish seraya berpura-pura menutup matanya untuk tertidur.
Melihat Aish yang kelelahan, Siti tidak berniat meneruskan pembicaraan lagi. Dia langsung kembali ke ranjangnya dengan kantong kresek hijau di tangan. Hadiah ini memang sangat ringan namun memiliki nilai yang sangat berat di dalam hati. Jujur saja, hatinya menghangat karena untuk pertama kalinya dalam hidup ini dia merasakan manisnya sebuah ucapan terima kasih, tentu saja yang tulus.
Siti langsung dikelilingi oleh teman-teman kamar. Mereka dengan rasa ingin tahu mengeluarkan semua gamis Siti, melihatnya dengan tatapan kagum sekaligus cemburu, mereka ikut senang dengan rezeki yang Siti dapatkan hari ini.
Berbeda dengan suasana hati Siti yang sedang bahagia, Gadis, orang yang telah diabaikan tadi sekarang sedang diam terpaku menatap keberuntungan Siti. Mata coklatnya menatap rumit ke arah Siti di seberang sana.
Dasar munafik. Batinnya marah.
Bersambung...
Up nanti sore, insya Allah
__ADS_1