
Setelah pihak keluarga Mama datang ke pondok pesantren, aku tidak punya waktu untuk berbicara dengan kak Khalid. Nyatanya ada banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya, tapi apalah daya, mereka semua menahanku untuk tidak pergi.
Dan sekarang di sinilah aku, duduk di ruang tamu terakhir kali tempat ku, kak Khalid dan Kakek berbicara. Sekarang tanpa kehadiran kak Khalid. Bersamaku ada Mbah dan Kakek. Mereka membicarakan banyak hal kepadaku. Tentang Mama yang tak sempat kulihat dan ku kenali, tentang masa kecilku yang dilewatkan oleh Mbah, dan sedikit tentang keluarga Mama. Mbah tak dapat menjelaskan banyak hal karena kondisinya yang tidak sehat.
Mbah bilang aku bisa bertanya kepada bibi Rumi dan paman untuk lebih jelasnya.
"Kenapa diam saja, Nak? Masih memikirkan Ayah kamu?" Kakek mengusap wajahku agar perhatianku tidak teralihkan.
Aku tersenyum tak berdaya. Beberapa saat yang lalu aku memang masih memikirkan Ayah, tapi baru saja aku sedang memikirkan kak Khalid, em, suamiku.
"Sedikit."
Kakek menghela nafas panjang. Tangan tuanya beralih memegang tangan ku. Rasanya sangat hangat. Tangan tua ini tak pernah bosan membagi kehangatannya dengan diriku sejak bertahun-tahun yang lalu.
"Nak, bukan karena aku tidak ingin melihat kamu bertemu dengan dia. Kalian adalah pasangan Ayah dan anak, kamu berhak bertemu dengan dia. Tapi Kakek melarang kamu bertemu dengan dia hari ini karena Kakek ingin kamu menenangkan perasaan kamu sambil mencerna informasi yang diberitahu oleh Mbah dan bibi kamu. Sedangkan untuk Ayah kamu, biarkan saja dia seperti ini. Biarkan dia menyesali semua yang telah dilakukan kepadamu, biarkan dia merenungi dan memperhatikan semoga kesalahan yang telah dia lakukan kepadamu hingga sebesar ini. Kakek menganggap ini semua untuknya. Kakek ingin tahu, apa tanggapannya mengenai kesalahan yang telah dilakukan Aira hari ini di pondok pesantren. Apakah dia menyesal dan marah, karena anak yang selama ini dia bangga-banggakan ternyata tidak sebaik yang dia pikirkan. Bukan karena Kakek tidak menyukai adikmu itu, Nak. Biar bagaimanapun dia tidak bersalah atas kesalahan yang dilakukan oleh Ayah dan Bundanya. Hanya saja melihatnya tumbuh dengan kasih sayang melimpah dari semua orang di rumah sementara kamu berkubang dalam kesepian membuat Kakek memandangnya sebelah mata. Sekarang apa yang Kakek takutkan benar-benar terbukti. Kamu... Telah membuktikan bahwa dirimu telah berubah ke arah yang lebih baik sedangkan adikmu jatuh dalam kegagalan. Ini adalah kegagalan dari Ayahmu dalam membesar kan anak. Setelah ini Kakek tidak tahu bagaimana sikap Ayah mu kepada Aira. Kakek harap dia bisa lebih bijaksana lagi."
Setiap apa yang Kakek ucapkan memperhatiku merasakan berbagai macam semburat emosi. Orang tua selalu memiliki posisi yang sangat penting di dalam hati sekalipun banyak luka yang telah kudapatkan dari sosok Ayah.
__ADS_1
Ketika Ayah mengatakan ingin bertemu dan berbicara denganku tadi sore, hatiku tergoda ingin bertemu tapi Kakek melarang. Alasannya seperti yang Kakek katakan tadi. Kami membutuhkan waktu untuk mengisi hati masing-masing.
"Kakek, aku mengerti. Aku akan mendengarkan keputusan Kakek." Ucapku tersenyum selebar mungkin.
"Anak baik. Ini sudah malam, apakah kamu tidak mengantuk?" Mbah bertanya kepadaku.
Sesungguhnya aku sedikit mengantuk karena hari ini belum tidur siang.
"Sedikit, Mbah. Tapi aku masih kuat kok."
"Kamu masih kuat melayani kami, tapi laki-laki di belakang pintu sudah tidak kuat lagi." Kata Mbah sambil tertawa.
Ah,
Aku spontan melihat ke pintu. Di sisi pintu yang tersembunyi, aku melihat pundak seseorang. Tanpa bertanya pun aku tahu siapa dia karena aku ingat orang itu menggunakan baju warna apa hari ini. Oh, sudah berapa lama orang ini menunggu di sini?
"Em..." Wajah ku langsung panas.
__ADS_1
Kakek menepuk puncak kepalaku beberapa kali secara bergiliran dengan Mbah.
"Pergilah. Kami sudah menyita banyak waktumu. Kalian pasti punya banyak hal untuk dibicarakan." Kata Kakek kepadaku.
Aku menggigit bibirku berpikir. Sebenarnya aku ingin langsung melarikan diri dan menghampiri kak Khalid setelah mendapatkan izin mereka. Tapi...aku bingung harus bagaimana di depan kak Khalid setelah tahu kalau dia adalah suamiku. Tidakkah semuanya akan berjalan canggung?
"Tidak mau?" Tanya Mbah kepadaku.
Aku spontan menggelengkan kepala dengan panik. Aku sangat, sangat, sangat mau!
Bagaimana bisa aku menolak?
"Mau. Kalau begitu Mbah, Kakek, aku....aku pergi dulu. Assalamualaikum." Dan aku akhirnya memberanikan diri menemui kak Khalid!
Bersambung...
Insyaa Allah besok, um!
__ADS_1