Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 7.3


__ADS_3

"Enak, yah. Kenapa aku baru tahu coba jajanan kayak gini rasanya enak-enak." Dira mengambil risol yang masih hangat dan mengunyahnya dengan mabuk.


Ugh, dia suka makanan ini.


"Kalau enak ya makan aja sepuasnya. Lumayan lho, kantin asrama hanya dibuka saat sekolah ujian aja." Kata Gisel juga merasa mabuk dengan tahu isi yang baru saja diangkat dari penggorengan, panas tapi enak. Jadi dia tidak tahan melepaskannya.


"Eh, itu tas yah?" Perhatian Dira tiba-tiba teralihkan.


Dia melihat sesuatu yang tergantung di atas ranting pohon. Dari tempatnya duduk sih dia yakin jika itu adalah tas?


Melihat ke arah yang ditunjuk Dira, Aish langsung menepuk jidatnya karena telah melupakan hal yang sangat penting.


Lantas dia segera berdiri dan mengambil paper bag hitam yang diberikan habib Khalid kepadanya tadi.


Ketika melihat Aish mengambil paper bag hitam itu dengan hati-hati, mata Dira dan Gisel langsung berkilat penasaran. Mereka langsung mengerubungi Aish.


"Ini dari siapa Aish?" Tanya Dira santai tapi matanya sudah panas ingin mengebor paper bag itu.


Aish menundukkan kepalanya mengingat rasa malu yang sempat merayapi dirinya. Mengingatnya lagi membuat wajah Aish kembali menghangat. Ada rona merah yang mulai mengembang di wajah menawannya yang indah sehingga pesona dirinya kian meningkat.


"Ini...dari Kak Khalid." Jawab Aish berbunga-bunga.


"Kak Khalid.... maksud kamu habib Thalib?" Tanya Gisel menebak.


Aish menganggukkan kepalanya ringan.


"Aneh, bukannya kalian cuma sebatas kenalan aja yah tapi kayaknya kok akrab banget?" Heran Dira memikirkannya.


Dasarnya Dira meragukan sebatas 'kenalan' ini karena menurutnya Aish dan habib Khalid memiliki suasana yang ambigu setiap kali bertemu. Bila cuma sekali, mungkin dia akan mengabaikan perasaan ini. Akan tetapi nyatanya perasaan ini selalu ada setiap kali melihat Aish dan habib Khalid bertemu. Jadi bagaimana mungkin dia tidak merasa curiga?


Selain itu setiap kali mereka semua bertemu, entah disengaja atau tidak, fokus habib Khalid pasti selalu Aish. Padahal bukan hanya Aish saja di sana namun orang yang selalu habib Khalid tanya ujung-ujungnya selalu Aish. Bahkan terkadang Dira memperhatikan bahwa saat habib Khalid berbicara tanpa menyebut nama Aish secara langsung tapi matanya sesekali akan melirik Aish.

__ADS_1


Tidakkah ini mencurigakan?


"Kami memang hanya kenalan saja." Tekan Aish tidak berbohong.


"Jadi saat kami pergi kamu di sini asik bertemu dengan kenalan mu, yah? Hah...ku bilang juga apa, di sini telah terjadi sesuatu." Decak Dira mengejek.


Aish mengabaikan ejekannya dan berpura-pura terlihat normal meskipun jantungnya saat ini kembali berdebar kencang.


Aish lalu membuka paper bag hitam itu, mengeluarkan beberapa buku catatan yang telah di tandai dengan bahasa Arab dan tulisannya.


"Lho?" Aish kaget melihat sebuah kotak kecil tambahan di dalam paper bag.


Kak Khalid enggak pernah ngomong apa-apa soal kotak ini? Batin Aish bingung.


Dia mengeluarkan kotak kecil itu dan membukanya langsung dibawah pengawasan kedua mata temannya. Saat membuka kotak kecil itu, indera penciuman mereka langsung disambut oleh semerbak wangi bunga mawar yang manis namun tidak berminyak.


"Ini tasbih buat zikir, kan? Tapi kok harum banget?!" Gisel bertanya takjub sekaligus heran.


Dia memang tidak sering- atau lebih tepatnya belum pernah menggunakan tasbih untuk berzikir. Tapi dia sering melihat benda ini entah dibawa guru sekolah, teman sekolah, dan ada juga beberapa di rumah. Namun dia berani bersumpah jika ini pertama kalinya dia melihat dan mencium tasbih seharum ini.


"Coba cium." Gisel mengeluarkan tasbih dari kotak seraya membawa kotak itu lebih dekat dengan hidungnya.


"Wangi sih, tapi ringan banget."


"Masa sih?" Dira mengambil kotak itu dan menciumnya.


Setelah menciumnya, Dira langsung beralih mengambil tasbih itu dan membandingkannya.


"Eh iya, wangi di kotak lebih ringan yah daripada di tasbih."


Heran Dira setelah membandingkan wangi keduanya. Bisa dipastikan bila sumber wangi tersebut berasal dari tasbih itu sedangkan kotak kecil yang menjadi wadah tasbih tersebut hanya terinfeksi saja.

__ADS_1


"Habib Thalib beli dimana yah, tasbihnya? Kalau tasbihnya wangi begini, aku juga mau beli dong."


Aish juga tidak tahu habib Khalid membeli tasbih ini dimana. Dengan muka panas dan hati berbunga-bunga, dia mengambil tasbih itu dari tangan Dira. Memegangnya dengan hati-hati seraya menghirup rakus setiap wangi yang menguar dari butiran-butiran kayu yang telah dipoles dengan indah.


"Hem..." Matanya tertutup nyaman tampak mabuk.


"Yah, ini sangat manis." Gumam Aish candu.


Tasbih ini sangat wangi. Seolah-olah ada ribuan bunga mawar merah merekah yang diukir ke dalam butiran-butiran tasbih yang halus hingga memberikan sebuah ilusi bila wangi ini tidak akan pernah ada habisnya walaupun terus menerus dihirup.


"Aish, kamu pasti sangat senang sekarang." Goda Gisel ketika melihat wajah Aish kembali memerah.


Ugh, Aish terlihat sangat malu sekarang.


"Senang lah. Lha wong ini dikasih sama kenalan lho." Dira mulai ikut-ikutan menggoda Aish.


"Eh, masa iya kenalan bisa ngasih hal-hal berharga ke sesama kenalan?" Tanya Gisel berpura-pura bingung.


Aish meringkukkan bibirnya terlihat sangat malu. Dia tidak tahu harus berkata apa dan berbuat apa dalam situasi ini. Pasalnya apa yang mereka katakan benar bila...kenalan tidak seharusnya memiliki perhatian yang sedalam ini.


Em, ini... Aish tidak bisa tidak memikirkannya lagi. Ada harapan yang lagi-lagi ingin melambung tinggi ke tempat yang jauh. Harapan akan rasa manis yang dirasakan hatinya sekarang juga dirasakan oleh orang itu...


Apa mungkin? Batin Aish seraya menatap langit malam yang terbentang luas jauh di sana.


...****...


Satu jam kemudian mereka memutuskan untuk kembali ke asrama karena di luar banyak nyamuk. Sekalipun seluruh badan mereka tertutupi kain gamis tapi itu tidak bisa menjamin kulit mereka tidak akan dinodai oleh moncong nyamuk yang nakal. Oleh karena itu mereka memutuskan untuk segera masuk ke asrama.


Sepanjang jalan ke asrama, jari jemari Aish tidak pernah berhenti mengelus butiran-butiran tasbih yang ada di pergelangan tangannya. Aish tidak mau kehilangan benda ini sehingga dia membuatnya menjadi gelang. Dan karena tasbih ini terlalu panjang, Aish terpaksa memutarnya menjadi tiga bagian agar tidak jatuh dari tangannya.


Ini adalah barang pemberian habib Khalid pertama- tidak, mungkin yang ketiga setelah nasi goreng dan buku-buku itu. Tapi diantara ketiga barang ini, entah kenapa Aish merasa tasbih inilah yang paling spesial. Mungkin karena tasbih ini sangat harum, seolah-olah setiap butirannya telah direndam lama dalam wewangian bunga mawar.

__ADS_1


"Kalian masuk duluan yah. Aku mau ke kamar mandi sebentar." Tiba-tiba Gisel memecahkan pikiran Aish.


"Eh, aku temani yah?" Tawar Dira.


__ADS_2