Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 24.10


__ADS_3

Wajahnya tersipu malu, tapi perkataannya berbanding terbalik dengan rona merah di wajah. Nada suaranya sangat berambisi dan bertekad. Jawaban ini praktis membuat habib Khalid tersenyum lebar. Dia bahagia karena sang kekasih memberikan jawaban yang diharapkan.


"Inilah yang ingin aku dengar. Terima kasih karena bersedia." Wajahnya melembut, tatapan tajam di matanya mulai melunak digantikan oleh kelembutan yang lagi-lagi membuat Aish salah tingkah.


"Ngomong-ngomong, kak... Sebenarnya apa yang terjadi? Maukah kakak menceritakan ku?" Secara garis besar Aish sudah mendengar ceritanya, tapi dia menginginkan cerita versi dari kekasihnya daripada orang lain.


"Apa yang sebenarnya terjadi..." Habib Khalid meremat kuat tangan sang kekasih sembari membawa ingatannya pada waktu itu.


Sejujurnya dia juga sangat ketakutan.

__ADS_1


"Air yang kamu berikan memiliki obat terlarang di dalamnya. Aku curiga karena setelah meminumnya tubuhku tiba-tiba bereaksi aneh dan badanku mulai panas. Ada perasaan di mana aku ingin minum air sebanyak yang aku bisa untuk menghapus rasa haus di dalam tenggorokan ku. Tapi yang aneh adalah aku malah menginginkan kamu. Aku sangat menginginkan kamu, ini menyentuh kamu, ingin memeluk kamu, menjadikan kamu sebagai milikku seutuhnya. Perasaan ini terus menerus mendesak tubuhku agar bergerak dan memuaskan dahaga di dalam tubuhku. Dari sanalah aku mengetahui bahwa aku mungkin telah meminum sesuatu yang tidak baik jadi aku memutuskan untuk menghindari kamu meskipun aku sangat enggan. Ketika keluar dari ruang tamu aku berencana ingin beristirahat di kamar yang kita masuki terakhir kali. Karena panas tubuhku semakin trik, aku berpikir untuk mandi air dingin untuk mengusir rasa panas itu. Tapi saat aku berada di depan pintu kamar, aku mendengar suara seseorang di dalam. Dan itu adalah suara seorang wanita. Aku langsung menjadi was-was. Meskipun kepalaku pusing dan tubuh ku mulai lemas, aku tidak kehilangan akal dan seberusaha mungkin menjaga kewarasan ku agar tetap terjaga. Untuk berjaga-jaga dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aku menghubungi Pak Man, sopir pribadiku untuk segera datang ke rumah Umi. Selain memanggil dia, aku juga menghubungi Abah agar segera pulang ke rumah dan mengatakan telah terjadi sesuatu di rumah. Sambil menunggu kedatangan mereka, aku menyalakan rekaman video di ponselku sebagai bentuk persiapan bila sesuatu terjadi sebelum mereka datang. Untungnya mereka langsung ke rumah sebelum aku kehilangan kendali atas diriku sendiri. Rencananya setelah semua orang berkumpul aku ingin Umi membuka pintu kamar sebagai selaku pemilik rumah. Namun sebelum Umi bertindak, kamar tiba-tiba dibuka oleh Nadira. Tidak hanya Nadira saja yang ada di dalam sana tapi juga Aira yang sudah dalam keadaan bingung dan kehilangan akal. Nadira mengatakan bahwa dia mencurigai gelagat Aira saat di dapur sehingga dia memutuskan untuk mengikuti Aira masuk dalam kamar. Sungguh tak disangka Aira salah paham dan menganggap Nadira sebagai diriku. Lalu seperti yang kamu lihat, dia memeluk kaki Nadira sambil menuduhku akan menodainya. Jelas-jelas orang yang dia peluk Nadira, dan aku dari awal sampai akhir ada di luar kamar bersama sopir pribadiku serta Abah juga Umi. Harus ku akui Aish, diriku sangat ketakutan pada saat itu. Untungnya Nadira mengetahui rencana Aira sehingga aku terhindar dari fitnah. Aku berterima kasih atas bantuannya. Rencananya setelah keluar dari pondok pesantren, aku ingin mengajakmu untuk bertemu dengannya dan mengucapkan terima kasih secara langsung. Karena bantuan darinya, rencana Aira gagal." Hal yang paling tidak disangka adalah Nadira campur tangan di dalam masalah ini.


Saat di dalam dapur Nadira mendengar Aira berbicara dengan dirinya sendiri. Dia mengucapkan kata-kata yang kacau, menyalahkan Allah dan kadang berterima kasih kepada Allah, Nadira juga mendengar Aira menyebut-nyebut nama Aish dan menyalahkan Aish untuk beberapa hal yang tidak jelas. Dan yang lebih membuatnya merasa aneh ketika dia melihat wajah Aira menjadi merah terang dan berkeringat deras, padahal mereka belum berpisah selama 10 menit lamanya. Nadira khawatir terjadi sesuatu kepadanya. Mungkin saja dia sakit atau demam, jadi dia diam-diam mengikuti Aira.


Ketika Aira masuk ke dalam kamar tempat habib Khalid beristirahat, dia sangat marah. Jadi tanpa membuang waktu dia segera masuk ke dalam kamar hanya untuk mendapatkan dirinya dipeluk oleh Aira, sungguh lelucon!


Memang benar apa yang orang katakan, buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Sama seperti Bunda, sama seperti anak. Mereka berdua memiliki pikiran yang licik dan mengambil jalan yang sama pula. Kali ini Aish i tidak akan tinggalkan diam saja. Jika dia bertemu dengan Aira, maka dia tidak akan ragu memberikannya pelajaran agar jangan mengganggu habib Khalid lagi.


"Jangan terlalu dipikirkan. Semuanya adalah bagian dari takdir dari Allah subhanahu wa ta'ala. Karena masalah ini kita berdua mendapatkan pelajaran agar lebih berhati-hati lagi di masa depan. Dan Jangan menyalahkan diri sendiri, sayang. Semuanya sudah berlalu dan kita tidak kalah, bukankah ini yang lebih penting?" Ujar habib Khalid membujuk kekasihnya agar jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.

__ADS_1


Ini adalah takdir yang sudah digariskan, sungguh karena kebesaran Allah mereka berdua bisa melewatinya dan menyelamatkan hubungan mereka berdua. Tidak ada yang lebih penting dari hal ini.


"Aku mengerti, kak. Aku hanya marah saja melihat kakak dizolimi. Aku juga marah karena hampir saja kehilangan kakak." Kata Aish menurunkan nada suaranya.


Cukup kehilangan Mamanya, sisanya dia tidak ingin kehilangan siapapun yang mencintainya dalam hidup ini.


"Jangan marah, jangan sia-siakan emosimu untuk orang-orang seperti ini. Untuk membalas mereka, kita tidak perlu menggunakan emosi dan menyakiti diri sendiri. Percaya kepadaku, udah pasti menyesali perbuatannya. Aku janji." Janji habib Khalid dengan senyum miring di wajahnya.


Padahal dia sudah berusaha menoleransi Aira karena dia adalah adik Aish, bahkan sejahat apapun kesalahannya di masa lalu. Namun sekarang dia sudah keterlaluan, kejahatannya tidak bisa diselesaikan dengan sepatah kata maaf karena tidak akan meninggalkan efek jera apapun kepada pelaku kejahatan. Orang seperti Aira harus mendapatkan sanksi yang tegas. habib Khalid sama sekali tidak keberatan mengirim Aira ke penjara, udah sudah sangat keram dengan perilaku gadis kejam ini.

__ADS_1


__ADS_2