Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 7.6


__ADS_3

Sembilan hari ujian dilewati begitu saja dengan warna hidup yang tidak monoton. Bila sebelumnya hari-harinya akan sepi maka di sini berbeda karena dia memiliki Dira dan Gisel. Lalu juga ada teman-teman kamar yang lain. Mereka dengan sukarela membantu mereka bertiga belajar. Padahal teman-teman kamar jauh lebih sibuk dari mereka bertiga namun dengan tulus mau membantu.


Aish sangat berterikasih. Perlahan di tidak lagi canggung berbicara dengan semua orang di dalam kamar. Tentunya, ini dengan premis jika beberapa orang tidak mengganggunya.


Sekarang sudah sembilan hari berlalu bersamaan dengan ujian yang usia. Aish tidak pernah menyangka bila tempat yang sempat ia benci ini tiba-tiba menjadi tempat yang nyaman untuk dirinya. Dan dia tidak menyangka sudah lebih dari setengah bulan dirinya menetap di tempat ini. Dia pikir tidak akan tahan lama tapi faktanya, dia tidak hanya tahan tapi dia juga agak enggan pergi.


"Hah..." Dia menghela nafas panjang.


Semenjak malam itu dia belum pernah bertemu lagi dengan habib Khalid. Tidak hanya dia tidak bertemu, habib Khalid juga tidak pernah muncul dimana-mana, seolah-olah dia telah menghilang ditelan bumi.


Sejujurnya jika mereka bertemu lagi dia ingin mengucapkan terima kasih kepada habib Khalid karena bukunya sangat membantu. Teman-teman kamar yang membantunya belajar pun langsung jatuh cinta dengan semua catatan habib Khalid karena catatannya mudah dipahami dan sangat rinci walaupun ringkas.


Jika mereka tidak ujian, maka mungkin mereka akan berlomba-lomba meminjam catatan itu untuk disalin.


"Besok kita semua libur. Katanya ada acara panen raya di kebun pondok dan semua orang harus berpartisipasi." Desah Dira di sampingnya.


Dira tidak terlalu tertarik untuk bermain lumpur.


"Hem, aku dengar." Aish tidak tertarik juga.


"Reaksi mereka sangat antusias." Heran Gisel melihat teman-teman kamar mereka sangat heboh setelah mendapatkan pemberitahuan dari staf pondok.


"Mereka kebanyakan belajar jadi butuh hiburan." Ujar Aish asal.


Saat mereka sedang mengobrol ringan, tiba-tiba sebuah ketukan pintu ringan di luar terdengar. Perhatian semua orang langsung teralihkan saat melihat Nasha masuk ke dalam kamar.


"Assalamualaikum?" Salamnya sopan dan hangat.


"Waalaikumussalam. Kak Nasha bawa kabar apa lagi ke sini?" Salah satu santriwati bertanya.

__ADS_1


Nasha menggelengkan kepalanya. Matanya menyapu wajah semua orang hingga berhenti tepat di sebelah kanan pojok. Di sana Aish, Gisel, dan Dira sedang duduk bersama.


Alis tegang Nasha langsung mengendur. Bibir tipisnya lalu membentuk garis senyuman yang lembut nan hangat.


"Tidak, aku di sini karena perintah ustazah. Dia memerintahkan ku untuk memanggil orang yang bernama Aisha Rumaisha, Dira Klarisa, dan Gisel Permatasari ke kantor staf." Jelas Nasha kepada semua orang.


Sekarang perhatian semua orang tertuju kepada Aish dan kedua temannya. Mereka melihat mereka dengan ragu.


"Untuk apa mereka ke kantor, kak?" Tanya salah satu gadis ragu-ragu.


Sebagai teman kamar seperjuangan di pondok ini, dia tidak mau terjadi sesuatu dengan Aish dan kedua temannya. Bahkan kalaupun terjadi, mereka akan datang membantu.


Nasha tersenyum lembut.


"Jangan khawatir. Mereka dipanggil untuk menyelesaikan masalah yang habib Thalib tangani sebelumnya." Nasha mengindikasikan tidak akan terjadi apa-apa kepada Aish dan kedua temannya.


"Kami akan segera pergi, kak." Aish tiba-tiba teringat bila masalah ini belum sepenuhnya usai.


"Baiklah, ayo ikut aku." Nasha bersyukur Aish tidak membuat masalah.


Nasha langsung memimpin jalan sementara Aish serta dua lainnya mengikuti dari belakang. Perjalanan menuju ke kantor staf ditempuh hampir sepuluh menit dengan berjalan kaki karena kantor staf berada di depan pondok sedangkan asrama mereka ada di belakang pondok. Jadi bisa dibayangkan seberapa jauh jarak yang harus mereka lewati agar sampai ke kantor staf.


Sesampai mereka di kantor staf, Nasha membawa mereka masuk ke dalam sebuah layanan staf. Di dalam ruangan itu ada 5 wanita berbagai usia dengan meja penuh dokumen di posisi masing-masing.


Semua orang terlihat jauh lebih sibuk dari yang Aish bayangkan. Tidak ada satupun staf wanita yang menganggur di sini. Mereka semua terlihat serius tugas masing-masing.


"Assalamualaikum, ustazah?" Salam Nasha penuh rasa hormat kepada seorang wanita dewasa di meja yang paling kiri, meja kerja yang berhadapan langsung dengan pintu masuk ruang layanan staf.


Wanita itu tidak terlalu tua juga tidak terlalu muda. Bila dilihat dari wajahnya, usianya mungkin baru menginjak kepala 4.

__ADS_1


Perhatian ustazah pada catatan di atas meja teralihkan. Dia mengangkat kepalanya melihat Nasha, sedetik kemudian bibirnya membentuk senyuman lebar.


"Waalaikumussalam. Masya Allah, kak Nasha kerjanya sangat efisien." Puji ustazah menggoda salah satu anak buahnya.


Nasha adalah kebanggaan asrama putri dan sangat disukai oleh para staf kantor. Selain cerdas, salah satu poin yang membuat banyak orang menyukainya adalah sikap ramahnya kepada semua orang. Dia mudah bergaul, pemalu diwaktu yang tepat, dan sangat penyabar dalam menghadapi beberapa masalah di pondok. Maka wajar saja dirinya diidolakan banyak orang terlepas usia mereka.


"Bu ustazah bisa aja. Nasha udah bawa orang-orang yang Ibu minta." Nasha kemudian meminta Aish dan dua temanya untuk menyapa ustazah.


Mereka bertiga hanya menyapa seadanya karena sudah bosan melihat interaksi sok hangat kedua orang ini. Sempat menyesali datang ke sini tapi apalah daya, waktu tak bisa diputar kembali.


"Kalian bertiga bisa duduk."


Akhirnya setelah sekian abad penantian, mereka bertiga diperhatikan juga. Aish, Gisel, dan Dira secara kompak duduk di atas kursi dengan senyuman enggan di bibir.


"Siapa yang bernama Aish?" Tanya Ustazah kepada mereka bertiga.


"Itu aku."


Fokus ustazah segera berpindah ke Aish. Dia menatap Aish dengan pandangan penilaian.


"Masalah Khalisa sudah ditangani pihak pondok. Selain dikeluarkan dari staf kedisiplinan asrama putri, dia juga kehilangan 25 poinnya dan harus membayar denda sebesar 300 ribu ke pondok. Dengan segala sanksi yang Khalisa dapatkan dari masalah ini, aku harap kamu tidak memprovokasinya lagi. Kamu harus tahu bila tidak semua orang bisa kamu ganggu di tempat ini dan kamu juga harus berusaha mengubah gaya hidup mu yang buruk setelah tinggal di sini. Meskipun-"


"Maksud Ibu apa ngomong gini ke aku?" Potong Aish tidak sopan.


Dia marah karena semua kata-kata yang keluar dari mulut wanita ini mengindikasikan bahwa dia adalah orang yang pertama membuat masalah ke Khalisa. Malah kebalikannya. Khalisa lah yang selalu mencari gara-gara kepadanya.


"Tenang, jangan mudah emosi." Ustazah berbicara lembut sambil membujuk Aish agar jangan marah.


"Gimana teman kami enggak marah kalau kata-kata Ibu sendiri enggak benar. Yang salah di sini Khalisa, tapi kenapa Ibu menuduh Aish memprovokasi Khalisa?!" Cibir Dira ikut marah.

__ADS_1


Sungguh lucu. Wanita ini sepertinya memperlakukan mereka sebagai pasien sakit jiwa.


Dimatanya, apa mereka sebodoh itu?


__ADS_2