Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 19.2


__ADS_3

Aish tertegun, bola matanya seketika membesar lupa berkedip ketika melihat wajah tampan sang habib. Pesona itu bak sihir yang langsung menghantam pertahanan paling rapuh Aish di dalam hatinya.


"Mau tau?" Tanya sang habib mengulangi pertanyaannya.


Melihat Aish yang terpaku melihatnya tanpa bisa berbicara merupakan kebanggaan tersendiri di dalam diri sang habib.


"Ah... aku mau tahu, kak. Maksud kakak apa ya?" Dia langsung tersadar. Wajahnya gelagapan malu karena ketahuan melamun di depan sang habib.


"Rahasia." Ucap sang habib tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.


"Ya?" Dia belum ngeh.


"Ini rahasia." Tekan sang habib sembari mundur satu langkah.


Langkah sang habib begitu alami. Tidak ada ekspresi panik ataupun gugup di wajahnya seolah takut dilihat oleh orang lain. Walaupun jarak mereka sekarang membesar, akan tetapi senyuman lembut sang habib yang tidak pernah pudar selalu memberikan ilusi bahwa mereka berdua tidak memiliki jarak.


Perasaan ini sungguh manis. Aish bertanya-tanya di dalam hatinya mungkin inilah yang orang-orang rasakan ketika sedang jatuh cinta.


"Kenapa rahasia?" Mau tak mau dia bertanya.


Memalingkan wajahnya menatap hamparan langit di atas sana, sang habib lalu menjawab dengan suara rendah.


"Kenapa? Memang begitulah aturannya. Kalau aku mengatakannya sekarang, maka yang halal akan jatuh menjadi haram. Tetapi suatu hari nanti... kamu pasti akan tahu."

__ADS_1


Dia diam membisu. Bukan karena dia tidak mengerti maksud dari pembicaraan sang habib, tidak, dia mengerti apa maksudnya. Ini adalah sebuah rahasia. Namun dia tidak memahami sama sekali apa yang sang habib katakan. Satu hari nanti, halal menjadi haram dan sebuah aturan yang tertulis. Tak satupun dari kata-kata ini yang dipahami oleh Aish.


Hanya saja dia tidak berani bertanya. Hatinya memang penasaran. Tapi ini adalah sebuah rahasia dan sang habib enggan mengatakannya. Maka dari itu dia menghormati keputusan sang habib.


"Nasha, bawa mereka bertiga kembali ke asrama. Hukuman hari ini cukup sampai disini saja. Terlepas dari hukuman ini bukan berarti kalian bertiga bebas. Karena aku berencana membicarakannya dengan Abah untuk mengalihkan hukuman kalian bertiga. Mungkin butuh satu atau dua hari untuk konfirmasi lanjutannya, jadi kalian tunggu saja kabar dari Nasha."


Aish, Dira dan Gisel langsung menghalang nafas lega mendengar apa yang habib Khalid katakan. Tidak ada yang lebih melegakan dari kabar baik ini. Berpisah dari apa yang paling di benci, dirasa sudah sepatutnya mereka berbahagia.


"Tapi Aish," habib Khalid tiba-tiba teringat sesuatu.


Telinga mereka bertiga langsung berdiri berniat menguping dengan jelas apa yang habib Khalid katakan kepada Aish. Terutama untuk Nasha sendiri, orang yang paling terkejut melihat betapa dekatnya mereka berdua.


"Ya, kak?" Aish dengan senyum malu-malu menatap sang habib. Kiranya sang habib selalu mengatakan hal-hal manis kepadanya, jadi dia sudah mempersiapkan hatinya agar tidak terlalu terguncang.


Seolah mengirimkan air dingin atas angan-angannya, sang habib lalu berkata,"Jangan lupa setoran hafalanmu beberapa hari lagi."


Ekspresi cemberut Aish agak menggelikan. Entah mengapa kedua tangan sang habib gatal ingin mencubit pipi chubbynya yang merona terang.


"Pasti, kak. Aku pasti tidak akan melupakannya." Aish tersenyum kering.


Ah, ini sangat memalukan. Bisa-bisanya dia berangan-angan di depan sang habib. Untung saja sang habib tidak bisa bertelepati atau membaca pikirannya, jika iya, mau ditaruh di mana mukanya sekarang?


"Bagaimana dengan kami habib Thalib? Apakah kami juga harus setor hafalan seperti Aish?" Dira dengan bodohnya bertanya.

__ADS_1


Cakar-cakar Gisel langsung mengambang di udara, gemas ingin menarik telinga sahabatnya itu. Tugas ini hanya ditujukan kepada Aish seorang. Jadi inilah alasan kenapa beberapa waktu ini Aish sering mojok sendirian sambil memegang mushaf Alquran. Tapi Dira, ya Allah. Untuk apa menanyakan ini? Bukankah tugas mereka menghafal di sekolah saja sudah cukup membuat pusing? Masa mau nambah lagi tugas dari sang habib?


Habib Khalid berkedip ringan dan menjawab dengan nada suara yang sangat rendah hati,"Ambillah. Kalian bertiga menghafalkan juz amma dan menyetornya beberapa hari lagi di rumah Umi. Ini adalah tugas langsung dariku, harapanku kalian bisa menghafal dengan lancar sepenuhnya seluruh surat yang ada di dalam juz amma. Bila kalian mengecewakanku, maka aku tidak keberatan memberikan hukuman kepada kalian."


Dira tercengang di tempat. Dan dia baru menyadari jika tugas ini sebelumnya bukan untuk mereka melainkan hanya untuk Aish seorang. Bodohnya lagi dia malah bertanya yang sama saja meminta!


Apakah waktu bisa diputar lagi? Batinnya menangis.


"Terima kasih, kak Khalid. Kami berjanji akan menyelesaikan tugas ini dan tidak mengecewakan kak Khalid." Aish buru-buru berterima kasih sebelum Dira mengatakan kata-kata penolakan. Dan jauh dari dalam hatinya dia sangat berterima kasih kepada sahabatnya yang pintar dan cerdas ini, jika bukan karena pertanyaannya yang sangat jenius sebelumnya, maka hanya dirinyalah yang akan menderita menghafalkan juz amma sendirian. Sekarang mereka bertiga melakukan bersama-sama dan penderitaan ini pun dirasakan bersama-sama, sungguh, persahabatan ini sangat dalam.


"Aku...aku..." Dira melihat Aish dan Gisel dengan ekspresi tertekan di wajahnya.


"Bagus. Sekarang kembalilah ke asrama kalian dan jangan sampai masuk angin. Tunggu konfirmasi selanjutnya dariku melalui Nasha. Jika sudah diputuskan hukuman apa yang akan kalian dapatkan untuk menebus hari ini, Nasha akan datang mencari kalian bertiga. Semuanya sudah jelas dan aku pikir tidak ada yang perlu ditanyakan lagi, kalau begitu aku akan pindah ke petak sawah selanjutnya untuk terus mengawasi pekerjaan Khalif, assalamualaikum." Setelah memberikan beberapa kata-kata nasehat, habib Khalid kemudian undur diri.


"Kalian bertiga sangat beruntung, jarang habib Thalib berbelas kasih kepada santri yang sedang menjalani hukuman." Nasha menatap iri mereka bertiga.


Terlebih lagi kepada Aish, gadis ini sangat beruntung.


Dira mendengus tidak setuju,"Apanya yang berbelas kasih, aku semakin pusing setelah mendapatkan tugas baru lagi dari habib Thalib. Coba pikirkan, kami harus mendapatkan tugas menghafal dari sekolah dan dari ustadzah di masjid, lalu sekarang ada habib Thalib lagi yang menambah tugas hafalan kami? Aku merasa bahwa aku akan gila." Dira mengeluh kepada Nasha dan yang lainnya.


Sekolah di pondok pesantren itu benar-benar tidak mudah. Selain mereka harus beradaptasi dengan aturan serta pelajaran-pelajaran yang tidak mereka ketahui dan belum pernah mereka dengar sebelumnya, mereka juga didorong menghafal Alquran. Masalahnya, setoran hafalan di sekolah dan setoran hafalan di masjid berbeda sehingga mereka harus berjuang keras menyisihkan waktu mereka untuk menghafal. Di sekolah mereka diminta untuk menghafalkan isi kitab yang masih sulit dibaca oleh mereka bertiga. Dan di masjid mereka diminta untuk menghafalkan ayat-ayat Alquran. Tak jarang mereka tidak bisa bermain atau beristirahat dengan tenang karena sibuk menghafal, dan sekarang ada tugas tambahan lagi dari sang habib. Dia sangat menyesalinya.


Bersambung...

__ADS_1


Absen yuk, pembaca darimana aja?


Nanti kalau ada daerah yang sama dengan saya, insya Allah saya akan up lagi🤭


__ADS_2