Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 22.12


__ADS_3

Cklak


Seorang laki-laki tinggi dan tampan masuk ke dalam sebuah ruangan yang didekorasi hangat khusus tempat banyak berkumpul. Di dalam ruangan itu ada seorang laki-laki paruh baya yang ditemani oleh seorang sopir pribadi dan asisten. Melihat dari wajah kelelahan mereka bertiga, tampaknya mereka bertiga baru saja sampai ke sini.


Ketika laki-laki dan tampan itu masuk ke dalam ruangan, obrolan mereka bertiga langsung terhenti. Semua orang spontan mengangkat kepala ke arah pintu masuk, memandangi pemuda tinggi yang kini tengah berdiri di hadapan mereka dengan rasa penasaran dan ingin tahu tertulis di wajah. Sementara pemuda itu menatap mereka dengan wajah datar, tidak rendah hati juga sombong, perbandingan terbalik dengan usianya yang masih hidup.


Tangan laki-laki paruh baya itu menegang. Mata tuanya menatap lekat pemuda itu. Terakhir kali mereka bertemu adalah 5 tahun yang lalu-ah, tidak. Itu beberapa bulan yang lalu ketika rumahnya dikunjungi. Saat itu dia tidak dapat mengenal pemuda ini karena dia terlihat sangat berbeda. Dan 5 tahun tidak melihatnya, laki-laki paruh baya itu langsung merasakan perubahan besar yang terjadi kepada pemuda ini. Sekali pandang dia langsung tahu bahwa karakter pemuda ini tidak biasa dan tidak mudah disinggung. Dia baru memperhatikannya sekarang.


"Assalamualaikum...kakek." Salam pemuda itu sopan sembari meraih tangan tua laki-laki paruh baya yang masih tidak melepaskan mata darinya.

__ADS_1


"Habib Thalib...wa..waalaikumussalam." Kakek, orang yang beralasan pergi ke luar kota untuk melakukan perjalanan bisnis nyatanya pergi ke pondok pesantren untuk bertemu langsung dengan habib Khalid.


Dia langsung berdiri tanpa melepaskan tangan habib Khalid. Berjalan selangkah dan memeluk tubuh kuat pemuda tinggi itu. Habib Khalid tersenyum lembut sambil membalas pelukan kakek. Sesungguhnya diantara anggota keluarga di rumah itu, mungkin satu-satunya orang yang dihormati oleh habib Khalid adalah kakek. Sebab kakek tidak pernah meninggalkan sisi Aish. Dia berusaha menggantikan figur Ayah dan Mama untuk kekasihnya yang diperlakukan tidak adil di dalam rumah itu.


"Sudah beberapa bulan terakhir kali kita bertemu, kenapa aku merasa kakek jauh lebih kurus? Jika Aish mengetahuinya, dia pasti sangat sedih." Habib Khalid membantu Kakek duduk kembali di sofa dan bersalaman dengan ramah kepada dua orang lainnya yang telah jauh-jauh mendampingi Kakek datang ke sini.


Tapi dia tidak menyembunyikan masalah tubuhnya di depan habib Khalid. Sebab di masa depan nanti habib Khalid merupakan orang yang akan menggantikan tugasnya menjaga dan melindungi Aish dalam hidup ini.


"Nak, usiaku sudah tidak muda lagi. Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu. Tubuhku sudah ringkih, dan penyakit jantung ku kebal terhadap obat-obatan. Aku merasa waktuku hampir saja tiba, maka dari itu aku segera bergegas ke sini. Selain itu aku juga mendengar dari Aira bila ada seorang wanita asing yang mengungkit masalah nasab. Kupikir keluarga Mama Aish akhirnya datang. Dengan kedatangan pihak keluarga Mama Aish, tak mungkin aku diam saja-"

__ADS_1


"Kakek, tenanglah. Bernafas lebih lambat." Nafas Kakek mulai terputus-putus karena rangsangan emosi. Jika dibiarkan seperti ini penyakit Kakek akan kambuh.


"Habib Thalib, usia cucuku sudah 18 tahun." Bukannya mendengar apa yang habib Khalid katakan, dia malah mengungkit usia Aish.


Habib Khalid langsung terdiam. Mata gelapnya menatap Kakek tanpa berkedip.


"Benar." Jawabnya membenarkan.


Lalu Kakek tersenyum lega,"Maka sudah saatnya."

__ADS_1


__ADS_2