
Saat itu Gisel adalah satu-satunya sahabat yang dia miliki, satu-satunya orang yang paling dekat dengannya. Dia tidak menyangka bila sahabatnya itu akan menusuknya hanya demi seorang laki-laki. Dia sangat kecewa tapi juga sedih karena setelah Gisel pergi, dia berpikir bahwa dia tidak akan memiliki teman lagi.
"Tidak Aish...aku orang yang jahat, aku tega mengkhianati mu dan merebut orang yang kamu cintai-"
"Enggak, Gis. Aku enggak pernah cinta sama Iyon dan aku menerimanya karena aku bosan dikejar terus olehnya. Sejujurnya daripada pacar, aku malah menganggapnya sebagai teman dan orang kepercayaan ku saat itu. Karena itulah aku sangat kecewa kepadamu dan dia waktu itu, sebab dua orang yang ku percayai ternyata diam-diam meninggalkan ku.." Bantah Aish tidak pernah menyukai Iyon.
Gisel tampak kaget. Mulutnya terbuka karena shock.
Aish tersenyum kecil, matanya kembali menatap luasnya langit yang perlahan mulai mendung. Angin yang sejuk kini membawa rasa kelembapan ketika menyentuh wajahnya.
"Gisel, aku sudah memaafkan mu sejak kita mulai berbicara lagi di pondok ini. Aku pikir tidak ada salahnya berteman lagi. Terus terang aku juga bersyukur bisa terlepas dari Iyon sejak kejadian itu dan aku bahkan lebih bersyukur lagi kamu juga ada di sini, jauh dari Iyon. Karena Gisel, kamu harus tahu bila Iyon bukanlah laki-laki yang baik. Dia tidak mau bertanggung jawab kepadamu selepas kejadian itu. Itu adalah bukti bahwa dia tidak pantas kamu perjuangkan. Gisel ayo lupakan masa lalu...kita di sini ada aku, kamu, dan Dira yang sama-sama berjuang dengan penderitaan dan keluhan masing-masing di masa lalu. Aku tidak ingin kita berpisah atau saling membenci dan aku juga telah bangkit dari masa lalu itu. Sekarang aku malah berharap bila kalian berdua mau menerimaku sebagai sahabat kalian, saudara kalian, dan sebagai tempat untuk berbagi keluh kesah. Aku berharap bahwa kita akan selamanya tetap bersama-sama melalui semua cobaan di tempat ini bersama-sama... " Aish melihat mereka dengan ragu-ragu dan bertanya,"Tidakkah kalian pernah berpikir seperti ini?"
Aish bukanlah gadis yang romantis, suka berbicara puitis, atau mengungkapkan kata-kata yang manis. Tidak, Aish bukanlah gadis yang seperti itu.
Mungkin karena telah kekurangan kasih sayang dari kecil dia menumbuhkan karakter yang suram, acuh, jutek, dan terkesan dingin. Karena karakter yang dia kembangkan ini dirinya sulit berkomunikasi dan menjalin pertemanan. Sebab dia bukanlah orang yang pandai berkomunikasi.
Dan semua kata-kata ini adalah ungkapan terdalam hatinya. Dia menginginkan kedamaian setelah mengenal suasana pondok yang nyaman dan tenang. Dia menginginkan sebuah hubungan yang baik antar teman setelah melihat interaksi teman-teman kamarnya yang baik dan sopan.
Dia pikir tinggal di sini bukanlah sesuatu yang buruk dan malah memberikannya sebuah pelajaran bahwa tempat ini adalah sekolah terbaik untuk hatinya yang sakit serta membutuhkan perawatan.
"Aish..." Dira tiba-tiba memeluknya, memeluk Aish seerat mungkin seolah takut kehilangannya.
Melihat Dira memeluk Aish, Gisel juga tak mau ketinggalan. Dia ikut memeluk Aish. Alhasil mereka bertiga berbagi kehangatan dengan wajah basah yang sangat tidak mendukung!
Mereka tidak perlu berbicara.. cukup pelukan ini menjadi bukti bahwa mereka tidak lagi sekedar teman, tapi juga sahabat dan saudara yang disatukan oleh kelembutan hati.
__ADS_1
"Akhirnya aku memiliki sahabat yang tulus... akhirnya aku memiliki saudara-saudara yang baik..." Aku tidak kesepian lagi. Bisik Dira di dalam hatinya.
Aish dan Gisel saling memandang, lalu tertawa bersama mendengar perkataan Dira.
Dira merajuk,"Jangan tertawa."
Aish tidak bisa berhenti tertawa. Wajah basahnya yang memerah terlihat sangat menyilaukan di bawah pantulan cahaya matahari yang mulai meredup karena langit mulai mendung.
Dira sangat malu. Namun lama kelamaan dia juga ikut tertawa, aneh, entah apa yang mereka tertawakan. Suara tawa mereka sangat hidup dan cerah yang tampak harmonis dengan suara air aliran sungai yang terus bergerak sebanyak apa batu besar menghalangi.
****
Waktu dzuhur akhirnya masuk. Aish kebetulan sedang berhalangan sejak tadi subuh jadi dia tidak ikut sholat.
Mumpung hari ini masih libur, Aish berkata untuk tinggal di sini dan tidak akan ikut makan siang bersama kedua sahabatnya.
Aish hanya tersenyum dan mengiyakannya dengan santai.
Sekarang tinggallah Aish seorang di sini karena kedua sahabatnya telah pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah.
Dia sedang berhalangan dan tidak ingin terlalu banyak bergerak. Perutnya juga agak keram yang membuatnya sangat malas melakukan apapun. Namun ketika matanya menangkap air jernih sungai, Aish tiba-tiba tergoda untuk merendam kakinya di dalam air.
Aish melepaskan alas kaki dan kaus kakinya. Dengan bertelanjang kaki, dia membawa kakinya perlahan turun berjalan diantara batu-batu pinggir sungai. Dia sangat berhati-hati pada awalnya karena takut terpeleset.
Akan tetapi matanya tiba-tiba terkecoh ketika melihat ikan besar berenang di dalam sungai, karena terlalu shock kakinya mengambil langkah yang salah dan terpeleset jatuh ke dalam sungai.
__ADS_1
"Agh!"
Tubuhnya limbung ke depan, Aish sudah pasrah dan mengira dia akan basah kuyup. Namun sebelum badannya menyentuh air sungai, sebuah tangan tiba-tiba menahan lengan dan pinggangnya agar tidak kehilangan pijakan.
Aish membeku. Dia menatap kosong air sungai di bawahnya. Hampir, hampir saja dirinya jatuh ke sana dan basah kuyup. Jika dia tidak berhalangan sih tidak apa-apa, Aish tidak takut jatuh. Tapi masalahnya sekarang adalah dia sedang berhalangan. Bila jatuh semuanya akan jadi bencana untuknya.
"Hufth...." Aish kemudian menegakkan punggungnya sambil menghela nafas lega.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Dia baru saja menegakkan punggungnya dan hampir limbung ke depan lagi saat mendengar suara bernada rendah itu.
Kaget, Aish menoleh shock ke samping dan bertemu dengan mata gelap habib Khalid.
Bug!
Aish langsung jadi grogi berada dengan jarak sedekat ini bersama habib Khalid. Belum lagi lengan kanan dan pinggangnya yang dipegang habib Khalid, badan Aish langsung terasa panas dingin.
Dia pikir ini mimpi bisa sedekat ini dengan sang habib, melihat bulu mata panjangnya yang bergetar ringan ketika berkedip, lalu turun ke puncak hidungnya yang seakan telah dipahat hati-hati sebelum jatuh ke bibirnya yang fleksibel- jangan dilihat!
Aish sangat ketakutan. Dia tidak berani menatap bibir habib Khalid karena otaknya tidak bisa berpikir dengan normal. Takutnya dia memikirkan hal yang aneh-aneh!
"Aish? kamu enggak geger otak, kan?" Tanya habib Khalid bercanda.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke novel Mahram Untuk Azira 💕