Mengejar Cinta Sang Habib

Mengejar Cinta Sang Habib
Bab 18.2


__ADS_3

"Aku khawatir aku tidak bisa melakukan ini. Ayah tidak akan pernah setuju jika mendengarnya karena uang itu adalah uang Aish. Terserah Aish mau melakukan apa terhadap uang itu karena itu memang miliknya sejak dari awal." Ayah menolak untuk membantu.


Semua orang lega mendengarnya kecuali bibi Melati dan suaminya.


Suami bibi Melati lalu berbicara,"Kakak tolong bantu kami, jangan ceritakan masalah ini kepada Ayah, karena kami tahu bahwa dia tidak akan setuju. Oleh sebab itu kami meminta bantuan kepadamu selaku Ayah dari Aish."


Ayah juga tahu kesulitan adik dan iparnya ini. Tapi itu adalah uang putrinya dan dia ragu Aish mau membantu.


"Baiklah, nanti saat aku bertemu dengannya di pondok pesantren aku akan membahas masalah ini. Apapun keputusan yang Aish berikan kalian harus menerimanya." Ayah tidak langsung setuju dan menyerahkan masalah ini kepada Aish.


Bunda dari awal sampai akhir tidak mengatakan apa-apa tapi sorot matanya jelas menunjukkan bahwa dia tidak setuju. Dia tahu betul seperti apa iparnya itu. Berjanji mengembalikan uang setelah


Aish benar-benar dewasa?


Bermimpilah! itu tidak akan terjadi. Mereka pasti akan menunda-nunda atau menggunakan berbagai macam alasan untuk tidak mengembalikan uang Aish.


Tapi dia tidak bisa mengatakan apa-apa sekarang di sini.


Setelah menyelesaikan makan siang, semua orang kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Bunda dan Ayah tidak langsung tidur siang. Mereka baru saja selesai makan siang dan memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kamar.


"Mas..." Panggil bunda ragu-ragu.


"Ada apa?" Ayah melirik istrinya.


Bunda menggigit bibirnya gugup, dia ragu berbicara sebenarnya, tapi demi putrinya dia tetap membuka mulutnya untuk berbicara.

__ADS_1


"Aku pikir uang itu sebaiknya jangan diberikan kepada Melati dan suaminya. Aku lebih setuju jika uang itu diberikan kepada Aira karena Aish adalah kakaknya. Mereka bersaudara dan sudah seharusnya mereka saling berbagi satu sama lain untuk mempererat hubungan mereka."


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bunda, langkah Ayah langsung berhenti. Dia menoleh ke arah Bunda dan menatap Bunda dengan ekspresi tidak percaya.


"Apa kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan tadi?" Tanya Ayah muram.


Bunda menutup mulutnya ketakutan melihat ekspresi muram di wajah Ayah.


"Apa kamu pikir Aish akan memberikan uang itu kepada Aira? kepada adik yang telah menjadi duri di dalam hatinya? Ketahuilah istriku, dia tidak akan melakukannya bahkan walaupun kamu memaksa, memohon, meminta dan bersujud kepadanya, Aish tidak akan pernah melakukan itu! Baginya kamu dan aku adalah orang yang telah menghancurkan pernikahan Mamanya, dan baginya Aira adalah benih duri di dalam hati. Apa kamu tidak melihat betapa bencinya Aish kepada Aira? Karena kebenciannya itu dia hampir saja membunuh Aira, memberikannya obat-obatan terlarang hingga masuk ke dalam rumah sakit! Coba pikirkan dengan hubungan yang begitu buruk apakah dia mau membagi uang itu kepada Aira?" Cecar Ayah tidak mengerti.


Bagaimana bisa istrinya menginginkan uang yang ada di tangan Aish?


Uang itu adalah milik Aish dan hak Aish!


"Aku...aku nggak bermaksud begitu, mas. Aku pikir karena Aira adalah saudaranya maka dia lebih berhak mendapatkan uang itu daripada Melati dan suaminya." Bunda dengan tergagap menjelaskan.


"Uang itu hanya berhak dimiliki oleh Aish. Jangan lupa istriku bila uang itu adalah uang dari Mamanya Aish. Uang yang disiapkan oleh Mamanya Aish untuk masa depan Aish ke depannya. Siapapun di rumah itu tidak berhak mengambil uang itu tanpa persetujuan dari Aish. Masalah Melati dan suaminya, itu juga terserah Aish. Jika Aish mau memberikannya maka uang itu akan dipinjamkan kepada mereka, tapi jika Aish tidak mau maka masalah selesai. Mereka tidak bisa memaksanya. Jadi berhentilah memikirkan masalah uang ini dan lupakan, itu adalah uang Aish dan bukan milik kita. Baiklah, sudah cukup! Aku lelah dan aku tidak ingin berbicara lagi." Ayah tidak mau memperpanjang pembicaraan ini lagi. Dia langsung pergi ke kamar mandi tanpa menunggu respon dari istrinya.


Sementara itu Bunda terduduk lesu di atas sofa tidak mampu berkata-kata. Dia tahu uang itu memang milik Aish dan diberikan oleh almarhum Mamanya, tapi setiap kali memikirkan sebanyak apa uang yang ada di tangan Ais ditambah dengan pemberian dari Ayah mertuanya, Bunda selalu merasa tidak rela dan berpikir bahwa Aira juga harusnya mendapatkan bagian dari uang itu. Tapi jika suaminya sudah berbicara seperti ini maka dia tidak punya jalan apapun untuk meminta uang dan hanya bisa pasrah saja.


"Putriku sangat malang." Gumamnya sedih.


...*****...


"Dira, kami dengar kamu sempat berdebat dengan sayid Khalif di ruang sidang tadi, apakah benar?"

__ADS_1


Setelah selesai melapor ke Nasha, mereka langsung kembali ke kamar untuk beristirahat dan langsung dikerubungi oleh teman-teman kamar yang lain. Mereka sangat penasaran dengan hasil sidang tadi pagi, tapi mereka tidak bisa melihatnya karena mereka harus pergi ke sekolah.


Dira melambaikan tangannya tidak perduli dengan hukuman besok karena mereka cuma dihukum satu hari sedangkan Khalif mendapatkan 2 hari masa hukuman dan 30 kali hukuman cambuk dari Abah.


"Iya, orang itu sangat menyebalkan. Dia kan laki-laki, tapi kenapa mulutnya seperti bebek Mandarin?" Cela Dira masih menyimpan dendam.


Gara-gara Khalif memanggilnya gorila betina di ruang sidang tadi, sekarang teman-teman kamarnya ikut memanggilnya gorila betina. Tidak hanya teman-teman kamarnya dan mungkin para santriwati lainnya juga ikut memanggilnya gorila betina. Dira merasa bila Khalif semakin tidak enak dipandang.


"Dira hati-hati, Khalif adalah sayid. Kamu tahu kan sayid itu siapa?" Temannya mencegah Dira berbicara buruk lagi tentang Khalif.


Dira merasa tidak nyaman.


"Tahu kok, dia juga keturunan Rasulullah Saw, kan?" Kata Dira cemberut.


"Nah, kalau kamu tahu lebih baik kontrol mulutmu berbicara yang buruk-buruk tentang Khalif mulai dari sekarang. Konsekuensinya akan sangat besar jika kita menyakitinya." Kata teman yang lain ikut berbicara.


Dira juga tahu aturan ini tapi mau bagaimana lagi Khalid sudah terlanjur membuatnya gedek!


"Huh, terserahlah!" Dia tidak ingin berbicara lagi.


"Aku heran deh, masa iya gara-gara kamu memergoki sayid Khalif menyusup ke sekolah dia jadi dendam sama kamu, pakai acara fitnah segala, subhanallah 30 cambukan itu tidak terkira sakitnya."


Dira juga tidak mengerti dengan pola pikir bocah ingusan itu dan sejujurnya dia tidak mau tahu. Bersyukur saja melihatnya dihukum seberat itu.


"Dia benar-benar pantas mendapatkannya. Biar dia kapok jahatin orang!" Dengus Dira puas.

__ADS_1


__ADS_2