
Namun pikiran tersebut segera berlalu karena mereka semua menunggu Aish mengucapkan sesuatu. Alhasil Aish menjadi gugup karena tubuhnya dibanjiri banyak pasang mata.
"Ngomong meong, jangan diem." Desak Dira gemas melihat ekspresi lambat Aish.
Aish tersadar dari kejutannya. Mengangkat kelopak matanya untuk melihat langsung ke mata habib Khalid, tangannya terkepal kuat menahan emosi yang berayun di dalam hatinya.
"Aku pikir itu bukan kecerobohan semata. Dia pasti sengaja melakukannya untuk menyusahkan aku. Kalau enggak, kenapa dia memintaku untuk membersihkan kamar mandi umum 3 kali berturut-turut! Tidak hanya itu saja, tapi dia juga memintaku untuk membersihkan dinding kamar mandi yang tinggi-tinggi dan sulit untuk dijangkau. Jika aku tidak berhati-hati saat membersihkan dinding itu, kaki ku pasti akan tergelincir karena lantai kamar mandi yang licin. Dan aku yakin semua orang pasti mengetahui kebenaran ini bila lantai kamar ini cukup licin dan bisa saja jatuh jika tidak berjalan hati-hati. Karena terlalu memperhatikan pijakan kaki, fokus ku pada dinding agak teralihkan sehingga tanganku jadi lecet. Meskipun bukan luka besar dan darah tidak bercucuran, rasanya tetap sakit dan perih." Mengambil nafas singkat, dia melanjutkan kembali ucapannya." Dan setelah semua yang dia lakukan kepadaku anehnya dia masih memintaku untuk membersihkan kamar mandi umum lagi! Aku tahu ini adalah hukuman dan aku juga tidak mengelak hukuman ini. Buktinya, aku dan kedua temanku masih menjalani hukuman ini. Tapi bukankah akan sangat keterlaluan jika dia memintaku untuk membersihkan kamar mandi umum yang besar dengan permintaan yang berlebihan? Padahal logikanya kamar mandi umum harusnya dikerjakan lebih dari satu orang melihat ukurannya yang besar. Tapi mengapa dia terus mendesak ku untuk membersihkan kamar mandi umum terus? Kenapa dia tidak memintaku untuk membersihkan kamar mandi pribadi juga jika dia memang tidak berbuat jahat kepadaku?! Habib Thalib, maaf, mungkin kata-kata ku terlalu keras untuk ukuran mu tapi aku begini juga karena anak didikan mu yang terhormat. Jadi aku mohon, tolong berikan aku penjelasan untuk semua yang dia lakukan kepadaku. Aku tidak membutuhkan maaf ataupun air mata sok penyesalannya, karena jika itu bisa memuaskan ketidakpuasan hati, maka hukuman tidak dibutuhkan sama sekali di tempat ini!" Tegas Aish mengakhiri ucapannya dengan dada gemuruh.
Karena dia memintanya berbicara, maka Aish tidak akan memendam keluh kesah hatinya di depan habib Khalid. Aish ingin tahu apa yang bisa dilakukan habib Khalid kepada gadis munafik itu pikirnya.
Kata-kata Aish memang telah mempengaruhi perhatian para penonton. Mereka juga bertanya-tanya mengapa Khalisa melakukan itu, apakah disengaja atau tidak, harus ada alasan yang jelas dalam masalah ini. Namun tindakan Khalisa jelas membuat beberapa orang senang karena dengan begitu Aish bisa diberi pelajaran agar tidak membuat masalah lagi.
Setelah kata-kata penuh emosi itu meledak dari mulutnya, Aish tanpa sadar mengalihkan wajahnya tak mampu memandang wajah sang habib. Hatinya terlalu payah tidak bisa menahan gelora hati yang bergejolak di dalam hatinya. Dia tidak mampu melihat wajah mempesona nan meneduhkan milik sang habib.
Sementara itu habib mengernyit melihat penghindaran Aish yang tidak tersamarkan. Dia menghela nafas panjang sebelum beralih menatap lantai di bawahnya.
"Sebelumnya dia tidak membantah kecerobohan ini, namun setelah mendengarkan penjelasan dari Aish, aku pikir ini bukan lagi disebutkan sebagai tindakan kecerobohan melainkan sebuah kesengajaan. Seorang staf kedisiplinan asrama putri berani menargetkan juniornya ketika sedang menjalankan hukuman atau tidak, sangsinya...aku tidak perlu menyebutkan kepada kalian. Hanya saja, karena aku sudah di sini maka masalah ini secara alami akan ku selesaikan sendiri."
__ADS_1
Begitu habib Khalid berbicara, Khalisa langsung merasakan hawa dingin di dalam hatinya. Matanya melotot shock dengan bayang-bayang rasa takut di dalam hatinya. Mengepalkan kedua tangannya takut, dia bertanya-tanya apakah dirinya telah meninggalkan kesan yang begitu buruk di mata habib Khalid?
Bukankah semua ini adalah ketidaksengajaan, namun mengapa habib Khalid memihak Aish?
"Khalisa, apakah kamu tidak ingin mengatakan sesuatu untuk masalah ini?" Tanya habib Khalid tanpa emosi.
Khalisa menghirup udara dingin.
"Aku...aku benar-benar tidak sengaja, habib. Aku mengakui bahwa aku ceroboh tapi aku sungguh tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya memintanya dengan santai membersihkan kamar mandi umum karena kedua temannya sibuk membersihkan kamar mandi pribadi, habib. Aku...aku tahu jika aku salah tapi aku sungguh tidak bermaksud apa-apa melakukannya." Jawab Khalisa sambil menangis terisak dengan nada suara memohon.
"Munafik banget jadi orang." Bisik Dira gatal ingin sekali menyingkirkan jilbab yang menutupi kepala Khalisa.
"Diem, Dir. Lagi serius, nih." Balas Gisel tak puas.
Dira memutar bola matanya jengkel tapi masih menurut untuk menutup mulutnya.
Sama seperti Gisel, dia juga penasaran melihat pilihan bijaksana apa yang akan habib Khalid lakukan terhadap masalah ini.
__ADS_1
"Ini bukan penjelasan yang ingin aku dengar, melainkan sebuah alasan yang ingin kamu katakan." Habib Khalid menggelengkan kepalanya membantah.
Menyadari waktu sudah tidak pagi lagi dan khawatir bila luka Aish terinfeksi, habib Khalid dengan bijaksana menyelesaikan masalah di tempat.
"Tidak habib-"
"Pertama, kamu harus keluar dari staf kedisiplinan asrama putri." Begitu suara ini jatuh, para santriwati langsung berdengung kaget tapi tidak mempertanyakan keputusan sang habib.
"Sebagai seorang staf kedisiplinan kamu tidak menjalankan tugasmu dengan benar dan malah menyalahi tugasmu. Ini tidak benar dan kamu dikeluarkan dari kedisplinan asrama. Kamu harus tahu bila pondok pesantren tidak membutuhkan orang yang sombong. Kedua, kamu berbohong kepada ku dan yang lainya, untuk hukuman ini aku akan menyerahkannya kepada ustadzah Ayu selaku pengurus kantor asrama putri. Ustadzah Ayu juga akan bertanggung jawab atas penjelasan mu yang masih belum jelas, jika kamu tidak mengatakannya maka pondok pesantren tidak punya pilihan selain memotong poin mu. Dan terakhir untuk kalian bertiga," Habib Khalid menyapu Aish, Dira, dan Gisel dengan singkat sebelum kembali melihat lantai.
"Pergilah ke klinik pondok pesantren untuk mendapatkan obat dan sisanya tunggu panggilan dari ustazah Ayu untuk masalah ini."
Dira dan Gisel langsung bersemangat mendengarkan perintah habib Khalid, dan mereka bahkan kian bersemangat saat mendengar berbagai macam hukuman yang Khalisa terima. Di dalam hati mereka tertawa terbahak-bahak tapi ekspresi di wajah mereka terlihat sangat kalem.
Aish mengangguk ringan tidak berani melihat ke arah habib Khalid.
"Terima kasih, habib." Ucapnya sopan sembari menahan debaran jantungnya yang tengah menggelora dalam euforia manis di dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...
ðŸ¤