
Ayah menoleh ke sampingnya, memberikan gestur 'silakan' kepada Kakek untuk berbicara terlebih dahulu. Kakek menganggukan kepalanya. Dengan wajah serius dan berseri, Kakek mengangkat tangan tuanya untuk memegang pundak habib Khalid.
"Nak, Aish bagiku adalah cucu tersayang sekaligus putri terkasih di dalam hidupku. Dia adalah warna untukku. Bila dia bersedih maka aku pun akan lebih bersedih untuknya, bila dia gembira maka aku pun lebih gembira darinya. Aish memiliki banyak kekurangan yang tak dapat ku jabarkan satu persatu. Dia mudah marah, keras kepala, dan sulit mengalah. Tiga poin ini saja merupakan ujian yang tak dapat diremehkan oleh dirimu. Namun ketahuilah bahwa karakter itu dapat tumbuh di dalam diri Aish karena pengalaman hidup yang telah dialami hingga sebesar ini. Terlepas dari semua itu, aku mengakui bahwa dia penuh akan kekurangan, dapat bersanding dengan dirimu adalah murni karena kuasa Allah subhanahu wa ta'ala. Allah sangat tahu betapa rumit gadisku ini. Nak, dapatkah aku bertanya sekali lagi kepadamu? Dengan segala kekurangan dan kelebihan di dalam diri Aish, maukah engkau menjadikan Ais sebagai bidadari duniamu?" Di balik tubuh ringkih Kakek, dia berusaha berdiri lurus dan kokoh di hadapan sang habib. Menggunakan nada setegas mungkin untuk mendapatkan jaminan kebahagiaan cucu tersayangnya di masa depan.
Di dunia ini dia telah lama memasrahkan kehidupan Aish kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Dan ketika Allah mengirimkan sosok sang habib dalam kehidupan cucunya, sang Kakek berharap bila langkah kaki Aish selanjutnya dipenuhi oleh tawa, canda, dan keceriaan yang tak sempat dirasakan secara leluasa selama ini. Dia berharap bahwa ketika dirinya sudah tak ada di dunia ini Aish tidak akan hidup dalam kesepian terus menerus. Dia memiliki sang habib, sosok laki-laki tampan yang akan menjadi sandaran terbaik dan paling kokoh di dunia ini.
Dengan mata tegas dan nada suara meyakinkan, sang habib balas berbicara.
"Demi Allah, isi hatiku hanya Allah yang tahu. Sungguh besar keinginanku untuk membahagiakan Aish. Dan aku sungguh yakin dengan pilihan ku ini. Seperti yang Kakek ketahui bahwa rasaku untuknya tak pernah berubah semenjak bertahun-tahun yang lalu. Jarak dan janji yang memisahkan kami malah membuatku semakin mendamba juga merindukannya. Jangankan menjadi bidadariku di dunia ini, demi Allah, aku ingin menjadikannya sebagai wanita Surgaku di akhirat kelak. Aku hanya menginginkan Aish, baik di dunia maupun di akhirat. Kecuali Aish, aku tak menginginkannya." Ucapkan habib bersungguh-sungguh.
Jawaban sang habib segera menggetarkan hati para pendengar. Mereka sungguh dibuat takjub dan kagum dengan jawaban tegas sang habib. Selain itu mereka juga bertanya-tanya siapakah gerangan wanita yang telah berhasil membuat sang habib jatuh sejatuh-jatuhnya hingga tak mampu berpaling darinya?
Beberapa orang dari pondok pesantren yang mengetahui siapa wanita itu jelas tidak banyak berbicara tapi kekaguman tak pernah lepas dari binar mata mereka. Sementara untuk orang-orang yang tidak mengetahui siapa wanita itu jelas sangat penasaran dan sungguh tak sabar melihat ataukah luar biasa wanita itu. Tentu saja, wanita itu sangat luar biasa. Kalau tidak, bagaimana mungkin sang habib jatuh hingga ke titik ini?
"Masya Allah, sungguh wanita yang beruntung..."
"Aku penasaran seperti apa rupa wanita itu?"
"Apakah dia seorang Syarifah? Tidak mungkin, walaupun dia berasal dari kalangan keluarga habib Alamsyah, lalu kenapa aku tidak melihat gelar nasabnya di surat undangan?"
__ADS_1
"Mungkin bukan seorang Syarifah, tapi wanita yang luar biasa. Bisa jadi dia sangat cantik?"
Segala macam diskusi terdengar di antara kerumunan. Habib Khalid maupun Kakek dan Ayah tak terganggu sama sekali dengan diskusi mereka. Seolah tuli, mereka mengabaikan suara-suara itu.
"Alhamdulillah... Aku senang mendengar jawaban darimu. Aku lega karena kamu bersedia untuk membawa cucu tersayang ku menjalankan ibadah terpanjang di dunia ini dan menyempurnakan setengah agama." Setelah habib Khalid memberikan jawaban pasti, barulah Kakek bisa tersenyum lebar. Senyumnya sangat lebar dan cerah, seolah batu yang telah membebani hatinya menguap entah kemana.
Setelah Kakek berbicara, kini giliran Ayah yang berbicara. Di hadapan sang habib, Ayah agaknya sangat malu. Dia pikir habib Khalid akan meremehkannya, tapi yang mengejutkan malah sang habib bersikap sangat sopan dan menghormati selaku Ayah Aish.
"Aku bersalah kepadanya dan kepada Mamanya. Dia memiliki banyak luka di dalam hati. Sebagai seorang Ayah yang tak bertanggung jawab, aku hanya memohon satu permintaan kepadamu. Tolong...tolong jangan bawa wanita lain ke dalam rumah tangga kalian. Dia pasti memiliki trauma mendalam terhadap keputusanku untuk membawa wanita lain ke dalam keluarga. Sungguh aku mengerti bahwa sudah sewajarnya laki-laki menikahi lebih dari satu wanita untuk memperbanyak keturunan, apalagi kamu yang berasal dari nasab mulia. Aku mengerti ini, namun aku memohon dengan segala keegoisan ku, tolong jangan kecewakan putriku. Dia harus bahagia, dia berhak bahagia, dia sudah sepantasnya bahagia. Aku akan merasa sangat bersalah bila dia terluka lagi dengan rumah barunya. Maka kumohon kepadamu wahai habib, tolong jaga putriku, jadikanlah dia sebagai satu-satunya ratu di dalam rumah tangga kalian dan penguasa di dalam hatimu." Ayah memohon dengan suara lirih, bercampur dengan rasa penyesalan yang tak bisa ditutupi dari dalam matanya.
Setelah melalui semua itu barulah dia menyadari bahwa apa yang dia lakukan selama ini salah dan apa yang telah dia perbuat sungguh telah membuat Aish terluka. Dan hal yang paling menyakitkan di dalam hatinya adalah, sebagai seorang Ayah, dirinya tak mampu memberikan kasih sayang yang adil terhadap putrinya yang lain hanya karena rasa cintanya kepada sang istri. Bila waktu bisa diputar kembali, dia akan menebus hari-hari penderitaan yang dilalui oleh Aish dengan perhatian yang penuh akan kasih sayang.
"Ayah. Seperti yang kukatakan sebelumnya. Tidak hanya menjadikan Aish sebagai bidadari dunia, namun aku juga ingin menjadikannya sebagai wanita Surgaku. Artinya, aku tidak akan mengambil wanita lain ke dalam rumah tangga kami karena aku sungguh sangat cukup dengan Aish seorang. Poligami memang dibolehkan, agama kita tidak melarangnya asalkan memenuhi syarat dan dapat berlaku adil. Tapi aku sungguh tak bisa melakukan itu. Aku tak dapat memberikan keadilan kepada wanita lain sebab Aish adalah satu-satunya wanita yang kuinginkan. Jangankan berpaling kepada wanita lain, hanya memikirkannya saja membuat hatiku sangat sakit. Aku sungguh tak mampu, tak bisa berpaling dan tak dapat berlaku adil kepada yang lain. Bila seorang laki-laki tidak bisa memenuhi syarat, maka Allah mengatakan bahwa alangkah baiknya laki-laki itu hanya menikahi satu wanita. Sebab satu wanita saja memiliki banyak amanah dan ujian di dalam dirinya. Jadi dalam hidup ini Aish adalah bidadariku, dan dalam hidup selanjutnya dia adalah wanita Surgaku. Jika bukan dirinya, aku sungguh tidak menginginkannya. Demi Allah, hatiku sudah sepenuhnya dimiliki oleh Aisha Rumaisha, belahan jiwaku." Rangkaian kata-kata ini sekali lagi mengundang pujian dari banyak orang di sekeliling. Terutama untuk para perempuan yang memiliki reaksi paling besar. Beberapa dari mereka merasa patah hati sebab tidak memiliki peluang.
Memangnya siapa yang tidak mau menikah dengan seorang habib, mengandung dan membesarkan keturunan mulia, jelas ini adalah dambaan banyak wanita. Apalagi habib Khalid terlahir tampan dan mapan, kelebihan ini memiliki godaan yang paling fatal di dalam hati. Tapi setelah mendengar jawaban serta pengakuan langsung dari sang habib, mereka segera berkecil hati. Tampaknya tidak ada ruang untuk mereka.
Ayah mengusap sudut matanya yang basah. Ada rasa sakit juga terharu. Dia sungguh tidak menyangka bahwa orang yang menjadi sumber kebahagiaan dan berjanji akan melindungi putrinya justru orang lain, bukan dirinya sebagai seorang Ayah. Tapi dia sangat terharu karena kebahagiaan putrinya langsung dijamin oleh sang habib. Dia sungguh tidak khawatir dengan masa depan putrinya bila laki-laki itu adalah habib Khalid.
"Terima kasih...aku sekarang bisa tenang berpikir. Janji yang kau buat akan selalu terukir di dalam kepalaku, Nak. Jadi jangan coba-coba mengingkarinya." Kata Ayah berpura-pura garang.
__ADS_1
Habib Khalid tersenyum lega.
"Allah adalah saksinya." Katanya bersungguh-sungguh.
Kemudian Ayah dan Kakek saling menatap, tersenyum sumringah, mereka berdua lalu membuka jalan untuk habib Khalid, lalu mempersilakannya masuk ke dalam gedung tempat acara di lakukan.
"Mari, Nak. Masuklah." Kata Ayah mempersilahkan.
Habib Khalid mengambil nafas panjang. Setelah terbebas dari Ayah dan Kakek, kali ini dia akan menghalalkan Aish di depan banyak orang. Betapa gugup dirinya sekarang, tapi dia sama sekali tidak merasa gentar. Justru dia sangat senang karena hari ini di bawah pengawasan banyak orang dia akan mengklaim Aish sebagai miliknya. Hanya miliknya seorang.
"Bismillahirrahmanirrahim, ya Allah, hari ini, ku serahkan semuanya kepada-Mu wahai yang Maha Romantis. Dan hari ini ku harap setiap langkah yang ku ambil bersama istriku dijaga dalam lindungan-Mu, dan senantiasa mendapatkan ridho dari-Mu ya Allah." Bisik sang habib sembari mengangkat kaki kanannya melangkah ke dalam gedung.
Begitu masuk ke dalam gedung matanya segera dimanjakan oleh berbagai macam hiasan khas pernikahan yang sangat cantik juga indah. Semuanya dipenuhi oleh kilau bunga dan didominasi adalah bunga mawar merah, bunga yang habib Khalid gunakan untuk menggambarkan perasaannya kepada sang belahan jiwa. Bunganya merah pekat, mekar penuh dan memiliki wangi yang manis tapi tidak membuat mual. Saat mendekor gedung ini, habib Khalid secara khusus meminta mereka untuk menggunakan berbagai macam bunga segar juga menarik untuk acara bahagianya, khususnya bunga mawar merah yang memiliki arti terdalam di dalam hati sang habib.
"Mempelai pria sudah datang. Mari duduk karena acara akan segera dimulai." Pembawa acara langsung mengarahkan habib Khalid duduk di atas mimbar.
Segera setelah itu semua tamu undangan duduk di kursi masing-masing, mereka secara alami diam menyimak seorang hafidz yang diminta untuk membuka acara sakral tersebut dengan membaca sebuah ayat-ayat suci Al-Qur'an yang mengutip tentang sebuah pernikahan. Ayat-ayat ini biasanya dibaca saat acara pernikahan, sebagai bentuk betapa bersyukurnya kedua pengantin dipertemukan dalam sebuah rumah tangga.
Suara merdu nan lembut yang mengalun indah di pendengaran semua orang bagaikan embun sejuk yang memiliki rasa menenangkan hati juga jiwa. Seolah-olah embun sejuk nan menyegarkan itu membasuh hati para jiwa yang mengharap ridho Sang Maha Kuasa.
__ADS_1
Setelah membaca Al-Qur'an, acara akad pun akhirnya bisa dimulai.