
"Kenapa kamu masih ada di sini, Aira? Tadi Umi meminta kamu pergi ke halaman belakang untuk mengambil lele yang sudah ditangkap agar segera dibersihkan." Suara menyebalkan Nadira mengganggu pendengaranku.
Gadis ini selalu saja membuat masalah kepada ku. Hari ini saja dia memintaku melakukan banyak pekerjaan. Seolah-olah aku adalah pembantu di rumah ini.
Aku menoleh ke arahnya, tersenyum semanis mungkin,"Aku baru saja menghabiskan air minum ku. Segera, aku akan pergi mengambil lele ke halaman belakang."
Dia mengangguk,"Cepatlah, Umi sudah menunggu kamu di belakang."
Aku pura-pura mengangguk mengerti dan dengan paksa membawa kakiku ke halaman belakang. Ugh, udara di sini sangat menjengkelkan. Ada bau lumpur dan amis dimana-mana, sangat jorok.
"Ah...tapi badanku agak gerah. Apakah obatnya mulai bereaksi?" Ini lebih cepat dari terakhir kali aku merasakannya.
Obat ini sangat ampuh dan berbahaya. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ini agar rencanaku tidak terganggu. Takutnya karena terlalu banyak obat, reaksinya akan membuatku kewalahan hingga tidak bisa berpikir jernih.
Jadi aku buru-buru mengambil seember ikan lele tanpa mengucapkan salam kepada Umi dan langsung bergegas kembali ke dapur. Sesampai di dapur, badanku sudah berkeringat deras dan tenggorokanku terasa kering. Setiap kali kain baju yang ku kenakan menggesek kulitku, tubuhku akan langsung bergetar seperti mendambakan sentuhan yang lebih.
"Akh..." Kepalaku mulai pusing.
Tanpa menunggu waktu lagi aku segera pergi ke sebuah kamar. Terakhir kali aku melihat habib Thalib keluar dari kamar itu. Aku pikir dia tinggal di sana.
Cklak
Pintunya tidak terkunci. Di dalam ruangan tidak ada yang spesial kecuali sebuah jas yang digantung di samping meja rias.
"Habib Thalib...hahaha..." Aku mengambil jas itu, membawanya ke dalam pelukan ku dan memeluknya erat. Wangi khas milik habib Thalib langsung merasuk ke dalam indra penciuman, membuat kepalaku pusing hingga menciptakan sebuah ilusi bahwa habib Thalib kini tengah memelukku erat.
"Manisnya..."
...*****...
"Gis, kamu perhatiin nggak tadi kalau ada sesuatu yang salah sama Aira? Wajahnya merah dan nafasnya terputus-putus seperti orang yang kelelahan. Apakah dia baik-baik saja?"
Dira, Gisel dan Umi sedang ada di pinggir kolam ikan lele. Tugas mereka adalah mengumpulkan semua ikan lele yang dilempar ke pinggir kolam. Sedangkan Umi pergi ke arah lain dan membicarakan sesuatu dengan seorang santri.
__ADS_1
Gisel diam menunduk menatap pinggiran kolam dan tidak menyadari jika Dira baru saja berbicara dengannya.
"Gis, Gisel?!" Panggil Dira sambil menepuk pundak Gisel.
"Eh...kenapa, Dir?" Jawab Gisel gelagapan.
Dira menatap sahabatnya aneh. Semenjak mereka datang ke kolam, tingkah Gisel tiba-tiba menjadi aneh. Dia jadi tidak banyak bicara dan suka melamun. Sebenarnya apa yang telah membuat sahabatnya seperti ini?
Apakah karena Danis?
Tapi apakah iya?
Setahunya Gisel tidak pernah menceritakan apa-apa tentang Danis dan tidak pernah menunjukkan ketertarikannya kepada Danis- tunggu, mungkin pernah tapi itu sudah lama karena Danis tidak pernah terlihat lagi selama beberapa bulan ini. Dan hari ini, mereka kebetulan bertemu di sini.
"Kamu kenapa sih, Gis? Dari tadi kamu ngelamun terus?" Tanya Dira tidak mengerti.
Gisel menggelengkan kepalanya menolak untuk menjawab. Dia memang memiliki beban pikiran tapi tidak bisa menjelaskannya sekarang kepada sang sahabat. Waktunya tidak tepat.
"Aku cuma kecapean aja. Tadi kamu ngomong apa?" Tanyanya sambil menyapu pandangannya menatap ke suatu arah.
"Aira tadi agak aneh. Mukanya merah banget dan suara nafasnya agak terputus-putus seperti orang yang kelelahan. Apa dia baik-baik saja, ya?" Mau nggak mau Dira memikirkannya.
Dia memiliki hati, dan dia khawatir terjadi apa-apa kepada Aira. Mau bagaimanapun Aira adalah manusia dan kenalan lama, jadi dia agak khawatir terjadi apa-apa kepadanya.
"Aku tadi sempat memperhatikannya. Dia mungkin kelelahan terlalu banyak bekerja. Kamu tahu sendiri kan Umi dan Nadira memintanya melakukan banyak pekerjaan siang ini?"
Jawab Gisel tidak terlalu memikirkannya. Ah, pikirannya sedang tidak fokus. Karena kepalanya saat ini didominasi oleh nama Danis. Dia bertanya-tanya kapan Danis kembali ke pondok pesantren, dan selama tidak kembali ke pondok pesantren, apakah Danis pernah memikirkan tentang dirinya sedikit saja?
Tapi dari semua pertanyaan yang Gisel mau tahu jawabannya adalah apakah Danis mendengar rumor yang beredar baru-baru ini di pondok pesantren?
Tentang dirinya yang berkhianat dan tidur dengan pacar sahabatnya sendiri. Apakah Danis mendengar rumor ini?
Lalu apa tanggapannya?
__ADS_1
Apakah dia marah dan cemburu, atau mungkin dia tidak peduli sama sekali?
Dia tidak bereaksi apa-apa terhadap rumor ini selain rasa jijik yang timbul di hati. Mungkin saja kan, tidak ada yang tahu.
Ya Allah, aku hanya memohon kepada-Mu, agar hatiku dilapangkan dan kesabaranku diluaskan. Aku percaya bahwa Engkau telah memiliki laki-laki yang pantas dan mau menerima diriku apa adanya. Batin Gisel tenggelam dalam kesedihan.
...*****...
"Wajah kak Khalid merah banget, Kakak nggak apa-apa kan?" Aku mengambil beberapa lembar tisu kering di atas meja dan memberikannya kepada kak Khalid.
Kak Khalid langsung mengambil tisu dari tanganku dan buru-buru mengusapnya di wajah.
Wajah kak Khalid sangat merah dan dia berkeringat deras tampak sangat tidak nyaman. Mungkinkah ruangan ini terlalu panas untuknya?
Tapi kenapa menurutku ruangan ini tidak terlalu panas dan malah cukup sejuk karena ada banyak pohon di luar, aneh.
"Apakah kak Khalid baik-baik saja? Apakah ada sesuatu yang tidak nyaman di tubuh kak Khalid?" Tanya aku khawatir kepadanya.
Mungkinkah dia tiba-tiba jatuh sakit?
"Tidak panas," Gumam ku ketika menyentuh tangannya.
Kak Khalid tidak demam karena badannya agak dingin. Tidak, memang ada sesuatu yang salah dengan kekasihku. Tubuh kekasihku selalu memiliki suhu hangat yang sangat nyaman ketika disentuh terlepas apakah itu musim hujan atau musim panas. Kak Khalid tipe orang yang seperti ini.
"Jangan... Jangan sentuh aku Aish." Suara kak Khalid serak.
Dia segera menepis tanganku dan bangun dari tempat duduknya.
Aku malu tiba-tiba ditolak oleh kak Khalid. Biasanya Kak Khalid tidak akan menolak sentuhan dariku. Apa karena ada Kakek?
"Habib Thalib, kamu sepertinya sedang sakit?" Kakak juga memperhatikan ada yang salah dengan kekasihku.
Um, untunglah Kakek tidak mengomentari sentuhanku kepada kak Khalid barusan. Meskipun kami sudah bertunangan, tapi bukan berarti kami sudah halal untuk saling menyentuh.
__ADS_1
"Badanku agak gerah...dan sedikit tidak nyaman." Jawab kak Khalid sembari menatapku.