
Tanpa berpikir panjang, Aish menganggukkan kepalanya dengan bersemangat. Malam ini, hatinya terasa begitu manis. Semua kata-kata yang dirangkai indah oleh suaminya, berhasil membuat hatinya jatuh sejauh-jauhnya, dia tidak punya jalan untuk kembali dan sungguh dia rela menapaki jalan ini bersama sang Habib, laki-laki yang dia cintai.
"Aku mau, mas. Aku sungguh bersedia." Jawabnya menekan.
Sang Habib tersenyum puas,"Bahkan sekalipun kamu tidak mau, aku tidak akan pernah melepaskan kamu ataupun membiarkan kamu pergi dari diriku. Ingat, aku ini adalah laki-laki yang posesif. Aku sangat posesif terhadap dirimu. Mungkin terdengar mengerikan, tapi rasa posesif ku ini adalah bentuk cinta yang sungguh dalam dan luas di dalam hati ini."
Kata posesif terkadang banyak membuat orang mengeluh ataupun ketakutan. Mereka mungkin lupa atau tidak tahu bahwa rasa posesif muncul terkadang bukan karena ambisi tapi karena keserakahan atas cinta yang begitu dalam. Posesif bukan lah gangguan atau penyakit selama tidak melakukan hal-hal yang kejam. Jika sampai melakukan kekerasan, maka itu mungkin bukan cinta. Sebab cinta tak akan bisa menyakiti objek yang dicintai. Rasanya akan sangat menyakitkan.
"Aku tidak akan lari kemanapun wahai suamiku. Memangnya ke mana aku bisa berlari disaat kamu adalah duniaku?"
"Hanya kepadaku. Hanya kepadaku, wahai istriku." Tekan sang Habib sambil mencium punggung tangan istrinya.
Akhirnya suasana tegang diantara mereka perlahan meleleh, digantikan oleh perasaan manis yang terus-menerus menguap hingga membuat wajah mereka berdua berseri manis.
"Lelah?" Sang Habib bertanya kepada istrinya sembari membawa kedua kaki istrinya ke atas paha untuk dipijat.
Bagaimana tidak lelah. Mereka berdua terus-menerus berdiri menerima salam para tamu hingga kesulitan mengisi perut. Baginya itu bukan apa-apa sebagai seorang laki-laki, tapi itu akan berarti apa-apa untuk istrinya. Apalagi istrinya menggunakan gaun pengantin yang berat jadi berjam-jam berdiri dengan beban ditubuh membuatnya sangat kewalahan.
Aish malu. Pipinya memanas.
"Tidak lelah, mas." Aish menarik kakinya turun.
Namun sang Habib jangan keras kepala menarik kaki Aish dan memijatnya kembali.
"Biarkan aku memijat kaki kamu. Kalau tidak, kamu pasti tidak bisa berjalan besok." Ancam sang Habib kepada istrinya.
Aish akhirnya menurut. Dia tidak mengatakan penolakan lagi dan dengan patuh membiarkan suaminya memijat. Selamat sang suami memijat, Aish memperhatikan bila sang suami menggunakan minyak bening untuk membalur kakinya. Dari wangi yang menguap itu adalah minyak bunga mawar. Sangat nyaman dan manis wanginya. Aish langsung menjadi rileks.
"Itu... Apakah kamu benar-benar lelah malam ini?" Setengah jam kemudian, sang Habib akhirnya berhenti memijat kaki Aish.
Mendengar pertanyaan sang suami, wajah Aish langsung menjadi merah padam karena malu. Dia tahu apa maksud pertanyaan suaminya.
"Tidak, mas. Aku tidak lelah. Aku...masih kuat." Suara Aish perlahan mengecil.
Jantung sang Habib berdebar keras.
"Lalu... Siapa yang mandi pertama kali?"
Aish langsung menjawab,"Aku...aku saja, mas." Ekspresi panik di wajahnya sangat lucu.
__ADS_1
Sang Habib tersenyum tak berdaya.
"Baiklah. Kamu yang duluan mandi."
"Tapi sebelum mandi, tolong bantu aku melepaskan semua hiasan di kepalaku."
Sang Habib baru menyadari ini. Jadi dia langsung bangun dan membantu istrinya melepaskan hiasan. Tak butuh waktu lama, kepala Aish akhirnya jadi lebih ringan karena sudah tidak ada beban.
"Bolehkah aku melepaskan jilbab mu?" Tanya sang Habib serak.
Telinga Aish langsung panas.
Dengan tertunduk malu, dia menganggukkan kepalanya pelan membolehkan.
Sang Habib mendapatkan persetujuan, dia lalu melepaskan kain jilbab panjang yang melilit Aish dengan detak jantung yang terus menggebu-gebu di dalam dada.
Hingga akhirnya kain putih polos itu benar-benar tersingkir dari kepala Aish, segera, dirinya langsung dibuat takjub dengan rambut panjang hitam legam Aish yang menjuntai dibiarkan tergerai di dalam jilbab.
Bug
Sang Habib menatap ikat rambut coklat yang tiba-tiba jatuh disela-sela kekagumannya. Sepertinya Aish tidak membiarkan rambutnya tergerai, tapi yang ada ikat rambut itu tidak sengaja lepas entah sejak kapan.
Ketika menyentuh rambut panjang istrinya, sang Habib diam-diam menghirup dalam wangi yang menguar ke arah indera penciumannya. Ini wangi rambut istrinya. Wangi buah apel, sangat menyegarkan.
Terpesona olehnya, sang Habib tidak sadar merendahkan kepalanya hingga sejajar dengan wajah manis Aish yang sudah semerah tomat saking malunya. Sang Habib tertegun, lalu tangannya memegang dagu istrinya dan menarik ke atas. Membuat wajah mereka berdua bertemu digaris pandang yang sama.
Seketika, waktu terasa dibekukan di sini. Habib Khalid maupun Aish sama-sama tidak bisa berpaling dari wajah masing-masing, terjebak dalam rasa manis yang terus menerus mengalir ke dalam hati.
"Istriku...aku sangat-"
"Mas Khalid-"
Terpesona, mereka memanggil nama dalam waktu yang bersamaan.
Sontak saja mereka berdua membeku, lalu beberapa detik kemudian mereka tersenyum malu. Memalingkan wajah untuk menutupi rasa malu.
"Apakah mas Khalid ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" Aish secara alami memberikan suaminya kesempatan untuk berbicara. Senyum manis di wajahnya tak pernah hilang dari wajah cantiknya yang memerah.
Sang Habib tidak menahan dirinya. Tangan besarnya terangkat mengusap puncak kepala istrinya sebelum turun menyingkirkan helaian rambut yang nakal menutupi wajah menawan istrinya. Sungguh, berkali-kali diri ini memandang, hatinya tak akan pernah bosan melihat betapa menawan istrinya. Ketika menggunakan jilbab, istrinya memang sangat cantik sampai-sampai dia menggambarkannya sebagai keindahan yang keluar dari dalam lukisan. Tapi saat jilbabnya disingkap, ternyata istrinya jauh lebih cantik dari yang dia bayangkan. Ini sangat cantik, indah dan menawan pada saat yang sama. Dengan keindahan seperti ini, bagaimana mungkin matanya bisa berpaling?
__ADS_1
"Masya Allah...segala puji bagi Allah yang telah menciptakan wanita seindah dirimu sebagai pendamping hidupku." Puji sang Habib tulus yang langsung membuat istrinya salah tingkah.
Banyak laki-laki yang memuji kecantikannya, tapi harus diakui bahwa suaminya adalah satu-satunya laki-laki di dunia ini yang berhasil membuat hatinya berantakan, tenggelam dalam guci madu.
Aish tersenyum malu. Dengan berani dia menyentuh tangan suaminya yang ada di dagunya, menarik tangan itu dan menggenggam lembut. Di tengah-tengah rasa malu dirinya, dia beranikan diri untuk menatap langsung wajah tampan suaminya yang mendebarkan hati. Mata aprikot nya berkedip basah tanpa menyembunyikan keinginan dirinya. Sinar lembut di mata itu menunjukkan bahwa betapa dia sangat mencintai laki-laki tampan di depannya ini.
"Dan aku sungguh sangat bersyukur, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan laki-laki sebaik dirimu sebagai pemimpin hidupku, wahai suamiku." Gumam Aish langsung membuat hati sang Habib meleleh seperti karamel.
Sang Habib tak bisa menahan keinginan hatinya. Dia mengucap punggung tangan istrinya penuh kasih. Meskipun dirinya dibuat terpesona, tapi dia tidak lalai. Dia masih ingat bahwa mereka harus melewati beberapa tahapan untuk bersama sepenuhnya.
"Kita harus segera membersihkan diri agar bisa beribadah kepada Allah." Pengingat sang Habib kepada istrinya.
Aish sangat malu!
"I-iya, aku akan mandi duluan." Aish bangun dari duduknya sambil dipegang oleh sang Habib.
Sang Habib juga membantu istrinya menggulung gaun pengantin panjang di belakang untuk memudahkan langkah istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi sang Habib berlari kecil mengambil mukena dan baju ganti yang telah disiapkan di dalam lemari untuk dikenakan Aish, lalu memberikannya di depan pintu kamar mandi.
"Panggil aku bila kamu membutuhkan sesuatu." Pesan sang Habib kepada istrinya.
"Iya, mas."
Setelah Aish masuk ke dalam kamar mandi, dia berbalik membersihkan sekitaran karpet di dekat lemari, lalu menggelar sajadah menghadap kiblat yang akan digunakan untuk melaksanakan shalat sunnah 2 rakaat. Sebelumnya mereka sempat shalat isya di tempat acara, lalu melanjutkan kembali acara hingga jam 11.00 malam. Terbilang lama, tapi dengan tamu sebanyak itu, keluarga malah ingin membuat acara lagi untuk tamu-tamu yang belum sempat datang tapi langsung ditolak dengan tegas oleh sang Habib. Pikirnya cukup sekali saja karena dia tidak ingin membuat istrinya kelelahan.
Beres menggelar sajadah, dia mengambil baju ganti dari dalam lemari untuk dia kenakan nanti. Setelah itu dia memandangi kamar pengantin ini, melihat apakah ada sesuatu yang kurang ataupun berantakan, tapi semuanya baik-baik saja. Bodohnya dia mengulanginya terus menerus meskipun mendapatkan hasil yang sama. Salahkan dirinya yang terlalu gugup hingga tak bisa berpikir dengan tenang. Gugup, lalu berkeliling mengecek vas bunga mawar yang sengaja ditaruh di sudut kamar. Semuanya masih terjaga dengan baik, segar dan harum, dia sangat puas. Memang dia sengaja menyiapkan bunga-bunga ini hanya untuk istrinya seorang. Karena bunga mawar merah terang adalah petunjuk betapa dalam cinta yang dia rasakan kepada Aish. Ini sangat dalam, sepekat warna bunga mawar merah yang ditanami dengan baik.
Menghela nafas lega, sang Habib tidak punya apa-apa lagi untuk disibukkan dan memutuskan untuk duduk. Akan tetapi dia baru saja duduk dan sudah tidak tahan. Dia kemudian berjalan mondar-mandir di dalam kamar untuk menenangkan perasaan gugup dihatinya.
Di dalam hati dirinya terus mengingatkan diri untuk menjadi pemimpin yang baik untuk istrinya, dan bila Allah ridhoi, dia ingin menjadi Ayah yang baik untuk anak-anak yang dilahirkan oleh istrinya tercinta.
Cklak
Suara pintu kamar. Dia sontak menoleh ke arah kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan wajah segar Aish yang kini terbalut mukena putih yang diberikan oleh sang Habib tadi. Jantung sang Habib sekali lagi berdegup kencang. Lagi-lagi dirinya dibuat terpesona oleh Aish.
"Aku sudah selesai, mas." Lapor Aish sembari menundukkan kepalanya.
Sang Habib mengangguk serius.
"Kamu bisa menungguku di sini. Aku akan mandi sekarang." Sang Habib sesungguhnya ingin berlama-lama memanjakan matanya untuk menatap wajah cantik istrimu yang kian menawan setelah menghilangkan jejak make up di wajah. Tapi dia segera menahan diri.
__ADS_1