
Terkekeh,"Tentu saja enak, itu adalah masakanku sendiri. Kalau kamu sangat menyukainya, maka lain kali aku akan memasak. Kamu bisa makan nasi kuning sepuasnya."
Aish kaget.
"Kak Khalid bisa memasak?" Dia mempertanyakan harga dirinya sebagai seorang wanita, bagaimana mungkin habib Khalid yang laki-laki saja bisa memasak sedangkan dirinya yang wanita tidak bisa?!
Dia merasa malu!
"Alhamdulillah bisa. Karena kedua orang tuaku pergi jadi aku harus membiasakan diri untuk mandiri. Ini pekerjaan yang sulit pada awalnya, tapi lama-lama kalau sudah terbiasa pasti terasa ringan dan menyenangkan."
Ah, Aish lupa kalau habib Khalid telah kehilangan kedua orang tuanya bertahun-tahun yang lalu.
"Kakak sangat luar biasa." Kagum Aish.
Kekasihnya ini memiliki terlalu banyak kelebihan. Dia merasa minder sebagai seorang wanita. Tapi diam-diam di dalam hatinya dia tersulut untuk mulai belajar memasak. Dia bertekad untuk membuat habib Khalid kagum untuk kelezatan yang dia buat!
"Em...kak, bolehkah aku bertanya?" Aish mengepalkan tangannya di balik jilbab.
Hatinya berdetak kencang menahan rasa gugup.
"Katakanlah."
Menunduk, dengan suara malu dia lalu bertanya,"Kak Khalid bilang kalau kakak adalah orang pertama yang jatuh cinta kepadaku. Bolehkah aku tahu sejak kapan kak Khalid jatuh cinta kepadaku dan sudah berapa lama perasaan kakak bertahan?"
Habib Khalid menurunkan kelopak matanya memandang sisi pipi kanan Aish yang terlihat merah bagaikan buah persik matang di pohon. Warnanya sangat indah nan cantik, menggoda saraf pertahanan dirinya untuk segera menggigit bibir ranum- habib Khalid langsung mengalihkan matanya, menjauh dari godaan yang membuat hatinya terasa panas terbakar gelora keinginan.
__ADS_1
Menghela nafas berat, dia berusaha menahan dirinya agar tidak kehilangan akal dan pertahanan diri.
Belum saatnya. Ini masih belum. Batin habib Khalid memaku diri sendiri agar tidak kehilangan kendali.
"Benar, aku sudah lama mencintai kamu. Tapi maaf, aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Suatu hari nanti aku akan memberitahumu kapan itu terjadi." Habib Khalid tidak berani menceritakannya sekarang karena itu berkaitan dengan banyak hal yang terjadi di masa lalu.
Tapi pasti, bila sudah saatnya dia akan mengatakannya sendiri kepada Aish. Ini pasti.
"Ah... kalau begitu aku akan menunggunya." Meskipun sedikit kecewa tapi dia sangat senang mendengar penegasan habib Khalid terhadap perasaan yang dia rasakan. Pagi ini berkali-kali habib Khalid mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai Aish sehingga membuat hati Aish melayang ke atas awan. Entah sudah berapa awan yang dia lewati, dia tidak bisa menghitungnya. Namun yang pasti adalah dirinya sangat senang hingga merasa bahwa semua ini bagaikan mimpi.
"Terima kasih. Ayo habiskan. Setelah sarapan kita akan berjalan-jalan sebentar." Ucap habib Khalid membuat Aish langsung tergugah.
Jalan-jalan?
Ke mana mereka berdua akan berjalan-jalan?
Aish memiliki banyak tebakan di dalam hati.
"Em, aku tidak akan meninggalkan sisa." Janjinya dalam suasana hati yang sangat baik.
Dia sudah tidak sabar menunggu kemana habib Khalid akan membawanya pergi!
Astagfirullah, karena terlalu asik berbicara dengan kak Khalid, aku melupakan kedua sahabatku. Semoga mereka berdua tidak marah kepadaku karena belum kunjung kembali ke asrama hingga sekarang. Em... Sebenarnya tidak apa-apa kalau aku tidak kembali ke asrama karena tinggal di sini bersama kak Khalid jauh lebih menyenangkan. Batin Aish tidak mau munafik.
Sekedar duduk dan mengobrol dengan habib Khalid telah membuat hatinya bahagia. Dia merasa sangat puas. Puas hanya dengan bersama habib Khalid, dia tidak lagi kekurangan apapun karena habib Khalid sudah sangat cukup di dalam hidupnya.
__ADS_1
Ya Allah...
Mata Aish perih memikirkan semua yang telah dia lewati di pondok pesantren untuk mengejar habib Khalid. Semuanya terjadi karena izin Allah, semua ini adalah kehendak Allah untuknya dan Aish sangat mensyukurinya.
Ya Allah...ya Robb, terima kasih untuk kebahagiaan ini. Aku menyadari betul bahwa diriku adalah orang yang penuh dosa, memiliki banyak celah dan kekurangan, dan sering lalai mengingat kepada-Mu. Tapi walaupun begitu Engkau tidak pernah meninggalkan diriku dan selalu tetap bersama diriku. Engkau kirimkan laki-laki yang ku dambakan, padahal laki-laki itu berasal dari tempat yang jauh untuk kugapai. Namun dengan restu-Mu, ya Allah, cintaku akhirnya terbalaskan. Alhamdulillah.... Betapa bahagianya aku, ya Allah... Batin Aish bersyukur.
...******...
Aira pulang dari kantor staf pondok pesantren. Ketika sedang berjalan menuju asrama, dia tidak sengaja melihat Aish dan habib Khalid di sawah. Langkahnya spontan berhenti, dengan kedua mata melebar kaget, dia melihat bila sang habib memegang tangan Aish. Tidak, lebih tepatnya mereka berdua berpegangan tangan bersama-sama selayaknya orang pacaran. Perih. Hatinya terasa perih melihat orang yang dia sukai ternyata berhubungan baik dengan kakaknya. Jika dilihat baik-baik mungkin hubungan mereka berdua sudah jauh dari kata kenalan biasa, mungkin saja mereka berdua sudah pacaran. Memikirkannya saja membuat Aira sakit hati.
"Apakah itu kak Aish dan habib Thalib?"
Hatinya seolah sedang diremas oleh tangan tak kasat mata, sakit dan perih, bahkan bernapas saja rasanya sulit.
"Aku... Apa yang aku lihat barusan?" Aira memegang dadanya yang sakit.
"Kenapa habib Thalib bisa bersama dengan kak Aish? Apakah aku salah lihat tadi?" Dia tiba-tiba meragukan penglihatannya sendiri.
Tapi baik hati dan pikirannya menolak suara di mulutnya. Hati dan pikirannya berkata bahwa apa yang dia lihat itu memang benar adanya. Baik habib Khalid maupun Aish ternyata memiliki hubungan yang sangat dekat. Hubungan yang jauh lebih dekat dari dugaannya selama ini.
"Bagaimana bisa mereka bersama?! Kak Aish adalah manusia yang sia-sia. Dia bodoh dan tidak berguna, selain wajah yang cantik, dia tidak memiliki apa-apa di dalam dirinya. Tapi kenapa habib Thalib bersama dengannya? Memang apa yang dilihat oleh habib Thalib kepada kak Aish? Tidak ada yang spesial dari kakakku itu!" Hatinya terbakar amarah juga cemburu, dia tidak mau menerima fakta bahwa mereka berdua berakhir bersama.
Karena habib Khalid memiliki banyak pelamar dan mengejar yang jauh lebih baik daripada Aish. Kalau berbicara cantik, ada kok yang lebih cantik dari Aish. Berbicara tentang ilmu dan adab, di sini banyak sekali yang jauh lebih baik dari Aish. Tapi kenapa harus Aish?
Di antara semua wanita itu mengapa harus Aish?!
__ADS_1
Inilah yang tidak dimengerti oleh Aira.
"Enggak...ini enggak mungkin. Kak Aish pasti telah melakukan sesuatu kepada habib Thalib!" Aira menggaruk kepala yang tidak gatal sambil berpikir keras cara apa yang telah dilakukan oleh Aish hingga membuat habib Thalib mau memegang tangannya.